Hasil Investasi Reasuransi Turun 50% di Kuartal I-2026, Pasar Keuangan Jadi Penyebab



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hasil investasi industri reasuransi masih dalam tekanan pada awal tahun 2026.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, pada kuartal I-2026, hasil investasi industri reasuransi tercatat sekitar Rp 130 miliar atau turun 50% secara tahunan dari yang sebelumnya Rp 259 miliar pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

Kendati Ketua Umum AAUI, Budi Herawan menyebut pihaknya masih menunggu realisasi data dari OJK untuk periode semester I-2026. Ia memperkirakan adanya peluang perbaikan kinerja pada kuartal II-2026, meski hasil investasi diprediksi masih menghadapi tekanan pada semester I.


Baca Juga: Insentif Likuiditas Makroprudensial ke Perbankan Capai Rp 431,9 Triliun per Juni 2026

"Dengan melihat kondisi pasar selama paruh pertama tahun ini,  hasil investasi semester I diperkirakan masih menghadapi tekanan," ujarnya kepada Kontan, Rabu (22/7/2026).

Ia menegaskan, secara umum hasil investasi industri reasuransi juga belum akan menunjukkan pertumbuhan yang kuat dibanding periode sebelumnya.

Ini karena terdapat tekanan di industri yang dipengaruhi oleh kondisi pasar keuangan dan perubahan valuasi instrumen investasi serta bukan karena penurunan kualitas portofolio. Di sisi lain, hasil underwriting masih jadi salah satu kontributor penting terhadap kinerja industri reasuransi.

Selain itu, ia menjelaskan kalau portofolio investasi perusahaan reasuransi umumnya ditempatkan pada instrumen yang relatif aman, likuid, dan sesuai karakteristik kewajiban perusahaan.

Oleh karenanya, hasil investasi banyak ditopang oleh Surat Berharga Negara (SBN), obligasi, dan deposito berjangka melalui pendapatan kupon maupun bunga.

Sementara itu, investasi saham dan reksa dana disebut masih berpotensi memberikan tambahan hasil meskipun pergerakannya lebih fluktuatif.

Adapun hasil investasi pada periode ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. Mulai dari volatilitas pasar keuangan global, ketidakpastian ekonomi dan geopolitik, pergerakan suku bunga, perubahan imbal hasil obligasi, hingga fluktuasi pasar saham dan nilai tukar. 

Baca Juga: Strategi Fintech UATAS untuk Menjaga Kualitas Pembiayaan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: