KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menghentikan konflik di Timur Tengah menghadapi hambatan baru setelah kelompok militan Hezbollah yang didukung Iran menolak kesepakatan gencatan senjata di Lebanon. Di saat yang sama, Israel menegaskan tidak akan menarik pasukannya dari wilayah Lebanon selatan. Penolakan tersebut berpotensi menggagalkan strategi Washington yang berupaya meredakan konflik di Lebanon sebagai bagian dari langkah diplomatik yang lebih luas untuk mencapai perdamaian dengan Iran. Iran sebelumnya menjadikan gencatan senjata di Lebanon sebagai salah satu syarat utama dalam setiap kesepakatan damai dengan Amerika Serikat. Dalam beberapa hari terakhir, Teheran juga mengisyaratkan kemungkinan keterlibatan langsung apabila Israel terus melancarkan serangan di Lebanon.
Pemimpin Hezbollah, Naim Qassem, secara terbuka menolak kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat antara Israel dan pemerintah Lebanon untuk menghentikan pertempuran. Hezbollah tidak terlibat dalam proses negosiasi tersebut. Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari Israel, Lebanon, maupun Amerika Serikat terkait penolakan tersebut.
Baca Juga: SpaceX Tetap Patok Harga IPO US$135 per Saham, Minat Investor Membludak Sementara itu, Israel terus melancarkan serangan di wilayah Lebanon selatan. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa pasukan Israel tidak akan ditarik dari kawasan tersebut dan operasi militer akan tetap berlanjut. Israel diketahui melancarkan invasi ke Lebanon pada Maret lalu, bersamaan dengan pecahnya perang yang lebih luas dengan Iran. Komandan Pasukan Quds dari Garda Revolusi Iran, yang berperan dalam pembentukan Hezbollah pada 1982, menyatakan bahwa syarat minimum bagi Israel adalah mundur ke posisi yang ditempati sebelum perang dimulai.
Gencatan Senjata Berjalan Setengah Hati
Selain Lebanon, warga di Gaza, Israel utara, dan Kuwait juga masih menghadapi serangan dalam beberapa hari terakhir meskipun terdapat kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat. Trump bahkan mengakui pada Rabu (3/6) bahwa kesepakatan tersebut hanya menghasilkan kondisi di mana pihak-pihak yang bertikai melakukan "penembakan dengan cara yang lebih moderat", bukan penghentian total pertempuran. Di kawasan Teluk, pasukan Iran dan Amerika Serikat kembali saling melancarkan serangan pada Rabu dalam salah satu eskalasi paling intens sejak awal April, ketika gencatan senjata sebelumnya berhasil menghentikan konflik berskala besar.
Baca Juga: Harga Emas Turun, Tertekan Konflik Timur Tengah dan Ancaman Suku Bunga Menurut otoritas setempat, serangan Iran menghantam bandara Kuwait dan menyebabkan satu orang tewas serta lebih dari 60 orang terluka. Sebagai balasan, militer AS melancarkan serangan di sekitar Selat Hormuz. Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Namun, jalur tersebut sebagian besar tidak beroperasi normal sejak perang dimulai tiga bulan lalu.
Harga Minyak Turun Meski Ketegangan Berlanjut
Data pengiriman menunjukkan ekspor minyak Iran telah turun ke level terendah dalam enam tahun terakhir. Meski demikian, harga minyak dunia justru melemah sekitar 3% karena muncul harapan bahwa gencatan senjata di Lebanon dapat membuka jalan bagi solusi diplomatik antara Washington dan Teheran. Namun hingga saat ini, kemajuan diplomatik masih sangat terbatas. Meski begitu, sejak akhir Maret lalu Trump berulang kali menyatakan bahwa kesepakatan damai sudah semakin dekat. Di dalam negeri, Trump menghadapi tekanan untuk menurunkan harga bahan bakar menjelang pemilu Kongres AS pada November mendatang. Pada Rabu, ia juga menghadapi kritik langka ketika Dewan Perwakilan Rakyat AS memberikan suara untuk memblokir kelanjutan perang. Meskipun demikian, langkah tersebut lebih bersifat simbolis karena kecil kemungkinan Trump akan mengesahkannya menjadi undang-undang.
Baca Juga: Penjualan Panel Surya Lesu, Produsen China Genjot Bisnis Baterai Pemimpin Tertinggi Iran Klaim Musuh Sudah Kalah
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, pada Kamis (4/6/2026) menyatakan bahwa musuh-musuh Iran telah mengalami kekalahan di medan perang dan kini berupaya memecah belah masyarakat Iran dari dalam.
Khamenei belum pernah terlihat di depan publik sejak menggantikan ayahnya yang tewas akibat serangan udara pada awal perang. Pemerintah Iran diketahui menginginkan akses kembali terhadap miliaran dolar pendapatan minyak, pelonggaran sanksi ekspor minyak mentah, pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhannya, serta pengaruh yang lebih besar atas Selat Hormuz. Di sisi lain, Trump menegaskan bahwa prioritas utama pemerintahannya adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Teheran terus membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa program nuklirnya semata-mata ditujukan untuk tujuan damai. Badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis menyatakan bahwa program nuklir Iran secara umum tidak mengalami perubahan signifikan meskipun negara tersebut telah menjalani tiga bulan konflik bersenjata.