KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penetapan Harga Batubara Acuan (HBA) periode pertama Agustus 2026 yang turun terjadi sebagai dampak dari dinamika harga di pasar global. Meskipun mengalami penurunan secara bulanan, pergerakan acuan harga komoditas tambang tersebut dipicu oleh melemahnya beberapa indeks batubara dunia yang menjadi pilar utama dalam formulasi penetapan harga oleh pemerintah. Ketua Dewan Penasihat Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli menjelaskan, skema penentuan HBA mengacu pada empat indeks utama dunia, yakni Fluktuasi pada Indeks Newcastle Export Index (NEX), Indonesia Coal Index (ICI), Platts, hingga Globalcoal Newcastle dengan pembebanan masing-masing 25%.
Baca Juga: WEGE Mulai Pembangunan Gedung Poliklinik RSUD Temanggung Menurutnya, ini secara langsung memengaruhi nilai acuan yang dirilis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). "Penetapan HBA dilakukan 2 kali sebulan oleh pemerintah lewat Kementerian ESDM. Kalau melihat data harga batubara global minggu-minggu terakhir Juli dan awal Agustus untuk indeks Newcastle dan Globalcoal Newcastle indeks mengalami penurunan," ujarnya kepada Kontan.co.id, Rabu (12/8/2026). Terkait dampaknya terhadap kinerja pos keuangan para emiten maupun perusahaan tambang, Rizal menilai hal tersebut baru akan terlihat dalam pembukuan periode yang lebih panjang. Menurutnya, dinamika indeks pasar internasional merupakan variabel eksternal yang berada di luar kendali manajemen perusahaan sehingga evaluasi tidak bisa hanya mengacu pada pergerakan jangka pendek. "Pengaruhnya kepada kinerja keuangan bisa terjadi kalau ada perubahan harga, namun hal ini akan dilihat secara triwulanan, semesteran atau tahunan. Karena indeks harga merupakan faktor eksternal yang tidak bisa dikontrol oleh manajemen. Pergerakan harganya lebih ditentukan kepada pengaruh geopolitik global, kondisi iklim, neraca
supply-demand dan penyerapan dari negara importir utama Batubara seperti China dan India," jelasnya. Menatap prospek hingga penghujung tahun, Perhapi memproyeksikan harga batubara cenderung bergerak stabil dengan tingkat volatilitas yang tergolong rendah. Namun demikian, arah pergerakan harga komoditas energi ini masih dibayangi ketidakpastian eskalasi konflik geopolitik yang tengah berlangsung di kawasan strategis Timur Tengah. "Proyeksi harga Batubara sampai akhir tahun ini diperkirakan flat dengan volatilitas rendah. Ini akan tergantung kepada factor geolpolitik global terutama factor ketidakstabilan di Timur Tengah sebagai akibat perang antaran AS/Israel vs Iran di Kawasan teluk. Apabila perang yang terjadi masih berlanjut dan supply migas dari Kawasan selat Hormuz terkendala, tentu harga energi global akan merambat naik. Namun, bila peperangan yang terjadi bisa berhenti dan damai terlaksana maka harga energi tentu akan cenderung turun," pungkasnya. Untuk diketahui, Kementerian ESDM memangkas Harga Batubara Acuan (HBA) khusus kategori batubara berkalori tinggi pada periode pertama bulan Agustus 2026. Penyesuaian tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 312.K/MB.01/MEM.B/2026 tentang Harga Mineral Logam Acuan dan Harga Batubara Acuan untuk Periode Pertama Bulan Agustus Tahun 2026. Untuk batubara berkalori tinggi dengan kesetaraan nilai kalori 6.322 kcal/kg GAR, pemerintah menetapkan HBA sebesar US$ 124,44 per ton pada periode pertama Agustus 2026. Nilai tersebut turun dibandingkan HBA periode kedua Juli 2026 yang berada di level US$ 131,85 per ton.
Baca Juga: Begini Strategi Garuda dan InJourney Sebar Wisman ke Destinasi di Luar Bali & Jakarta Sementara itu, HBA untuk batubara dengan nilai kalori 5.300 kcal/kg GAR ditetapkan sebesar US$ 93,27 per ton di periode pertama Agustus 2026, naik dari periode kedua Juli 2026 yang sebesar US$ 89,90 per ton. Adapun batubara dengan kesetaraan nilai kalori 4.100 kcal/kg GAR dipatok sebesar US$ 65,48 per ton. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang tercatat sebesar US$ 63,25 per ton. Selanjutnya, HBA untuk batubara dengan kesetaraan nilai kalori 3.400 kcal/kg GAR ditetapkan sebesar US$ 45,27 per ton pada periode pertama Agustus 2026. Nilai ini meningkat tipis dibandingkan periode kedua Juli 2026 yang sebesar US$ 45,08 per ton. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News