KONTAN.CO.ID - Deutsche Telekom sedang menjajaki kesepakatan untuk menggabungkan diri dengan unitnya di Amerika Serikat, T-Mobile US, guna membentuk raksasa telekomunikasi lintas Atlantik. Jika terealisasi, transaksi ini akan menjadi merger perusahaan publik terbesar sepanjang sejarah, kata dua sumber yang mengetahui pembahasan tersebut. Sumber
Reuters membisikkan, saham grup asal Jerman itu turun sekitar 5% pada Rabu setelah kabar pembicaraan merger tersebut muncul, yang pertama kali dilaporkan Bloomberg. Deutsche Telekom saat ini sudah memiliki 53% saham T-Mobile. Sementara saham T-Mobile turun 3% dalam perdagangan pra-pasar. Pembicaraan merger ini sudah lama beredar namun masih berada pada tahap awal. Jika terjadi, penggabungan tersebut dapat menciptakan perusahaan dengan kapitalisasi pasar hampir US$ 300 miliar, menjadikannya grup telekomunikasi paling bernilai di dunia dengan lebih dari 200 juta pelanggan seluler.
Skala sebesar itu dapat memperkuat kemampuan finansial perusahaan dan mendukung akuisisi lebih lanjut, kata analis Morgan Stanley. “Daya tarik utamanya adalah memperoleh manfaat kendali, sambil tetap mempertahankan kelincahan dan potensi kenaikan valuasi T-Mobile sebagai bisnis yang berdiri sendiri,” kata analis PP Foresight Paolo Pescatore. Ia menambahkan bahwa T-Mobile semakin menjadi “mesin” penggerak Deutsche Telekom. Kepemilikan Deutsche Telekom atas T-Mobile sudah berlangsung selama 25 tahun dan sempat berubah-ubah seiring waktu. Namun sejak 2020, grup Jerman tersebut bergerak untuk memperketat kendalinya. CEO Timotheus Hoettges juga menjabat sebagai ketua dewan direksi T-Mobile.
Baca Juga: 37.000 Buruh Samsung Bersiap Demo, Produksi Chip Dunia Bisa Tersendat Regulator Diperkirakan Akan Mengawasi Ketat
Kesepakatan potensial yang kompleks ini bertujuan menghidupkan kembali pertumbuhan di sektor telekomunikasi yang stagnan. Namun, merger ini bisa menghadapi hambatan besar dari sisi regulasi dan geopolitik. Pembahasan ini muncul di tengah hubungan diplomatik dan ekonomi yang menegang antara Jerman dan Amerika Serikat, yang dibayangi tarif serta ketegangan terkait perang di Iran. Blair Levin, penasihat kebijakan di New Street Research, mengatakan kesepakatan ini kemungkinan akan mendapat pengawasan ketat di AS. Namun, ia menilai kecil kemungkinan kesepakatan tersebut diblokir semata-mata karena alasan regulasi, meskipun bisa memicu resistensi politik. “Intinya, meskipun akan ada investigasi antimonopoli, keamanan nasional, dan regulasi, investigasi tersebut kecil kemungkinan menemukan masalah yang membuat pemerintah AS memblokir transaksi ini,” ujarnya. “Namun pemerintahan Trump kemungkinan akan menggunakan pengaruh yang muncul dari proses transaksi ini untuk mendorong tujuan yang tidak terkait langsung dengan isu transaksi tradisional, dan di situlah situasinya bisa menjadi rumit.” Kesepakatan apa pun juga memerlukan dukungan negara Jerman, yang merupakan pemegang saham terbesar Deutsche Telekom. Pemerintah dan bank milik negara KfW bersama-sama memegang sekitar 28% saham, dan kepemilikan ini bisa terdilusi dalam entitas gabungan. Deutsche Telekom dan T-Mobile menolak berkomentar. Pemerintah Jerman juga belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar. Dengan beban utang miliaran euro, perusahaan telekomunikasi Eropa beroperasi di pasar yang terfragmentasi dan sangat kompetitif, sehingga mereka terus mencari jalur pertumbuhan baru. Pembicaraan ini juga muncul ketika aktivitas merger dan akuisisi mulai pulih setelah konflik Iran.
Tonton: Kemenperin: Kenaikan Harga Solar Berpotensi Geser Preferensi Konsumen Otomotif Bisa Jadi Merger Publik Terbesar dalam Sejarah
Analis Deutsche Bank mengatakan grup transatlantik kemungkinan lebih mudah mengakses pasar modal untuk mengejar transaksi lintas negara di Eropa maupun Amerika Serikat. Merger ini juga dinilai masuk akal secara strategis bagi Deutsche Telekom karena T-Mobile telah menjadi pendorong kinerja grup yang semakin penting, mengingat pertumbuhan pasar AS lebih kuat dibanding Eropa, menurut para analis.
Dalam proposal tersebut, sebuah perusahaan induk baru akan mengajukan penawaran seluruhnya dalam bentuk saham (all-share offer) untuk kedua perusahaan. Entitas baru akan dimiliki oleh para pemegang saham yang ada dan akan tercatat di bursa Amerika Serikat serta Eropa, menurut Bloomberg. Jika terwujud, transaksi ini akan melampaui merger Vodafone-Mannesmann senilai US$ 202,7 miliar yang diumumkan pada 1999, yang saat ini masih menjadi transaksi terbesar dalam sejarah menurut data LSEG. Deutsche Telekom memiliki nilai pasar sekitar US$ 166 miliar, sedangkan T-Mobile bernilai sekitar US$ 218 miliar. Saham T-Mobile telah kehilangan seperempat nilainya dalam satu tahun terakhir, sementara saham Deutsche Telekom turun sekitar 10%.