Harry Maulana, Jagoan Desain Produk



harrymaulana_dokpribadi1LANGKANYA profesi konsultan desain produk membuat Harry Maulana banting setir dari pegawai PT Panasonic menjadi pengusaha. Cita-citanya adalah membuat desain produk jadi bagian tak terpisahkan dalam  proses produksi barang.Tak pernah sekalipun terlintas dalam pikiran Harry Maulana untuk menjadi seorang konsultan desain produk. Bukan karena profesi ini langka, tapi karena ia sudah mempunyai cita-cita sendiri. Anak terakhir dari tujuh bersaudara ini ingin sekali berkarir di bidang musik. Ketika SMA, ia menghabiskan banyak waktu mewujudkan mimpinya itu. Ia sempat membuat band, tapi bubar sebelum masuk rekaman. Cita-citanya menjadi musisi ini kandas karena sang ibu tak merestui. "Mau jadi apa kamu?," ujar Harry menirukan sang ibu. Penolakan sang Ibu membawa Harry ke jurusan desain produk di Institut Teknologi Bandung. Ketika memilih jurusan ini ia juga tak membayangkan mau menjadi apa. "Waktu itu, saya tidak tahu masa depan saya bagaimana," kenangnya. Ia sempat merasa down. Untung, teman-teman seangkatannya saling menguatkan satu sama lain. Harry pun lulus tahun 1988. Menyandang gelar sarjana desain, Harry berganti-ganti pekerjaan. Mulai bekerja freelance di industri telekomunikasi, bekerja di perusahaan arsitek, hingga akhirnya  bergabung ke PT Panasonic, sebuah perusahaan manufaktur elektronik, pada 1990. Di tempat kerja barunya ini, Harry bekerja sebagai desainer produk yang bertugas untuk mengembangkan produk lokal. "Awalnya, pihak Jepang belum percaya saya bisa mendesain satu produk. Tetapi lama kelamaan saya sampai bisa pegang semua produk," ujar pria kelahiran tahun 1960 ini. Di Panasonic ini, Harry belajar banyak hal. Antara lain kedisiplinan dan efisiensi waktu bekerja yang ditanamkan rekannya dari Jepang. Ia juga menimba ilmu bagaimana memprediksi tren produk elektronik di masa mendatang. "Ada metode khusus yang diajarkan bagaimana melihat tren dalam tiga sampai lima tahun ke depan di hari ini," ujarnya. Dengan pengalaman tersebut, Harry akhirnya meraih jabatan sebagai Manager Desain untuk produk lokal di PT Panasonic Manufacturer. "Prestasi saya waktu itu, ada barang elektronik hasil desain saya yang diekspor ke Timur Tengah," ujarnya. Beberapa barang yang pernah didesainnya antara lain produk-produk audio seperti radio kaset, stereo set, mini kompo, radio saku dan produk televisi mulai 14 inchi sampai 29 inci. Ada pula lemari es satu dan dua pintu, AC Window, AC split, sampai ke mesin cuci dua tabung. Kipas angin, penyedot debu dan seterikaan juga tak luput dari rancangannya. Pada 1996, Harry sudah membawahi sekitar 15 desainer produk dalam satu timnya. Di titik ini, ia mencoba mendirikan kantor konsultan desain produk sendiri. Sayang, usaha patungan dengan tujuh rekannya itu kandas di tengah jalan karena ego masing-masing pihak. "Modal yang terbuang tidak masalah, akan tetapi dari situ saya belajar selektif memilih mitra," tukasnya. Masih menyimpan mimpinya, Harry pun melanjutkan bekerja di Panasonic sampai tahun 2006, ketika ia akhirnya kembali membuka perusahaan konsultan desain produk Tigo Design. Kegagalannya mendirikan perusahaan desain produk, tak membuat Harry Maulana patah arang. Di tahun 2006, dia mencoba lagi dengan mendirikan Tigo Design. Kini, usaha konsultan desain produk miliknya telah menangani sekitar 20 klien dari dalam dan luar negeri. Mendirikan Perusahaan Sendiri Pengalaman selama puluhan tahun bekerja sebagai desainer produk di PT Panasonic membuat Harry Maulana yakin mendirikan perusahaan sendiri di bidang jasa konsultan desain produk. Meski gagal mendirikan usaha yang diimpikannya pada tahun 1996, keinginan Harry menggeluti bisnis di seputar desain produk tak kunjung padam. Dia mengamati, masih banyak perusahaan yang mengesampingkan pentingnya sentuhan desain pada sebuah produk. "Tidak heran, banyak perusahaan yang memilih membeli produk jadi untuk dirakit di Indonesia, terutama perusahaan elektronik," ujarnya kesal. Padahal, imbuh Harry, sentuhan desain pada sebuah produk, bisa menaikkan harga jual produk tersebut dari harga awalnya. Namun perusahaan tidak mau rugi menggaji desainer produk untuk hal itu. "Makanya saya ingin mendirikan perusahaan independen seperti ini," kata lulusan jurusan Desain Produk ITB tahun 1988 ini. Tahun 2006, dengan modal Rp 500 juta hasil patungan dengan dua rekannya yang sama-sama bekerja di Panasonic, Harry pun mendirikan Tigo Design. "Tigo di sini dalam bahasa Minang adalah tiga. Artinya, pendirinya ada tiga orang," tutur Harry. Harry dan kedua mitranya menggunakan modal tersebut membeli peralatan desain serta software khusus desain yang harganya cukup mahal. Melalui Tigo Design, Harry menyasar perusahaan-perusahaan yang selama ini belum mempunyai divisi desain produk, atau perusahaan yang sudah mempunyai divisi desain produk tapi masih memerlukan jasa konsultan. Tigo Design terus berkembang. Dalam tiga tahun terakhir, Tigo Design sudah menangani sekitar 20 klien. Sekitar 70% diantaranya merupakan produsen elektronik. Sisanya, adalah perusahaan farmasi dan pengemasan. "Sesuai background saya, makanya klien saya banyak perusahaan elektronik," ujar Harry. Beberapa merek produk elektronik yang ditangani Harry saat ini sudah menjadi merek-merek ternama. Sebut aja merek Wasser yang hanya diproduksi di Korea. Ada juga merek earphone Crown Pack. "Ini saya desainnya setengah mati, karena saking kecil bentuknya," ujarnya sembari tergelak. Bagi Harry, yang paling berkesan adalah saat dia menangani produk Kiriin dari Jepang. Awalnya merek ini sama sekali tidak dikenal di Indonesia. Namun di tangan Harry, Kiriin masuk sebagai nominasi penghargaan Indonesia Good Design Selection di tahun 2006 dan 2007. "Saya bangga sekali waktu itu," ujarnya. Dalam sebulan, Harry bisa menerima dua proyek desain produk. Jika sedang ramai, Harry yang mempekerjakan lima orang karyawan akan mengambil tenaga kerja lepas. "Di atas dua produk sebulan saya bisa kewalahan," ujarnya. Harga konsultasi desain produk di Tigo Design mulai dari puluhan juta sampai ratusan juta rupiah per desain. Marginnya sekitar 30%. "Namun tergantung kemampuan perusahaan juga, kalau perusahaan kecil kami tetap mau bantu kok," ujar Harry. Tigo Desain, usaha desain produk milik Harry Maulana dan dua rekannya berkembang. Tapi belakangan, Tigo Design terkena dampak krisis global. Banyak pelanggan mereka membatalkan atau menunda order. Agar bisa bertahan, Harry dan rekan-rekannya kini lebih banyak mengerjakan desain kemasan. Kewalahan Memenuhi Pesanan Peruntungan Harry Maulana agaknya memang ada di bisnis desain produk. Buktinya, Tigo Design yang dia dirikan bersama dua rekannya tahun 2006 bertumbuh pesat. Order terus mengalir masuk ke Tigo Design, apa lagi setelah banyak desain produk yang mereka kerjakan menerima penghargaan. Sangking banyaknya order kala itu, Harry dan teman-temannya sempat kewalahan memenuhi pesanan. Harry bilang, ia memang membatasi order. Sampai 2008 lalu, dalam sebulan ia dan timnya membatasi hanya mengerjakan dua desain produk. Alhasil, klien yang ingin memesan atau mendapat bimbingan soal desain produk harus rela antri. Untuk memenuhi tenggat waktu, Harry acap kali harus  memanfaatkan tenaga tenaga outsourcing. Maklum, Harry hanya memiliki lima karyawan tetap. Baru dua tahun merasakan nikmatnya memiliki bisnis sendiri, cobaan kembali datang. "Gara-gara krisis, proyek turun drastis," ujar lulusan Jurusan Desain produk Institut Teknologi Bandung tahun 1988. Maklum, hampir semua kliennya adalah pabrikan (manufacturing) terutama pabrik elektronik. "Pihak manufacturing kena imbas krisis secara langsung, perencanaan desain produk baru mereka kacau semua," kata Harry. Banyak dari mereka lantas membatalkan atau menunda order hingga waktu yang belum bisa dipastikan. Harry, menambahkan, pelaksanaan pemilihan umum tahun ini juga ikut memperparah sepinya order yang mereka terima. Kini Harry dan kawan-kawannya di Tigo Design paling-paling hanya mendapat order satu desain produk dalam empat bulan. "Dulu sebulan dapat dua, sekarang empat bulan dapat satu," tukas Harry. Kondisi ini jelas memberatkan kondisi Tigo Design. Agar perusahaannya survive melewati krisis global, Harry mencari celah bisnis yang masih bisa mereka garap. Hasilnya, kini Tigo Design lebih banyak menggarap pasar desain kemasan. "Kalau dulu porsi desain kemasan hanya 20%, kini lebih," ujar Harry. Menurut Harry, desain kemasan ini merupakan proyek jangka pendek yang bisa dengan cepat dikerjakan timnya. Desain kemasan yang dikerjakan Harry, seperti packaging dan brosur. "Nilai proyeknya tentu saja tidak sebesar desain produk yang bisa sampai ratusan juta sekali proyek," kata Harry. Namun walaupun kecil, pekerjaan tersebut bisa membuat cashflow Tigo Design terus mengalir. Harry sendiri berharap tahun depan keadaan perekonomian dunia membaik. Dengan begitu, pesanan desain produk akan kembali mengalir deras. "Kalau untuk tahun 2009 ini, puncak penjualan elektronik kan di sekitar Natal dan tahun baru. Itu sudah tidak terkejar lagi bagi kami," ujar bungsu dari tujuh bersaudara ini. Yang pasti, walaupun nama Tigo Design sebagai salah satu perusahaan pelopor konsultan desain di Indonesia sudah berkibar, Harry tak berpuas diri. "Kalau saya puas, itu sama dengan sombong," kata ayah dua anak kelahiran 1960-an ini.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News