Hasil Riset DBS: Tren Inflasi Ubah Pola Konsumsi Masyarakat Hingga 2024



MOMSMONEY.ID -  Harga-harga bahan pokok masih cukup tinggi, meski inflasi telah mengalami penurunan jelang akhir tahun lalu hingga Januari 2023. Inflasi Januari 2023 tercatat 5,28% secara tahunan, dibanding Desember 2022 yang sebesar 5,51% secara tahunan. 

Melansir data BPS, rata-raka pengeluaran konsumsi per kapita di Indonesia menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. Pengeluaran konsumsi naik 3,6% dari Rp 1,28 juta per bulan pada September 2021 menjadi Rp 1,33 juta pada Maret 2022. 

DBS pun melakukan riset bagaimana inflasi dan ancaman resesi mengubah pola pengeluaran dan konsumsi masyarakat yang tidak hanya terjadi pada pandemi 2020-2022, namun juga terlihat saat inflasi 2013-2015.


Baca Juga: 4 Bahaya Sinar UV untuk Kesehatan Kulit dan Rambut

Peningkatan inflasi 8% pada Juli 2013 dan Desember 2014 dipicu oleh kenaikan harga Premium dan Diesel pada Juni 2013 dan November 2014. Ini disertai dengan kebijakan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga dari 5,75% pada Januari 2013 menjadi 7,5% pada Desember 2015. 

Akibatnya, pengeluaran konsumsi rumah tangga Indonesia menurun dari 5,7% pada awal 2013 menjadi 4,9% pada akhir 2015. Setelah itu, tren pola konsumsi bergeser ke produk non-makanan yang meningkat masing-masing menjadi 50% dan 52,5% pada tahun 2014 dan 2015, dari 49,3% di 2013. Hal ini terjadi atas dasar tingginya pengeluaran untuk perabotan rumah tangga. 

Tahun 2023 diprediksi menjadi tahun yang gelap karena adanya ancaman inflasi dan resesi yang sudah terdengar sejak penghujung tahun 2022. Melalui risetnya, DBS Group Research memprediksi tren pola konsumsi Indonesia pada 2023 dan 2024. Mari simak lima temuan riset tersebut di bawah ini!

Berikut prediksi tren pola konsumsi masyarakat 2023-2024 menurut DBS

1. Pertumbuhan ekonomi tergolong kuat meski angka inflasi cukup tinggi

Relaksasi pembatasan mobilitas masyarakat di Indonesia mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,7% di kuartal III-2022, dari sebelumnya 5,4% di kuartal II-2022. Peningkatan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan angka investasi, dorongan siklus harga komoditas yang tinggi dan peningkatan permintaan serta mulainya kegiatan di sektor jasa. 

Hal ini membantu mengimbangi dampak penurunan pendapatan riil dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Pemerintah juga memperluas subsidi angkutan umum daerah untuk meredam dampak kenaikan harga bahan bakar terhadap daya beli dan memberikan bantuan keuangan bagi rumah tangga berpemasukan menengah ke bawah.

2. Tren konsumsi diprediksi melambat di 2023 karena tingginga angka inflasi

Pada periode 2013-2015 terjadi kenaikan tajam akan harga BBM dan inflasi yang menyebabkan penurunan konsumsi dengan jeda sekitar enam bulan. Hal serupa diprediksi akan terjadi di mana Ekonom DBS Group Research Radhika Rao memprediksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) 2023 akan bertahan di 5%, lebih rendah dari 5,4% pada 2022 lalu.

3. Tren konsumsi masih memiliki kekhawatiran akan indlasi meski sudah turun

DBS Group Research mendapati bahwa kekhawatiran tersebut didasari atas ketakutan akan meningkatnya harga barang dan jasa, terutama harga BBM dan bahan pokok rumah tangga. Walaupun angka inflasi sudah mengalami penurunan menjadi 5,42% secara tahunan pada November (dari 5,95% dan 5,71% secara tahunan pada bulan September dan Oktober), setengah dari responden mengatakan bahwa kenaikan harga tersebut menambah pengeluaran mereka sebanyak lebih dari 10%.  

4. Tren inflasi diprediksi berlangsung sampai 6 bulan ke depan

Menyikapi hal tersebut, masyarakat akan menyesuaikan kebiasaan pengeluaran mereka dengan kondisi ini. Untuk menjawab efek dari naiknya angka inflasi, kebanyakan dari responden lebih memilih untuk lebih banyak menabung atau mengurangi pengeluaran (save more, spend less) dan mencari alternatif barang yang lebih murah. Apabila hal ini terjadi, kita akan melihat perlambatan konsumsi rumah tangga pada 2023.

5. Adanya pergeseran tren konsumsi Indonesia di 2023-2023

Dalam mengubah pola konsumsinya, mayoritas responden memiliki kecenderungan untuk mendahulukan pengeluaran harian seperti belanja bulanan dan BBM, juga keperluan rumah tangga dibanding berlibur atau membeli baju. Selain itu, responden memilih alternatif produk yang lebih murah dalam kategori pengeluaran harian dan mengurangi frekuensi konsumsi pengeluaran non-pokok seperti rekreasi, makan di luar, dan pakaian.

Baca Juga: Begini Cara Menata Rumah Menurut Prinsip Vastu Shastra

Demikian hasil riset DBS mengenai tren inflasi mengubah pola konsumsi masyarakat yang dipublikasikan pada 22 Februari 2023. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Benedicta Alvinta