Harga WTI melemah ke US$ 52,2 per barel karena kekhawatiran pandemi berkepanjangan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) ditutup melemah setelah diperdagangkan dalam kisaran ketat karena investor khawatir tentang pandemi global yang berkepanjangan dan peluncuran vaksin yang lambat.

Jumat (29/1), harga minyak WTI untuk kontrak pengiriman Maret 2021 turun 14 sen atau 0,3% menjadi US$ 52,20 per barel. 

Sementara itu, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Maret 2021 naik 36 sen atau 0,6% ke US$ 55,88 per barel. Kontrak pengiriman maret berakhir pada hari Jumat. Sedangkan untuk kontrak pengiriman April yang lebih aktif turun 6 sen menjadi US$ 55,04 per barel.


Kontrak minyak mentah Brent yang paling aktif juga berakhir lebih rendah di tengah kekhawatiran tentang distribusi vaksin dan kemanjuran satu dosis vaksin.

"Jumlah vaksinnya tidak ada," kata Bob Yawger, Director of Energy Futures Mizuho di New York.

Baca Juga: Harga minyak WTI turun tipis ke US$ 52,27 per barel pada tengah hari ini (29/1)

Pasar minyak telah menguat sekitar 50% sejak Oktober didukung peluncuran vaksin, tetapi kemunculan varian Covid-19 telah memicu kekhawatiran tentang kelemahan ekonomi. Yawger mengatakan, paket stimulus ekonomi AS mungkin tidak datang cukup cepat untuk mendukung pasar.

Presiden AS Joe Biden mendesak Kongres untuk mengambil tindakan cepat atas proposal bantuan Covid-19 senilai US$ 1,9 triliun.

"Tidak ada waktu untuk penundaan," kata Biden. "Bisa memakan waktu satu tahun lebih lama untuk kembali ke pekerjaan penuh jika kita tidak bertindak dan tidak bertindak sekarang."

Sebuah jajak pendapat Reuters menunjukkan harga minyak diperkirakan akan melayang di sekitar level saat ini untuk sebagian besar tahun 2021 sebelum pemulihan memperoleh daya tarik menjelang akhir tahun.

Harga minyak WTI turun seiring dengan indeks saham, karena investor mengukur data kemanjuran vaksin Covid-19 Johnson & Johnson. Saham pembuat obat tersebut turun setelah mengatakan vaksin dosis tunggalnya 72% efektif dalam mencegah Covid-19 di Amerika Serikat. Tingkat yang lebih rendah yakni hanya 66% ditunjukkan dalam uji coba secara global.

Baca Juga: Harga emas ditutup menguat ke US$ 1.847,65 per ons troi ditopang reli perak

Harga minyak mendapat dukungan setelah Arab Saudi memangkas produksi sebesar 1 juta barel per hari (bph) pada bulan Februari dan Maret. Kepatuhan dengan pembatasan produksi oleh OPEC+, meningkat pada bulan Januari.

Produksi minyak OPEC naik pada Januari, sebuah survei Reuters menemukan, setelah OPEC+ menyetujui pelonggaran pembatasan pasokan.

Namun, kenaikan tersebut kurang dari jumlah yang disepakati, dengan penurunan tak disengaja dalam ekspor Nigeria yang membatasi peningkatan tersebut.

Selanjutnya: Wall Street anjlok di akhir pekan, Dow dan S&P 500 cetak pelemahan di bulan Januari

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari