Hasil Pemilu AS Tekan Harga Minyak dan Saham Pusat Data di Asia



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hasil pemilu paruh waktu (midterm) Amerika Serikat (AS) yang mengejutkan pasar memicu pergerakan beragam di pasar keuangan global.

Harga minyak dunia dan saham perusahaan pusat data (data centre) di Asia tertekan, sementara saham energi terbarukan justru melonjak.

Kemenangan besar Partai Demokrat dalam pemilu tersebut meningkatkan harapan pasar terhadap meredanya perang AS-Iran.


Investor memperkirakan hasil pemilu akan membatasi ruang gerak Presiden AS Donald Trump untuk meningkatkan eskalasi konflik di Timur Tengah.

Baca Juga: Konflik Iran-AS Memanas, Harga Minyak Mendekati US$ 100 per Barel

Mengutip Reuters, Kamis (5/11/2026), harga minyak mentah Brent sempat anjlok hampir 9% dalam perdagangan semalam hingga turun di bawah US$ 100 per barel. Sepanjang pekan ini, harga Brent telah merosot sekitar 20%.

Jika bertahan hingga penutupan Jumat, penurunan tersebut akan menjadi koreksi mingguan terbesar dalam enam tahun terakhir, sejak April 2020 ketika harga minyak mentah AS sempat masuk ke wilayah negatif.

Pasar menilai kemenangan Demokrat akan meningkatkan tekanan politik terhadap Trump untuk mengakhiri konflik dengan Iran. Terlebih, tingginya harga energi akibat perang turut menjadi salah satu faktor kekalahan Partai Republik.

Trump mengakui perang berperan dalam kekalahan partainya. Wakil Presiden AS JD Vance bahkan secara terbuka menyebut perang sebagai penyebab kekalahan tersebut.

"Alasan kami kalah adalah perang," tulis Vance melalui platform X.

Baca Juga: New York, Negara Bagian AS Pertama yang Berlakukan Moratorium Pusat Data

Ekspektasi meredanya konflik turut mendorong reli di pasar obligasi dan saham. Penurunan harga energi juga memberikan ruang bagi meredanya tekanan inflasi, sehingga mengurangi kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga lanjutan.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 6 basis poin menjadi 4,87%. Pada perdagangan awal di Tokyo, imbal hasilnya kembali turun 1 basis poin. Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor dua tahun melemah sekitar 2 basis poin menjadi 4,56%.

Di pasar valuta asing, dolar AS turut tertekan dan melemah ke level terendah dalam sebulan terhadap euro, dengan nilai tukar mencapai US$ 1,1273 per euro.

Sementara itu, indeks S&P 500 ditutup menguat 1,6%, sedangkan bursa saham Eropa mencapai level tertinggi dalam dua bulan terakhir.

Saham pusat data Asia tertekan

Namun, penguatan pasar saham global tidak merata. Saham perusahaan pusat data dan pemasok peralatan teknologi di Asia justru mengalami tekanan setelah kemenangan Demokrat meningkatkan ekspektasi terhadap regulasi yang lebih ketat bagi pembangunan pusat data.

Sejumlah kandidat Demokrat yang berkampanye dengan membawa isu pembatasan atau moratorium pembangunan pusat data berhasil meraih kemenangan mengejutkan di Texas dan Georgia.

Hasil ini menjadi sinyal meningkatnya penolakan publik terhadap ekspansi pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI).

Sentimen tersebut menekan saham-saham teknologi Asia. Indeks KOSPI Korea Selatan yang didominasi saham semikonduktor merosot 4% dan mendekati level terendah dalam tujuh bulan.

Baca Juga: Optimisme Kesepakatan AS-Iran, Harga Minyak Mentah Turun di Bawah US$ 80 per Barel

Indeks saham Taiwan turun 1,8%, sedangkan Nikkei Jepang melemah 0,5% akibat tekanan pada saham pemasok peralatan teknologi.

Sebaliknya, saham-saham dalam rantai pasok energi surya melonjak paling tinggi. Investor memperkirakan kemenangan Demokrat akan memperkuat dukungan pemerintah AS terhadap energi terbarukan.

Kendati demikian, mayoritas analis menilai perubahan politik tersebut tidak akan menghilangkan kebutuhan terhadap AI, pusat data, maupun chip komputer. Namun, mereka memperkirakan pembangunan pusat data berpotensi mengalami perlambatan sementara akibat meningkatnya tekanan regulasi.

Chris Weston, Kepala Riset Pepperstone di Melbourne, mengatakan besarnya kemenangan Demokrat menjadi faktor yang mengejutkan pelaku pasar.

Dengan demikian, hasil pemilu AS tidak hanya memengaruhi prospek harga minyak dan arah kebijakan energi, tetapi juga mengubah ekspektasi investor terhadap sektor teknologi dan energi terbarukan.