Hedging tradisional selamatkan kas Citilink



JAKARTA. Awan mendung yang masih bergelayut menaungi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) memaksa sejumlah perusahaan mengatur siasat. Tak terkecuali perusahaan penerbangan seperti PT Citilink Indonesia. Perusahaan ini banyak membutuhkan dollar untuk menopang biaya operasional. 

Anak perusahan PT Garuda Indonesia Tbk ini rupanya sudah menerapkan strategi lindung nilai kurs alias hedging sejak awal tahun. Caranya memang masih tradisional, yakni rajin menukarkan pendapatan dalam rupiah ke dalam  dollar. "Jadi kami hedging terus per hari  dengan membeli dollar. Setiap kali kami konversi pendapatan ke dollar," papar Arif Wibowo, Direktur Utama Citilink Indonesia, beberapa waktu lalu.

Dampak dari aksi hedging itu, perusahaan yang bergerak dalam jasa penerbangan low cost carrier itu menyatakan tak mengalami kesulitan keuangan sebesar tahun lalu. Sayang, Arif tak membeberkan perbedaan dampak hedging itu secara lebih spesifik.


Yang jelas, Citilink sudah mengonversi 20%–30% dari total pendapatannya dalam wujud dollar AS alias greenback. Mereka lantas memakai duit dollar itu untuk membayar aneka biaya operasional yang juga menuntut denominasi sama. Sebut saja, biaya bahan bakar, biaya sewa, biaya perawatan pesawat dan biaya asuransi. "Kalau ditambah bahan bakar, total pengeluaran dalam dollar bisa mencapai 70% dari pengeluaran," ungkap Arif.

Atas manfaat yang dirasakan itu, Citilink akan melanjutkan strategi hedging dollarnya. Penerapan strategi itu juga memperhatikan perkembangan kondisi makro ekonomi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anastasia Lilin Yuliantina