KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Hartadinata Abadi Tbk (
HRTA) terus memperkuat bisnis bullion dengan membangun akses pasokan emas domestik. Salah satu langkah yang ditempuh adalah kerja sama pembelian emas murni dengan PT Freeport Indonesia (PTFI) melalui Gold Bar Spot Sale and Purchase Agreement. Kerja sama tersebut mencakup pembelian emas batangan dengan kadar kemurnian 99,99% dalam bentuk cast bars seberat 1 kilogram yang diproduksi di fasilitas Precious Metal Refinery PTFI di Gresik, Jawa Timur. Sebagai tahap awal implementasi kerja sama, HRTA telah melakukan transaksi perdana sebanyak 50 kilogram emas yang diserahkan ke fasilitas perseroan di Bandung pada 16 September 2026. Direktur Investor Relations PT Hartadinata Abadi Tbk, Thendra Crisnanda, mengatakan transaksi perdana tersebut merupakan tahap awal dari implementasi kerja sama antara HRTA dan PTFI. Selanjutnya, pembelian emas akan dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kebutuhan bahan baku perseroan serta kesepakatan kedua pihak.
Baca Juga: Rupiah Spot Ditutup Menguat Tipis 0,07% ke Rp 17.902 per Dolar AS pada Jumat (25/9) "Untuk 2027, HRTA melihat ruang untuk meningkatkan volume sejalan dengan pertumbuhan bisnis bullion dan institutional demand," kata Thendra kepada Kontan, Kamis (24/9/2026). Menurut Thendra, kerja sama tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan tambahan sumber bahan baku, tetapi juga memberikan manfaat dari sisi rantai pasok. Akses langsung terhadap emas murni yang diproduksi di dalam negeri dapat memberikan fleksibilitas lebih bagi HRTA dalam memenuhi kebutuhan produksi, baik untuk produk emas batangan maupun perhiasan. "Hal ini memperkuat
security of supply, diversifikasi
sourcing, serta fleksibilitas HRTA dalam memenuhi pertumbuhan permintaan emas batangan maupun perhiasan," ujarnya. Dengan adanya sumber pasokan domestik tersebut, HRTA juga melihat peluang untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok dalam jangka panjang. Penggunaan emas yang berasal dari dalam negeri dapat menjadi bagian dari strategi diversifikasi sourcing Perseroan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap
imported bullion. Penguatan pasokan tersebut juga sejalan dengan upaya HRTA membangun rantai nilai bisnis emas yang semakin terintegrasi. Rantai tersebut mencakup pengadaan bahan baku, pemurnian dan manufaktur hingga distribusi produk emas batangan dan perhiasan. Direktur Utama PT Hartadinata Abadi Tbk, Sandra Sunanto, mengatakan akses terhadap bahan baku menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung pengembangan bisnis Perseroan. Dengan pasokan yang semakin kuat, HRTA memiliki fleksibilitas lebih besar dalam memenuhi kebutuhan pasar. “Kerja sama dengan PT Freeport Indonesia merupakan langkah strategis bagi HRTA dalam memperkuat akses terhadap pasokan emas murni sekaligus mendukung pengembangan bisnis Perseroan. Dengan semakin kuatnya akses terhadap sumber bahan baku, kami dapat meningkatkan kapasitas dan fleksibilitas dalam memenuhi kebutuhan pasar, baik untuk produk emas batangan maupun perhiasan, sejalan dengan pertumbuhan bisnis dan semakin berkembangnya ekosistem emas di Indonesia,” ujar Sandra dalam keterangannya.
Baca Juga: BEI: Besaran Dividen Pemegang Saham Dalam Rangka Demutualisasi Ditentukan saat RUPSLB Dalam pelaksanaannya, pembelian emas dari PTFI dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan dan kesepakatan kedua pihak. Setiap pengiriman juga dilengkapi dengan dokumen pendukung seperti
assay certificate, sertifikat berat, serta
packaging manifest yang mencantumkan nomor seri dan berat emas. Dari sisi kapasitas produksi, HRTA telah meningkatkan kemampuan produksi menjadi 60 ton per tahun pada 2026 dari sebelumnya 48 ton per tahun pada 2025. Namun, dengan kapasitas yang telah tersedia tersebut, Perseroan saat ini tidak hanya berfokus mengejar tambahan kapasitas baru. Thendra mengatakan fokus HRTA juga diarahkan pada peningkatan
utilisation dan produktivitas dari fasilitas yang sudah tersedia. Sebagai perbandingan, produksi HRTA pada 2025 mencapai 24,92 ton dengan
utilisation rate sekitar 51,9%. Artinya, ruang peningkatan produksi masih terbuka melalui optimalisasi fasilitas yang telah dimiliki. Perseroan pun tetap melakukan investasi secara selektif sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan bisnis. Investasi tersebut diarahkan antara lain untuk fasilitas
refinery dan
manufacturing, penyimpanan emas, serta berbagai infrastruktur pendukung. Dengan pendekatan tersebut, penambahan investasi dapat disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan bisnis dan pertumbuhan permintaan. Selain dari sisi kapasitas dan pasokan, HRTA juga terus mengembangkan bisnis bullion dan
institutional demand. Kerja sama dengan PTFI menjadi salah satu bagian yang mendukung kebutuhan bahan baku untuk pengembangan bisnis tersebut, sekaligus memperkuat fleksibilitas Perseroan dalam menyediakan produk emas kepada pasar. Pertumbuhan bisnis HRTA sendiri tercermin dari kinerja semester I 2026. Perseroan membukukan penjualan Rp33,81 triliun, meningkat 124,61% secara tahunan dari Rp15,05 triliun pada semester I 2025.
Mayoritas pendapatan berasal dari segmen perhiasan dan logam mulia yang menyumbang Rp33,69 triliun atau sekitar 99,66% dari total penjualan bersih. Penjualan melalui grosir lokal menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp30,20 triliun, melonjak 149,86% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja tersebut turut mendorong laba bersih HRTA menjadi Rp700,01 miliar pada semester I 2026, tumbuh 100,86% dari Rp348,51 miliar pada semester I 2025. Dengan kapasitas produksi yang kini mencapai 60 ton per tahun, tingkat
utilisation yang masih memiliki ruang untuk ditingkatkan, serta tambahan akses pasokan emas domestik dari PTFI, HRTA menyiapkan fondasi untuk mendukung pertumbuhan bisnis bullion dan produk emas Perseroan. Pada 2027, Perseroan juga melihat peluang peningkatan volume pembelian emas dari PTFI sejalan dengan perkembangan bisnis dan
institutional demand. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News