JAKARTA. Dana dari China akan segera membanjiri perbankan dalam negeri. Bank Indonesia (BI) dan sepuluh bank besar nasional hari ini akan membahas penggunaan renminbi hasil kesepakatan Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) antara BI dan bank sentral China itu. Direktur Internasional dan Tresuri PT Bank BNI Tbk Bien Subiantoro menjelaskan, BI mengajak para bankir mendiskusikan pemanfaatan BCSA secara lebih detail, termasuk prosedur, mekanisme, biaya atau fee. "Bagaimana swap ini diterapkan secara konkret baru jelas hari ini," ujar Bien, Kamis (26/3). Bien mengakui, BNI berniat memanfaatkan fasilitas swap renminbi-rupiah. "Swap merupakan kesempatan bagi perbankan untuk mendapatkan likuiditas valuta asing," ujarnya. Jika bisa mengakses fasilitas tersebut, tutur Bien, BNI bisa memperbesar keran pembiayaan untuk pengusaha yang berorientasi ekspor. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BRI) juga tak mau kalah langkah dalam memanfaatkan swap. "Kami siap menjadi salah satu bank yang mengelola fasilitas swap," ucap Direktur Bisnis BRI Sudaryanto Sudargo. Debitur BRI yang bergerak di sektor infrastruktur tentu membutuhkan pembiayaan dalam renminbi. "Kami bisa menyalurkan untuk membiayai berbagai proyek pembangkit listrik dan proyek pembangunan jalan tol," ujarnya. Nilai memadai Dalam pertemuan hari ini, BI juga akan mengungkap mekanisme penggunaan dan pricing fee atau biaya pemanfaatan swap. "Menurut saya, basic fee secara umum adalah selisih antara bunga mata uang rupiah dengan suku bunga mata uang yang di-swap, dalam hal ini adalah renminbi," kata Bien.
Hari Ini, BI dan Perbankan Bahas Pengunaan Renminbi
JAKARTA. Dana dari China akan segera membanjiri perbankan dalam negeri. Bank Indonesia (BI) dan sepuluh bank besar nasional hari ini akan membahas penggunaan renminbi hasil kesepakatan Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) antara BI dan bank sentral China itu. Direktur Internasional dan Tresuri PT Bank BNI Tbk Bien Subiantoro menjelaskan, BI mengajak para bankir mendiskusikan pemanfaatan BCSA secara lebih detail, termasuk prosedur, mekanisme, biaya atau fee. "Bagaimana swap ini diterapkan secara konkret baru jelas hari ini," ujar Bien, Kamis (26/3). Bien mengakui, BNI berniat memanfaatkan fasilitas swap renminbi-rupiah. "Swap merupakan kesempatan bagi perbankan untuk mendapatkan likuiditas valuta asing," ujarnya. Jika bisa mengakses fasilitas tersebut, tutur Bien, BNI bisa memperbesar keran pembiayaan untuk pengusaha yang berorientasi ekspor. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BRI) juga tak mau kalah langkah dalam memanfaatkan swap. "Kami siap menjadi salah satu bank yang mengelola fasilitas swap," ucap Direktur Bisnis BRI Sudaryanto Sudargo. Debitur BRI yang bergerak di sektor infrastruktur tentu membutuhkan pembiayaan dalam renminbi. "Kami bisa menyalurkan untuk membiayai berbagai proyek pembangkit listrik dan proyek pembangunan jalan tol," ujarnya. Nilai memadai Dalam pertemuan hari ini, BI juga akan mengungkap mekanisme penggunaan dan pricing fee atau biaya pemanfaatan swap. "Menurut saya, basic fee secara umum adalah selisih antara bunga mata uang rupiah dengan suku bunga mata uang yang di-swap, dalam hal ini adalah renminbi," kata Bien.