Hilirisasi Batubara Jadi Bensin Bisa Dilakukan, Tapi Investasinya Berat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengembangan hilirisasi batubara menjadi bahan bakar seperti bensin dinilai memiliki peluang untuk diterapkan di Indonesia. Namun, besarnya kebutuhan investasi dan biaya produksi menjadi tantangan utama untuk menarik minat investor swasta.

Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) menilai teknologi untuk mengolah batubara menjadi produk turunan, termasuk bahan bakar cair, sebenarnya sudah tersedia dan telah diterapkan di sejumlah negara.

Ketua Umum Perhapi, Sudirman Widhy menjelaskan, secara global teknologi untuk mengubah batubara menjadi berbagai produk industri turunan seperti bensin telah tersedia.


Ia mencontohkan Afrika Selatan yang telah memiliki fasilitas pabrik untuk proses teknologi coal to liquid sejak lama melalui perusahaan Sasol.

Sudirman menyatakan, proses awal pengubahan batubara menjadi bensin sebenarnya sama dengan proses pengubahan batubara menjadi dimethyl ether (DME) seperti yang digadang-gadang oleh pemerintah saat ini, yaitu mengubah batubara terlebih dahulu menjadi gas sintesis.

Baca Juga: Lautan Luas Dukung Pengembangan Wirausaha Muda Lewat Kolaborasi dengan YBP

"Dengan cara, batubara direaksikan dengan oksigen dan uap air pada suhu/tekanan tinggi menjadi gas sintesis, yang merupakan campuran CO (karbon monoksida) dan H2 (hidrogen)," ujarnya kepada Kontan, Senin (28/9/2026).

Namun, ia menyoroti kebutuhan biaya dalam pengembangan proyek hilirisasi batubara menjadi bensin yang masih cukup besar. Beban tersebut mencakup biaya modal (capital expenditure/capex) maupun biaya operasional.

Dengan besarnya kebutuhan investasi tersebut, total biaya produksi dinilai masih lebih tinggi dibandingkan harga jual produk yang dihasilkan. Kondisi ini membuat Perhapi menilai belum banyak pihak swasta yang berani berinvestasi atau menanamkan modal dalam proyek hilirisasi batubara.

"Namun, kami setuju jika program hilirisasi batubara ini sebaiknya sudah dimulai sejak saat ini sebagai antisipasi menghadapi situasi global yang tidak menentu," kata Sudirman.

Menurut Sudirman, hilirisasi batubara juga dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi risiko ketergantungan terhadap bahan bakar yang masih harus diimpor, seperti minyak dan gas, untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.

Selain itu, Indonesia memiliki peluang dari sisi ketersediaan sumber daya batubara berkalori rendah (low calorie) yang melimpah. Jenis batubara tersebut dapat menjadi salah satu bahan baku dalam pengembangan hilirisasi.

Dalam klasifikasi yang digunakan pemerintah, lanjut Sudirman, batubara kalori rendah memiliki nilai kalor hingga sekitar 4.200 kilokalori per kilogram (kkal/kg) berdasarkan kondisi batubara saat baru ditambang atau Gross As Received (GAR).

Baca Juga: Fitch Pertahankan Rating PLN di BBB, Kebutuhan Capex Naik dan Utang Jadi Sorotan

Umumnya, batubara kalori rendah berupa lignite ataupun sub-bituminus, serta memiliki kadar air (moisture) dan sulfur yang relatif tinggi.

Sebagian besar sumber daya dan cadangan batubara kalori rendah tersebut berada di Pulau Sumatera dan Kalimantan, terutama di wilayah Sumatera Selatan, seperti Tanjung Enim dan Muara Enim, serta Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Dengan mempertimbangkan kendala kelayakan ekonomi yang masih dihadapi, Perhapi menyarankan pemerintah untuk memulai program hilirisasi batubara menjadi bensin terlebih dahulu.

Saat ini, kata Sudirman, pihak yang dapat diandalkan untuk membiayai investasi program hilirisasi batubara tersebut adalah Danantara. Badan ini menurutnya dapat bekerja sama dengan BUMN produsen batubara seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA) maupun pengelola usaha perminyakan yakni PT Pertamina (Persero) untuk mulai menggarap proyek pengubahan batubara menjadi bensin.

"Jika proyek pemerintah ini berjalan dengan sukses dan feasible secara keekonomian, bukan tidak mungkin akan diikuti juga oleh pihak-pihak lain (swasta) untuk menanamkan investasinya di proyek ini," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News