JAKARTA. Pengamat Pertanian Khudori mengatakan klaim dari Kementerian Pertanian (Kemtan) dapat menghemat devisa Rp 56 triliun tidak bisa dipandang sebagai suatu prestasi pemerintah. Pasalnya, ada harga yang harus dibayar masyarakat dengan naiknya harga-harga komoditas pangan di pasaran. Ia bilang, pengendalian impor saat ini juga baru pada semester pertama. Sementara di semester kedua bisa saja impor melonjak untuk mengatasi dampak kenaikan harga pangan. Ia mengatakan kalau pasokan pangan tersedia, maka sudah seharusnya harga relatif terkendali. "Tapi kalau harga relatif tidak terkendali, maka ada indikasi pasokan tidak seimbang dengan permintaan," ujarnya kepada KONTAN, Senin (28/9). Ia mengatakan kalau pemerintah saat ini berhasil mengendalikan impor, tapi di sisi lain, masyarakat harus menebusnya dengan inflasi di bidang pangan yang tinggi. Maka otomatis daya beli masyarakat menurun. Karena itu, ia mendesak Kemtan juga menghitung dampak yang harus dibayar akibat kebijakan tersebut.
Hemat devisa Rp 56 triliun dari impor, sepadankah?
JAKARTA. Pengamat Pertanian Khudori mengatakan klaim dari Kementerian Pertanian (Kemtan) dapat menghemat devisa Rp 56 triliun tidak bisa dipandang sebagai suatu prestasi pemerintah. Pasalnya, ada harga yang harus dibayar masyarakat dengan naiknya harga-harga komoditas pangan di pasaran. Ia bilang, pengendalian impor saat ini juga baru pada semester pertama. Sementara di semester kedua bisa saja impor melonjak untuk mengatasi dampak kenaikan harga pangan. Ia mengatakan kalau pasokan pangan tersedia, maka sudah seharusnya harga relatif terkendali. "Tapi kalau harga relatif tidak terkendali, maka ada indikasi pasokan tidak seimbang dengan permintaan," ujarnya kepada KONTAN, Senin (28/9). Ia mengatakan kalau pemerintah saat ini berhasil mengendalikan impor, tapi di sisi lain, masyarakat harus menebusnya dengan inflasi di bidang pangan yang tinggi. Maka otomatis daya beli masyarakat menurun. Karena itu, ia mendesak Kemtan juga menghitung dampak yang harus dibayar akibat kebijakan tersebut.