Harga Timah Menguntungkan Indonesia, Nikel Masih Dibayangi Surplus Pasokan



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan harga logam industri global membawa dampak yang berbeda terhadap Indonesia. Sebagai salah satu produsen utama timah dan nikel dunia, kenaikan harga timah menjadi sentimen positif bagi penerimaan negara dan kinerja perusahaan tambang, sementara lemahnya harga nikel mendorong perlunya pengendalian produksi dan percepatan hilirisasi.

Berdasarkan data Trading Economics pada Senin (29/6) pukul 19.00 WIB, harga aluminium turun 1,15% secara harian dan terkoreksi 5,85% dalam sepekan menjadi US$ 3.162 per ton. Harga nikel juga melemah 0,93% dalam sehari dan turun 5,95% secara mingguan menjadi US$ 16.651 per ton.

Sementara itu, timah masih mampu menguat tipis 0,34% secara harian. Namun, secara mingguan harga logam tersebut tetap terkoreksi 5,14%. Timah saat ini dibanderol seharga US$ 50.553 per ton.


Baca Juga: Rupiah Melemah Jadi Katalis, Prospek Saham INCO Masih Ditopang Harga Nikel

Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menilai, penguatan harga timah sepanjang tahun ini berpotensi meningkatkan pendapatan negara serta memperbaiki kinerja emiten pertambangan timah. 

"Namun, rencana pemerintah untuk menaikkan tarif royalti timah menjadi instrumen penyeimbang agar profitabilitas tetap memberikan dampak langsung yang optimal bagi kas negara di tengah ketatnya regulasi penegakan hukum tambang ilegal," ujar Wahyu kepada Kontan, Senin (29/6).

Berbeda dengan timah, pasar nikel masih menghadapi tantangan akibat tekanan harga global yang dipicu oleh surplus pasokan. Kondisi tersebut membuat Indonesia perlu menjaga keseimbangan pasar melalui pengendalian kuota produksi, termasuk lewat pengetatan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Selain itu, tekanan harga dinilai menjadi momentum untuk mempercepat hilirisasi menuju produk bernilai tambah tinggi, seperti prekursor dan material baterai kendaraan listrik (EV), sehingga margin industri tetap terjaga meski harga bahan baku melemah.

Bagi investor, terdapat sejumlah indikator yang perlu dicermati sebelum mengambil keputusan investasi di sektor logam industri. Faktor utama adalah arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan pergerakan indeks dolar AS (DXY), mengingat pelonggaran kebijakan moneter berpotensi menjadi katalis positif bagi harga logam.

Selain itu, investor juga perlu memantau data aktivitas manufaktur atau Purchasing Managers' Index (PMI) di China dan Amerika Serikat sebagai indikator permintaan riil logam industri global.

Di dalam negeri, perkembangan kebijakan pemerintah terkait kuota produksi melalui RKAB juga menjadi faktor penting yang memengaruhi keseimbangan pasokan nikel dan timah di pasar global.

Risiko lain yang patut diperhatikan adalah perkembangan geopolitik, termasuk potensi gangguan jalur pelayaran internasional seperti di Selat Hormuz maupun Laut Merah yang dapat meningkatkan biaya logistik dan memengaruhi perdagangan komoditas.

Baca Juga: Menilik Prospek Emiten yang Cum Dividen di Akhir Juni 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News