Harga turun, Bakrie Sumatera tetap genjot produksi



JAKARTA. Hampir setahun harga karet tertekan, wajar jika perusahaan karet menahan diri untuk meningkatkan produksi karet. Namun PT Bakrie Sumatera Plantations justru memilih meningkatkan produksi karet disaat harga karet anjlok.

Chandrasekaran, Direktur Bakrie Sumatera Plantations mengakui, saat ini harga jual karet turun lagi menjadi US$ 2 per kg. "Dibandingkan kondisi tahun 2013 harga karet turun hingga 50%. Tahun lalu masih mencapai US$ 3 per kg," kata Chandra pada Senin (23/6).

Namun kondisi ini tak membuat perusahaan ini menahan laju produksi karet. Bahkan mereka justru mengenjot produksi karet naik 25% hingga akhir tahun. Tahun ini perusahaan berkode emiten UNSP ini menargetkan produksi karet mencapai 25.000 ton dari tahun sebelumnya sebesar 20.000 ton.


Alasannya, perusahaan akan meningkatkan pasar karet selain Tiongkok dan India yang selama ini menjadi pasar Bakrie Sumatra Plantations, seperti ke Eropa, Amerika Serikat. Pilihan mengenjot produksi dilakukan sebagai antisasi saat harga karet sewaktu-waktu naik, sehingga perusahaan memiliki stok.

Disisi lain, perusahaan juga akan melakukan penanam pohon karet baru pada tahun ini seluas 3.000 hektare (ha) hingga 5.000 ha di Sumatra. Hingga kuartal I 2014 produksi karet mencapai 6.595 ton naik 14% dari 5.761 ton dari kuartal 1 2013. Sementara luas areal karet hingga Maret mencapai 19.513 ha.

Seperti diketahui, harga karet internasional tertinggi terakhir pada Juni sebesar US$ 2,8 per kilogram (per kg). Setelahnya harga karet terus menurun. Harga karet terendah memasuki awal tahun sebesar US$ 2,3 per kg, dan pada Februari menurun lagi menjadi US$ 2,1 per kg dan Maret naik tipis menjadi USD 2,2 per kg.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Uji Agung Santosa