Hasil Investasi Asuransi Jiwa Anjlok 56,5%, Ini Strategi Pelaku Industri



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perusahaan asuransi jiwa menghadapi tekanan kinerja investasi sepanjang 2026. Hasil investasi industri hingga Agustus 2026 tercatat hanya Rp 11,73 triliun, merosot 56,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Tekanan tersebut berpotensi berlanjut seiring meningkatnya volatilitas pasar saham, terutama setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergejolak akibat sentimen dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Kondisi ini mendorong pelaku industri asuransi jiwa memperkuat strategi pengelolaan portofolio untuk menjaga hasil investasi hingga akhir tahun.


Direktur Utama PT MSIG Life Insurance Indonesia, Wianto Chen mengatakan, diversifikasi portofolio menjadi salah satu langkah yang ditempuh perusahaan untuk menghadapi ketidakpastian pasar.

Baca Juga: Rapor Merah Hasil Investasi Asuransi Jiwa

Strategi memperluas variasi penempatan dana kelolaan tersebut bahkan telah dilakukan sejak beberapa waktu lalu.

MSIG Life juga menempatkan sebagian investasi pada sejumlah instrumen di pasar luar negeri (offshore) yang dinilai cenderung lebih stabil dibandingkan pasar domestik.

Langkah ini diharapkan dapat membantu mengimbangi kerugian investasi dari instrumen lainnya. "Strategi diversifikasi dilakukan untuk menyeimbangkan kerugian yang dialami," kata Wianto.

Ke depan, MSIG Life tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Perusahaan akan memprioritaskan penempatan dana baru pada aset yang relatif stabil, terutama Surat Berharga Negara (SBN).

Porsi investasi tersebut akan disesuaikan dengan prinsip asset liability matching, yakni menyelaraskan karakteristik aset investasi dengan kewajiban perusahaan kepada pemegang polis.

Baca Juga: Hasil Investasi Asuransi Jiwa Terpuruk

Selain untuk mengelola risiko, diversifikasi juga diarahkan untuk mengoptimalkan peluang hasil investasi agar dapat menopang profitabilitas perusahaan.

Memanfaatkan peluang suku bunga

Strategi berbeda disiapkan PT Asuransi Ciputra Indonesia (Ciputra Life).

Direktur Utama Ciputra Life, Hengky Djojosantoso mengatakan, perusahaan akan memanfaatkan kondisi suku bunga tinggi untuk memperoleh peluang imbal hasil yang lebih menarik dari instrumen pendapatan tetap.

Meski demikian, perusahaan tetap memperhitungkan dampak kenaikan suku bunga terhadap valuasi obligasi yang sudah dimiliki.

"Penempatan baru pada instrumen pendapatan tetap memberikan peluang imbal hasil yang lebih menarik, tetapi dampaknya terhadap valuasi obligasi eksisting tetap kami perhatikan," ujar Hengky.

Baca Juga: Pasar Keuangan Volatil, Hasil Investasi Asuransi Jiwa Tertekan pada Semester I-2026

Untuk investasi saham, Ciputra Life juga masih melihat peluang di tengah fluktuasi pasar. Namun, penambahan investasi akan dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan fundamental, prospek bisnis emiten, serta kewajaran valuasi saham.

Di tengah tekanan yang dialami industri, kinerja investasi Ciputra Life justru menunjukkan pertumbuhan positif. Hingga kuartal III-2026, hasil investasi perusahaan meningkat 31,24% menjadi Rp 53,04 miliar.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Albertus Wiroyo menilai gejolak pasar saham cenderung bersifat jangka pendek.

Karena itu, volatilitas yang terjadi saat ini tidak serta-merta mendorong perusahaan asuransi jiwa mengubah komposisi portofolio investasinya secara besar-besaran.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News