Hennessy Capai Kesepakatan Upah dengan Pekerja di Tengah Tekanan Kinerja LVMH



KONTAN.CO.ID - Produsen cognac milik LVMH Hennessy dikabarkan telah mencapai kesepakatan pengupahan dengan serikat pekerja untuk mengompensasi bonus yang hilang tahun lalu akibat melemahnya penjualan.

Informasi tersebut disampaikan dua sumber kepada Reuters, Jumat (30/1/2026).

Kesepakatan yang dijadwalkan akan ditandatangani secara resmi pada Selasa mendatang ini memberikan sedikit kelegaan bagi divisi minuman LVMH, yang belakangan menghadapi aksi mogok kerja sebuah kejadian yang tergolong jarang di industri barang mewah.


Baca Juga: China Akan Pangkas Tarif Impor Wiski untuk Tingkatkan Perdagangan dengan Inggris

Menurut sumber tersebut, kesepakatan Hennessy mencakup pembayaran satu kali sebesar 6,8% dari gaji tahunan karyawan.

Setiap pekerja dijamin menerima minimal sekitar 3.200 euro (sekitar US$3.817), dengan batas maksimal pembayaran sekitar 6.500 euro.

Juru bicara perusahaan menolak memberikan komentar terkait kesepakatan tersebut.

“Ini berarti tidak akan ada mogok kerja,” ujar salah satu sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan karena pembahasan masih bersifat internal.

Kesepakatan di Hennessy ini berbanding terbalik dengan kondisi di merek champagne LVMH lainnya, yakni Moet & Chandon dan Veuve Clicquot.

Serikat buruh CGT di kedua merek tersebut masih menyerukan aksi mogok lanjutan terkait hilangnya bonus kinerja.

Baca Juga: Trump Sebut Kedekatan Inggris Terhadap China Berbahaya, Starmer Kejar Peluang Ekonomi

Para pekerja bahkan dijadwalkan melakukan aksi protes di sekitar kantor pusat divisi minuman LVMH, Moet Hennessy, di Paris, berdasarkan selebaran serikat yang dibagikan kepada karyawan.

LVMH melaporkan bahwa laba divisi minumannya yang dipimpin bersama oleh Jean-Jacques Guiony dan Alexandre Arnault, putra CEO Bernard Arnault telah terpangkas setengah dalam dua tahun terakhir.

Pendapatan dari cognac menjadi yang paling terpukul, terutama akibat tarif di Amerika Serikat, yang merupakan pasar terbesar Hennessy, di tengah melemahnya permintaan global terhadap minuman beralkohol.

Serikat CGT menyebut Moet Hennessy telah membatalkan bonus bagi hasil keuntungan serta sejumlah tunjangan tahunan lainnya tahun ini, sementara LVMH tetap mempertahankan pembagian dividen kepada para pemegang saham.

Baca Juga: Menteri Pertahanan Korea Selatan dan Jepang Sepakat Meningkatkan Kerja Sama

Skema bagi hasil keuntungan merupakan praktik umum di industri anggur dan minuman beralkohol Prancis, dan dalam tahun-tahun yang baik dapat menyumbang hingga 15% dari total pendapatan tahunan pekerja, menurut perwakilan serikat buruh.

Selanjutnya: Alarm Pasar Properti Inggris Menyala, Persetujuan KPR Terendah dalam 18 Bulan

Menarik Dibaca: 14 Khasiat Konsumsi Terong untuk Kesehatan Tubuh yang Tak Banyak Diketahui