Hexindo (HEXA) Siapkan Strategi Kejar Target Penjualan US$ 589,3 Juta di Tahun Ini



KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) optimistis dapat mencapai target kinerja tahun fiskal 2026 meski realisasi penjualan pada kuartal I belum maksimal.

Manajemen HEXA menargetkan penjualan sebesar US$ 589,3 juta pada tahun fiskal 2026. Target tersebut setara peningkatan 14% dibandingkan realisasi penjualan tahun fiskal 2025 yang sebesar US$ 515,42 juta. Presiden Direktur HEXA Dwi Swasono menyampaikan manajemen masih berupaya untuk mencapai target tersebut dengan mendandalkan sejumlah katalis positif, mulai dari penyelesaian order backlog, potensi peningkatan aktivitas pertambangan, hingga pertumbuhan permintaan dari sektor agro.

Baca Juga: Krisis Melanda Industri HPAL, FINI Sambut Revisi Formula HPM Nikel Kadar Rendah


“Ada berapa order backlog yang memang belum terdelivery customer ini terkait dengan order customer customer menunda akan delivery terkait dengan RKB dan saat ini RKB per Agustus kemarin sudah keluar dan kita juga akan merevisi RKB diharapkan RKB revisi akan naik sehingga aktivitas tambang meningkat," ujar Dwi dalam Paparan Publik Virtual, pada Kamis (17/9). Ia menambahkan, pada kuartal I tahun fiskal 2026 perseroan belum melakukan pengiriman untuk giant machine. Kondisi tersebut terjadi karena RKB baru tersedia pada kuartal II.

Dengan demikian, mulai kuartal II hingga Februari tahun depan, HEXA akan melakukan pengiriman atas backlog yang masih tersisa kepada pelanggan utama di sektor pertambangan. Sebagai penyumbang porsi terbesar penjualan, HEXA juga melihat peluang pertumbuhan dari sektor agro. Manajemen menyebut kenaikan harga komoditas menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong permintaan alat berat dari sektor tersebut.

Untuk mendukung pertumbuhan bisnis ke depan, perusahaan terus memperkuat portofolio produk. Belum lama ini, perusahaan baru saja memperkenalkan sejumlah produk baru yang menyasar sektor konstruksi dan agro.

Pada akhir Juli 2026, HEXA meluncurkan seri Wixim yang terdiri dari model wheeled loader dan bulldozer untuk melengkapi produk perseroan, khususnya di sektor konstruksi.

Baca Juga: Hexindo (HEXA) Hadapi Tekanan Margin, Efek Tertekan Pelemahan Rupiah

HEXA juga memperkenalkan produk baru untuk sektor agro berupa Argo Dump Truck 4x2 yang menyasar kebutuhan operasional sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit.

Perkuat purna jual hadapi produk China

Di tengah semakin banyaknya produk alat berat asal China yang masuk ke pasar Indonesia, HEXA menempatkan penguatan layanan purna jual sebagai bagian dari strategi perseroan.

Dwi menilai jaringan purna jual menjadi salah satu faktor penting dalam bisnis alat berat karena pelanggan mempertimbangkan ketersediaan dukungan setelah pembelian.

"Yang pertama adalah kita tetap terus melakukan penguatan di purna jual karena kunci dari menjaga capital goods seperti alat berat adalah harus kuat di produk support dengan network yang ada di seluruh Indonesia, 51 network tentunya penguatan-penguatan itu terus dilakukan agar produk-produk baru kita baik yang baru kita launching maupun yang sebelumnya itu semakin diakui di pasaran,” jelas Dwi. 

Selain itu, HEXA juga mengembangkan digitalisasi layanan melalui Hexindo Smart Assistant (HSA). Platform tersebut menjadi sarana bagi pelanggan untuk mengakses kebutuhan part dan service, informasi promosi, hingga tips perawatan alat melalui video.

HSA yang telah dirilis sejak 2025 juga terus dikembangkan pada 2026 dengan pemanfaatan teknologi AI. Pengembangan tersebut diarahkan untuk meningkatkan komunikasi antara pelanggan dan dealer, khususnya dalam memberikan respons terkait kebutuhan part dan service.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News