JAKARTA. Polemik dana aspirasi kembali menghangat menyusul adanya usulan serupa dari Dewan Perwakilan Daerah. Anggota Partai Golkar, yang sebelumnya sempat tiarap, kini bangkit lagi menyuarakan gagasan kontroversial itu. Berbicara dalam Diskusi Urgensi Penerapan Ekonomi Pancasila Ditengah Hantaman Ekonomi Global, Harry Azhar Azis, anggota Fraksi Partai Golkar, mengingatkan para politisi dari partai lain untuk tidak menjegal ide ini dengan alasan politik. "Jangan gunakan alasan politik untuk menjegal satu ide keadilan untuk pembangunan," kata Ketua Badan Anggaran DPR RI ini, Rabu (30/6). Harry menegaskan, dana aspirasi merupakan salah satu bentuk lain dari rencana pembangunan daerah. Pasalnya, pembangunan di daerah tak pernah merata lantaran penjatahan dana daerah seringkali terjanggal oleh kepentingan politik di dalamnya. "Itu pasti ada peran politik subjektif kepala daerah, tetap ada di situ, anda tidak bisa mempercayakan pemerataan keadilan itu given begitu saja. Misalnya Bupati, di suatu daerah ada beberapa kecamatan, nah mana yang memilih banyak maka itu akan dapat anggaran lebih," katanya.
Harry Azhar: Jangan Gunakan Alasan Politik Untuk Jegal Dana Aspirasi
JAKARTA. Polemik dana aspirasi kembali menghangat menyusul adanya usulan serupa dari Dewan Perwakilan Daerah. Anggota Partai Golkar, yang sebelumnya sempat tiarap, kini bangkit lagi menyuarakan gagasan kontroversial itu. Berbicara dalam Diskusi Urgensi Penerapan Ekonomi Pancasila Ditengah Hantaman Ekonomi Global, Harry Azhar Azis, anggota Fraksi Partai Golkar, mengingatkan para politisi dari partai lain untuk tidak menjegal ide ini dengan alasan politik. "Jangan gunakan alasan politik untuk menjegal satu ide keadilan untuk pembangunan," kata Ketua Badan Anggaran DPR RI ini, Rabu (30/6). Harry menegaskan, dana aspirasi merupakan salah satu bentuk lain dari rencana pembangunan daerah. Pasalnya, pembangunan di daerah tak pernah merata lantaran penjatahan dana daerah seringkali terjanggal oleh kepentingan politik di dalamnya. "Itu pasti ada peran politik subjektif kepala daerah, tetap ada di situ, anda tidak bisa mempercayakan pemerataan keadilan itu given begitu saja. Misalnya Bupati, di suatu daerah ada beberapa kecamatan, nah mana yang memilih banyak maka itu akan dapat anggaran lebih," katanya.