Hasil Investasi Industri Membaik, Jasindo Syariah Makin Selektif Kelola Portofolio



KONTAN.CO.ID  - JAKARTA. Hasil Investasi Industri asuransi syariah menunjukkan tren pemulihan hingga kuartal III-2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, hasil investasi industri asuransi syariah berbalik positif, mencapai Rp 1,2 triliun per Agustus 2026, membaik dari posisi Juni 2026 yang sempat minus Rp 503,3 miliar.

Berdasarkan data OJK, hasil investasi asuransi syariah naik menjadi Rp 346 miliar pada Juli dan melonjak  pada Agustus 2026 tembus Rp 1,2 triliun. Namun, pencapaian hingga Agustus 2026  lebih rendah dibandingkan hasil investasi pada Agustus 2025 yang mencapai Rp 1,7 triliun.

Menanggapi hal tersebut, PT Asuransi Jasindo Syariah (Jasindo Syariah) menilai, perbaikan hasil investasi industri sebagai sinyal positif dan membuka peluang penguatan kinerja di tengah dinamika pasar keuangan.


Sekretaris Perusahaan Jasindo Syariah Wahyudi mengatakan membaiknya hasil investasi asuransi syariah dipengaruhi berbagai faktor. Diantaranya pergerakan nilai aset investasi, kondisi pasar, serta efektivitas pengelolaan portofolio investasi oleh masing-masing perusahaan.

Baca Juga: Premi Lini Asuransi Engineering Mencapai Rp 4,43 triliun per Agustus 2026

Meski begitu, Wahyudi mencatat ketidakpastian ekonomi global dan domestik masih menjadi tantangan ke depan. Beberapa isu seperti dampak rencana evaluasi MSCI terhadap pasar modal Indonesia, eskalasi konflik di Timur Tengah, hingga defisit anggaran pemerintah berpotensi memicu volatilitas pasar.

“Kami tetap optimistis dengan mencermati fundamental makroekonomi Indonesia yang relatif terjaga, sehingga diharapkan dapat mendukung stabilitas pasar keuangan di tengah berbagai tekanan eksternal,” kata Wahyudi kepada Kontan, Rabu (21/10/2026).

Untuk menghadapi dinamika ekonomi dan risiko investasi, Wahyudi menjelaskan, Jasindo Syariah menerapkan strategi investasi yang lebih selektif, prudent, dan terukur. Penempatan dana diprioritaskan pada instrumen stabil seperti sukuk yang sesuai dengan profil risiko perusahaan, disertai evaluasi portofolio berkala dan optimalisasi likuiditas.

“Optimalisasi hasil investasi tidak semata-mata berorientasi pada pencapaian imbal hasil, tetapi juga pada upaya menjaga kualitas aset, stabilitas keuangan, dan keberlanjutan usaha. Kami tetap berpedoman pada prinsip syariah dan ketentuan regulator guna mendukung pemenuhan kewajiban kepada peserta,” jelasnya.

Pengamat Asuransi Syariah Wahyudin Rahman mengatakan, pemulihan hasil investasi industri didorong oleh mulai pulihnya pasar keuangan serta pendapatan rutin dari instrumen berpendapatan tetap seperti Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dan sukuk.

“Karena porsi saham pada portofolio juga cukup besar, pemulihan pasar saham ikut menggerek hasil investasi industri,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (21/10/2026).

Ia menambahkan, tekanan pada semester I-2026 berasal dari gejolak pasar keuangan, mulai dari pelemahan IHSG, keluarnya dana asing, melemahnya rupiah hingga naiknya imbal hasil obligasi di tengah ketidakpastian geopolitik. 

“Dalam situasi yang dinamis saat ini industri harus melakukan diversifikasi investasi dan menerapkan manajemen risiko secara disiplin. Perusahaan juga perlu menyesuaikan alokasi aset dengan profil risiko serta kewajiban masing-masing dana syariah,” tambahnya. 

Baca Juga: OJK Catat Premi Asuransi Kendaraan Turun 1,57% Saat Penjualan Kendaraan Naik

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News