HIMKI: Rupiah Melemah Bisa Jadi Peluang Ekspor, Tapi Bukan Satu-satunya Faktor



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menilai pelemahan nilai tukar rupiah dapat membuat harga produk ekspor Indonesia terlihat lebih kompetitif di pasar global.

Namun, Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur menegaskan, daya saing produk ekspor tidak hanya ditentukan oleh kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Baca Juga: PHRI Proyeksikan Industri Pariwisata 2026 Berat, Kuartal II Jadi Penentu


Menurut dia, terdapat sejumlah faktor lain yang turut menentukan daya saing produk Indonesia di pasar internasional, mulai dari harga, kualitas, desain, kapasitas produksi, sertifikasi, compliance, ketepatan pengiriman, hingga konsistensi pasokan.

“Jadi rupiah lemah bisa menjadi window of opportunity, tetapi tidak boleh dijadikan satu-satunya strategi,” ujar Abdul Sobur kepada Kontan.co.id, Rabu (20/5/2026).

Karena itu, HIMKI menilai daya saing industri nasional harus dibangun melalui peningkatan produktivitas dan penguatan ekosistem industri secara menyeluruh.

Baca Juga: PHRI Waspadai Dampak Geopolitik dan Harga Tiket Pesawat terhadap Pariwisata 2026

Abdul menjelaskan pelemahan rupiah memang dapat membantu dari sisi harga ekspor, tetapi di sisi lain juga berpotensi menekan daya saing apabila biaya produksi meningkat.

“Rupiah lemah bisa membantu dari sisi harga ekspor, tetapi juga bisa melemahkan daya saing jika biaya produksi naik, bahan impor mahal, bunga tinggi, logistik mahal, dan cashflow terganggu,” katanya.

Menurut HIMKI, industri mebel dan kerajinan masih memiliki ketergantungan terhadap sejumlah komponen impor sehingga fluktuasi kurs tetap menjadi tantangan bagi pelaku usaha.

Karena itu, HIMKI menilai stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi faktor penting bagi eksportir.

Baca Juga: Habis pada Mei 2026, Weda Bay Nickel Tunggu Tambahan Kuota Produksi dari Revisi RKAB

Eksportir membutuhkan kurs yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga stabil dan dapat diprediksi agar memudahkan penyusunan harga, kontrak bisnis, hingga perencanaan produksi.

“Kurs yang terlalu bergejolak menyulitkan pelaku usaha menyusun harga, kontrak, dan perencanaan produksi,” tutup Abdul Sobur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News