Harta Karun Rp 1 Kuadriliun di Bukit Suci Kenya Diperebutkan China & AS, Ini Isinya!



KONTAN.CO.ID - Amerika Serikat (AS) dan China bersaing mendapatkan hak pengembangan deposit mineral tanah jarang dan niobium di Mrima Hill, Kenya.

Mrima Hill merupakan kawasan sakral yang berada sekitar 65 kilometer barat daya Mombasa, di pesisir Samudra Hindia. Kawasan tersebut dikenal memiliki kandungan mineral tanah jarang serta niobium, logam yang digunakan untuk memperkuat baja sekaligus membuatnya lebih ringan.

Kenya membuka tender internasional untuk pengembangan deposit mineral di Mrima Hill pada Maret 2026. Hingga September 2026, enam kandidat masih bersaing mendapatkan hak pengembangan proyek tersebut.


Menurut laporan South China Morning Post, dua dari enam kandidat tersebut berasal dari China. Sementara itu, dua konsorsium yang dipimpin perusahaan AS juga masuk dalam proses tender.

Jumlah peserta yang tersisa tersebut menyusut dari kelompok perusahaan yang sebelumnya menyatakan minat terhadap proyek Mrima Hill.

Baca Juga: China Gelar Latihan Militer di Scarborough Shoal, Sengketa dengan Filipina Memanas

Critical Metals Masuk Final Tender

Salah satu konsorsium yang ikut bersaing adalah Mrima Earth Limited yang dipimpin Critical Metals Corp, perusahaan yang tercatat di Nasdaq.

Critical Metals pada Juli 2026 mengumumkan telah masuk tahap akhir tender pemerintah Kenya untuk proyek Mrima Hill. Perusahaan tersebut menyatakan konsorsiumnya menjadi salah satu kandidat asal AS yang lolos ke tahap berikutnya.

Sebelum tender internasional dibuka, perusahaan Australia RareX dan Iluka Resources juga membentuk konsorsium untuk mengajukan hak eksplorasi di Mrima Hill.

Namun, identitas seluruh kandidat yang tersisa belum diumumkan secara terbuka.

Nilai deposit Mrima Hill kerap disebut mencapai sekitar US$62,4 miliar atau setara sekitar Rp 1 kuadriliun. Akan tetapi, angka tersebut perlu dilihat secara hati-hati.

Estimasi US$62,4 miliar merupakan perkiraan nilai mineral in-ground yang dibuat pada 2013 oleh Cortec Mining Kenya, pemegang izin sebelumnya. Angka tersebut bukan nilai transaksi proyek maupun valuasi resmi yang sudah ditetapkan dalam tender 2026. Selain itu, belum ada studi kelayakan yang dipublikasikan untuk memastikan nilai ekonominya.

Baca Juga: Banjir dan Longsor Tewaskan 70 Orang di India dan Nepal, Puluhan Hilang

AS Tawarkan Pengolahan Mineral di Kenya

Persaingan AS dan China di Mrima Hill tidak hanya berkaitan dengan akses terhadap cadangan mineral. Washington juga menawarkan dukungan kepada Kenya untuk membangun industri pertambangan dan pengolahan mineral kritis di dalam negeri.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bertemu Presiden Kenya William Ruto di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York pada September 2026. Keduanya membahas potensi sumber daya mineral kritis Kenya serta peluang perusahaan AS memberikan nilai tambah di dalam negeri.

Sebelumnya, delegasi senior AS juga menyampaikan tawaran serupa dalam AmCham Business Summit di Nairobi pada 9 September 2026.

Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Afrika Frank Garcia mengatakan Washington siap membantu Kenya mengembangkan industri pertambangan dan pengolahan mineral.

Menurut Garcia, keterlibatan perusahaan AS tidak hanya berupa ekstraksi mineral untuk kemudian dikirim ke luar Kenya. Investasi juga diarahkan pada pengembangan masyarakat, tenaga kerja, dan transfer teknologi.

Washington mendorong lebih banyak proses pengolahan dilakukan di Kenya sehingga menciptakan lapangan kerja sekaligus meningkatkan nilai ekonomi yang diperoleh negara tersebut dari sumber daya mineralnya.

Tonton: Hedge Fund Hampir Kolaps, Bank Wall Street Ikut Diperiksa

AS Ingin Kurangi Ketergantungan pada China

Kepentingan AS terhadap Mrima Hill tidak terlepas dari posisi China yang masih dominan dalam rantai pasok mineral tanah jarang dunia.

Data International Energy Agency (IEA) menunjukkan China menguasai sekitar 85% pemurnian mineral tanah jarang global pada 2025. Meski proyek baru di AS dan peningkatan produksi di Malaysia mulai mengurangi konsentrasi tersebut, China masih menjadi pemain dominan dalam tahap pemrosesan.

IEA juga mencatat rantai pasok rare earth merupakan salah satu yang paling terkonsentrasi secara geografis. Pada 2024, China menyumbang sekitar 60% produksi tambang rare earth yang digunakan untuk magnet dan sekitar 91% produksi hasil pemurniannya.

Kondisi tersebut membuat mineral tanah jarang menjadi bagian penting dari upaya diversifikasi rantai pasok AS dan negara-negara Barat.

Analis geoekonomi Aly-Khan Satchu menilai persaingan AS-China terkait mineral kritis tidak hanya menyangkut akses terhadap bahan mentah, tetapi juga kemampuan membangun infrastruktur pemurnian.

Sementara itu, Chris Berry dari House Mountain Partners mengatakan keterlibatan AS di Mrima Hill mencerminkan upaya negara-negara Barat untuk mendiversifikasi rantai pasok mineral sekaligus memperkuat hubungan dengan negara-negara produsen.

Baca Juga: Tiga Tentara Terluka, Korea Selatan Investigasi Ledakan Ranjau di DMZ

Mrima Hill Merupakan Kawasan Sakral

Di balik potensi ekonominya, rencana pertambangan Mrima Hill juga menghadapi persoalan lingkungan dan sosial.

Mrima Hill merupakan kawasan Kaya, yakni hutan sakral dan situs leluhur masyarakat Digo yang merupakan bagian dari komunitas Mijikenda. Kawasan tersebut telah ditetapkan sebagai monumen nasional Kenya sejak 1992.

Sebagian masyarakat setempat sebelumnya menolak rencana pertambangan di kawasan tersebut. Mereka mengkhawatirkan aktivitas pertambangan dapat merusak situs sakral dan habitat satwa, memengaruhi pertanian, serta mengganggu akses masyarakat terhadap sumber daya hutan.

Karena itu, pengembangan Mrima Hill bukan hanya menyangkut besarnya potensi mineral, tetapi juga persoalan perlindungan lingkungan dan kepentingan masyarakat sekitar.

Ketertarikan AS terhadap kawasan tersebut setidaknya telah terlihat sejak 2025 ketika Marc Dillard, yang saat itu menjabat kuasa usaha Kedutaan Besar AS di Kenya, mengunjungi Mrima Hill.

Dengan enam kandidat yang masih bersaing dalam tender, pemerintah Kenya kini menghadapi proses seleksi untuk menentukan perusahaan atau konsorsium yang akan mendapatkan hak mengembangkan deposit mineral kritis tersebut. Hingga kini, belum ada pengumuman pemenang tender. Sumber: https://www.kompas.com/global/read/2026/09/27/163643270/as-china-rebutan-bukit-di-kenya-ada-harta-karun-senilai-rp-1-kuadriliun?page=all#page2.   

Mulai Rp1! BEI Ubah Aturan Harga Minimum Saham
© 2026 Konten oleh Kontan
TAG: