Hasil Tes Urine Negatif, Para Vaper Sebut Produk Tembakau Alternatif Bukan Narkoba



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kemudahan memperoleh informasi mendorong masyarakat untuk sadar dan lebih selektif dalam memilih produk yang digunakan sehari-hari. Termasuk bagi para konsumen rokok elektronik atau biasa disebut vaper. Para vaper yang tergabung dalam berbagai komunitas mengambil langkah nyata untuk menunjukkan komitmen mereka terhadap pilihan konsumsi yang bertanggung jawab dan bebas dari penyalahgunaan zat terlarang.

Sebagai contoh, komunitas Therion DNA Indonesia beberapa waktu lalu menyelenggarakan kegiatan “Halalbihalal Vapers with Therion DNA Indonesia” di Bekasi yang diikuti lebih dari 50 konsumen vape. Vaper-vaper ini secara sukarela mengikuti tes urine untuk membuktikan bahwa mereka tidak menggunakan rokok elektronik untuk penyalahgunaan narkoba. Hasilnya, seluruh peserta dinyatakan negatif dari berbagai zat narkotika.

Baca Juga: BNN Usul Larangan Vape, Klaim Ditemukan Kandungan Narkotika dalam Cairan


Konselor Adiksi Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Bekasi Linda turut hadir dan menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menyebutkan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan tidak adanya indikasi penyalahgunaan narkotika oleh para peserta yang menggunakan vape legal.

“Berdasarkan tes urine yang telah kita lakukan kepada 50 member (konsumen vape legal), berdasarkan pemeriksaan laboratorium terhadap beberapa golongan NAPZA, didapatkan hasil dari seluruh member yang sudah kita lakukan tes hasilnya negatif, dan tidak ditemukan tanda penggunaan NAPZA. Saya sangat antusias dan mengapresiasi. Mewakili dari BNK Kabupaten Bekasi, saya memberikan applause yang luar biasa untuk member vapers yang mendukung program pemerintah War on Drugs for Humanity,” ujarnya, dikutip Selasa (19/5/2026).

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK) Garindra Kartasasmita menilai kegiatan ini sebagai langkah penting untuk meluruskan persepsi publik terhadap produk tembakau alternatif seperti rokok elektronika. Ia menegaskan bahwa edukasi harus terus diperkuat agar masyarakat tidak salah memahami produk yang sebenarnya memiliki risiko lebih rendah dari rokok.

“Sebanyak 50 orang dites urine dan semua hasilnya negatif. Hasil ini luar biasa dan semoga bisa dilakukan juga di daerah lain. Kita tidak boleh berhenti mengedukasi masyarakat mengenai produk tembakau alternatif. Informasi yang beredar harus benar, bahwa produk ini bukan narkoba,” jelas Garindra.

Ia menambahkan bahwa produk tembakau alternatif seperti vape, produk tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin dapat menjadi pilihan bagi perokok dewasa untuk beralih dari kebiasaan merokok karena memiliki profil risiko yang lebih rendah. Hal tersebut sudah dibuktikan melalui berbagai kajian ilmiah baik di dalam maupun luar negeri.

Di sisi lain, Enggar Dwi Pambudi, pengguna vape sekaligus ketua pelaksana kegiatan, menceritakan pengalamannya saat memutuskan untuk meninggalkan rokok dan beralih ke rokok elektronik karena alasan kenyamanan, seperti tidak meninggalkan bau pada pakaian dan lingkungan sekitar.

“Saya dulu sempat merokok, lalu beralih ke vape. Salah satu alasannya karena bau asap rokok. Vape ini tidak meninggalkan bau di pakaian atau tangan. Apalagi sekarang saya sudah berkeluarga, jadi lebih nyaman. Badan juga terasa lebih ringan,” ujar Enggar.

Menurut Enggar, sangat penting untuk tidak menyamaratakan kasus penyalahgunaan dengan penggunaan vape secara umum. Ia menekankan bahwa jika pun ada oknum yang menyalahgunakan rokok elektronik, hal tersebut tidak merepresentasikan keseluruhan komunitas dan produk.

“Produk ilegal yang mengandung narkoba pasti bukan produk legal yang berpita cukai. Justru kami mendukung pengawasan ketat agar produk tembakau alternatif tidak disalahgunakan atau dicampur dengan zat terlarang,” kata Enggar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News