Hermina (HEAL) Raih Kenaikan Pendapatan di Tengah Turunnya Laba Bersih pada 2025



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) mencatatkan kinerja pendapatan bersih yang meningkat di tengah turunnya laba bersih sepanjang tahun 2025.

Berdasarkan laporan keuangannya, pendapatan HEAL mencapai Rp 7,13 triliun per tahun 2025, meningkat 6,19% secara tahunan (year on year/yoy) dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 6,71 triliun.

Rinciannya, pendapatan dari rumah sakit rawat inap mencapai Rp 4,31 triliun, rawat jalan sebesar Rp 2,59 triliun dan pendapatan dari segmen non rumah sakit sebesar Rp 213,71 miliar.


Sejalan dengan kenaikan pendapatan bersih, beban pokok pendapatan juga meningkat 10,23% yoy menjadi Rp 4,72 triliun, dari Rp 4,28 triliun pada tahun sebelumnya.

Alhasil, laba bruto HEAL justru turun tipis 0,89% yoy menjadi Rp 2,41 triliun pada 2025, dibandingkan Rp 2,44 triliun pada 2024.

Di sisi lain, beban usaha tercatat naik 5,26% yoy menjadi Rp 1,47 triliun, dari Rp 1,40 triliun. Sementara itu, penghasilan lain-lain neto naik menjadi Rp 25,69 miliar dari sebelumnya Rp 21,49 miliar.

Baca Juga: Ekspansi Jaringan & Perkuat Layanan Eksekutif, Hermina (HEAL) Siapkan Capex Besar

Dengan demikian, laba usaha HEAL turun 8,62% yoy menjadi Rp 967,04 miliar, dari Rp 1,06 triliun pada 2024.

Tekanan terhadap laba juga datang dari sisi pembiayaan. Biaya keuangan dan administrasi bank naik cukup signifikan 33,13% yoy menjadi Rp 238,44 miliar, dari Rp 179,10 miliar pada tahun sebelumnya. Adapun penghasilan keuangan turun menjadi Rp 26,28 miliar, dari Rp 28,03 miliar.

Kondisi tersebut membuat laba sebelum beban pajak penghasilan HEAL turun 16,78% yoy menjadi Rp 754,88 miliar pada 2025, dari Rp 907,15 miliar pada 2024.

Setelah dikurangi pajak, laba neto tahun berjalan HEAL tercatat sebesar Rp 548,96 miliar, turun 20,34% yoy dari Rp 689,13 miliar pada tahun sebelumnya.

Sementara itu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih turun 19,85% yoy menjadi Rp 429,55 miliar, dibandingkan Rp 535,94 miliar pada 2024.

Sejalan dengan penurunan laba, laba per saham HEAL juga turun menjadi Rp 28,40 per saham, dari Rp 36,11 per saham pada tahun sebelumnya.

Direktur Utama HEAL, Yulisar Khiat, menjelaskan bahwa kenaikan pendapatan di tengah penurunan laba bersih merupakan dampak yang lazim terjadi pada fase ekspansi bisnis.

Tahun lalu perusahaan membuka empat rumah sakit di Ibu Kota Nusantara, PIK 2, Ciawi dan Aceh. 

Baca Juga: Akan Buka Tiga Rumah Sakit Baru, Kinerja HEAL 2026 Diproyeksi Pulih Bertahap

"Kami perlu menambah biaya operasional untuk mendukung keempat rumah sakit tersebut. Sebab dokter, perawat, back office team, dan lainnya semuanya meningkat. Ini yang membuat laba bersih turun sementara," ucap Yulisar kepada Kontan, Sabtu (28/3/2026).

Untuk tahun 2026, Yulisar menuturkan bahwa tantangan sekaligus peluang utama HEAL berkaitan dengan perubahan kebijakan di sektor kesehatan, seperti standardisasi kelas KRIS, tarif coding baru INA-DRG, serta coordination of benefit. Meski demikian, HEAL mengaku telah menyiapkan diri untuk menghadapi perubahan tersebut.

Lalu tantangan lainnya ialah persiapan Rumah Sakit berbasis kompetensi dengan minimal kompetensi madya dengan pemenuhan alat penunjang kesehatan dan penambahan dokter-dokter spesialis dan sub spesialis. 

Di tengah berbagai tantangan dan peluang tersebut, HEAL tetap membidik pertumbuhan pendapatan double digit pada 2026, dengan target pertumbuhan laba bersih yang tetap sehat.

Untuk mencapai target itu, HEAL akan mulai memfokuskan strategi pada peningkatan jumlah pasien eksekutif. Selain itu, HEAL juga akan memperkuat pengendalian biaya, terutama untuk obat-obatan, melalui digitalisasi layanan farmasi.

Baca Juga: Saham Terus Turun, Hermina (HEAL) Anggarkan Dana Buyback Rp 200 Miliar

Di sisi lain, Research Analyst MNC Sekuritas, Rudy Setiawan, menilai kinerja HEAL masih menunjukkan sejumlah indikator operasional yang solid.

Menurut dia, HEAL tetap mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 6% yoy menjadi sekitar Rp 7,1 triliun. HEAL juga mencatatkan pemulihan yang cukup tajam pada paruh kedua 2025, tercermin dari jumlah pasien rawat inap yang melonjak 18% pada semester II-2025, setelah cenderung stagnan pada semester I-2025.

Rudy juga menyoroti tingkat hunian tempat tidur (bed occupancy rate/BOR) yang mencapai 73%, yang menurutnya masih berada pada level sehat untuk menopang operasional rumah sakit.

Sementara penurunan laba disebabkan oleh dua faktor utama. Pertama, biaya ekspansi, seiring penambahan rumah sakit baru dan kenaikan gaji tenaga medis seperti dokter dan perawat. Kedua, tekanan dari daya beli masyarakat dan dinamika di sektor asuransi kesehatan, yang sempat memengaruhi permintaan pada awal tahun.

Meskipun laba tertekan biaya ekspansi, pertumbuhan jumlah pasien yang signifikan di akhir tahun 2025 memberikan sinyal positif untuk kinerja tahun 2026. 

"Penurunan laba saat ini adalah 'biaya' yang harus dibayar perusahaan untuk tumbuh lebih besar di masa depan," tulis Rudy dalam risetnya, Kamis (26/3/2026).

Secara teknikal, MNC Sekuritas melihat posisi HEAL masih berada di fase downtrendnya dan masih disertai dengan munculnya tekanan jual. MACD masih menyempit di area negatif dan rawan deadcross, serta indikator Stochastic yang masih rawan terkoreksi di area netral. 

Saat ini, rekomendasi untuk saham HEAL ialah wait and see dengan level support di level Rp 1.210 dan resistance Rp 1.275 per saham.

Baca Juga: Ekspansi Rumah Sakit Dorong Prospek Hermina (HEAL) 2026, Cek Rekomendasinya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News