Hijrah ke Batam, sukses merintis usaha bengkel (2)



Jalan hidup Sujak Widodo penuh dengan lika-liku. Sebelum sukses berbisnis bengkel, hidupnya banyak dirundung kesusahan. Sujak kecil lahir di Surabaya pada 30 Desember 1959. Ia datang dari keluarga dengan ekonomi serba kekurangan. Karena tidak punya biaya, pada kelas 1 SMP, Sujak terpaksa putus sekolah pada 1975. Saat itu, ia  masih berdomisili di Surabaya, Jawa Timur.Prihatin atas kondisi keluarga yang serba pas-pasan, pada 1975 itu ia nekat merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. “Waktu itu naik kereta tidak bayar. Karena memang tidak punya uang. Di Jakarta sempat jadi anak nakal,” ujar Sujak. Sesampainya di Jakarta, singkat cerita ia bekerja di sebuah bengkel bodi mobil. Di bengkel itu ia bekerja sebagai tukang dempul dan cat pada 1979. Selama bekerja di bengkel itu ia banyak belajar. Pada 1980, Sujak hijrah ke Medan dan kembali bekerja di sebuah bengkel. Selang dua tahun kemudian, ia kembali lagi ke Jakarta dan bekerja di bengkel di kawasan Cibinong, Bogor.Kemudian pada 1993 ia pindah kerja di bengkel lain yang berlokasi di Jalan Warung Buncit, Jakarta Selatan. Ketika bekerja di bengkel ini, Sujak merasa pemilik berlaku tidak adil terhadap karyawan.Di bengkel itu, ada penghargaan terhadap karyawan yang kinerjanya bagus akan dikirim ke Singapura untuk belajar lebih banyak soal mobil. "Nah, saya merasa kerja saya bagus, tapi tetap tidak diberangkatkan karena yang diberangkatkan hanya karyawan yang punya hubungan famili dengan si pemilik,” ungkap bapak lima anak ini.Maka, pada 1994 ia pun keluar dari bengkel tersebut dan pindah ke Kota Batam. Kota ini dipilih karena secara geografis dekat dengan Singapura. Keputusannya itu tergolong nekat karena ia hanya membawa uang Rp 117.000. Uang sebesar itu habis buat biaya perjalanan. Untungnya, Sujak langsung diterima bekerja di sebuah bengkel hari itu juga dan diizinkan menginap di bengkel tersebut.Di bengkel ini ia hanya bekerja hingga tahun 1996. Ia dipecat lantaran disangka akan pindah bekerja di sebuah bengkel di Jakarta. Saat Sujak meminjam mobil bengkel, ternyata ada yang menyelipkan surat palsu pemanggilan wawancara di sebuah bengkel di Jakarta.Surat palsu itu sampai ke tangan atasannya dan Sujak pun diberhentikan secara pihak. Kecewa atas hal itu, akhirnya Sujak bersama empat orang karyawannya mendirikan sebuah bengkel di Batam. Untuk modal awal mereka mendapat pinjaman Rp 20 juta dari salah satu kantor temannya. “Tetapi lama-lama hutang tersebut saya juga yang bayar. Dan sekarang saya berdiri sendiri,” tambahnya. Lambat laun, Sujak Motor mulai dikenal masyarakat Batam. Hal itu tak lepas dari gencarnya promosi yang dilakukan Sujak. Selain gencar promosi, bengkel ini juga dikenal lantaran pelayanannya yang memuaskan. Untuk mempertahankan kualitas layanannya, Sujak terus mengasah keterampilan para karyawannya.Saat ini Sujak Motor mempekerjakan 12 orang karyawan tetap.  Pada tahun depan, Sujak berencana membangun cabang baru di Tangerang, Banten dan Garut, Jawa Barat. (Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News