KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menyiapkan arah baru pengembangan industri mebel dan kerajinan nasional di tengah perubahan industri global. Strategi tersebut akan dibahas dalam Musyawarah Nasional (Munas) ke-4 HIMKI yang digelar di The Trans Resort Bali, Denpasar, 14-16 September 2026. Munas yang mengusung tema "Transformasi Bersama Menuju Indonesia sebagai Pusat Mebel dan Kerajinan Dunia" tersebut menjadi momentum evaluasi sekaligus penyusunan program kerja HIMKI untuk tiga tahun ke depan.
Ketua
Steering Committee (SC) Munas ke-4 HIMKI, A. Kuswidiarso, mengatakan perubahan lingkungan usaha membuat industri mebel dan kerajinan perlu beradaptasi dengan berbagai tantangan baru.
Baca Juga: Guardian Indonesia Fokus Perkuat Bisnis Omnichannel pada 2026 dan 2027 “Munas ini merupakan momentum penting untuk melakukan refleksi atas perjalanan organisasi, mengevaluasi capaian dan tantangan yang telah kita lalui, sekaligus menentukan arah strategis HIMKI untuk tiga tahun ke depan,” ujar Kuswidiarso dalam keterangan resmi, Senin (14/9/2026). Menurut dia, sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi industri antara lain dinamika geopolitik, perubahan rantai pasok global, tuntutan keberlanjutan, perkembangan teknologi, perubahan perilaku konsumen, serta persaingan yang semakin tajam. “Munas adalah ruang tertinggi untuk menyusun garis-garis besar program kerja sekaligus merumuskan rekomendasi kebijakan yang akan menjadi pijakan organisasi dalam mendorong kemajuan industri mebel dan kerajinan nasional,” katanya. Di sisi lain, Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur menilai Indonesia memiliki modal yang cukup besar untuk memperkuat posisi sebagai salah satu pusat industri mebel dan kerajinan dunia. Modal tersebut mencakup ketersediaan bahan baku, keterampilan perajin, keragaman budaya, kemampuan desain, serta basis produksi di berbagai daerah. Namun, menurut Sobur, keunggulan tersebut perlu dibarengi dengan peningkatan produktivitas, pemanfaatan teknologi, penguatan desain, peningkatan nilai tambah, dan perluasan akses pasar. “Indonesia tidak cukup hanya dikenal sebagai pemasok bahan baku atau produk berbiaya murah. Kita harus naik kelas menjadi bangsa pencipta produk bernilai tambah tinggi, berkarakter Indonesia, berkelanjutan, dan diperhitungkan di pasar dunia,” katanya. Munas kali ini juga menjadi momentum regenerasi kepemimpinan HIMKI. Sobur menegaskan pergantian kepengurusan harus tetap menjaga kesinambungan program dan perjuangan organisasi. “Munas bukan sekadar pergantian kepengurusan. Munas adalah ruang untuk memastikan HIMKI semakin kuat, profesional, inklusif, dan mampu menjawab kebutuhan nyata para pelaku industri. Regenerasi harus berjalan dengan baik, tetapi kesinambungan visi, program, dan perjuangan industri juga harus tetap terjaga,” ujar Abdul Sobur. Sementara itu, Ketua
Organizing Committee (OC) Munas ke-4 HIMKI, Hani Duarsa, mengatakan Bali dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan karena memiliki fasilitas pertemuan, akomodasi, serta infrastruktur pariwisata yang mendukung kegiatan berskala nasional maupun internasional. “Kami merasa terhormat dipilih sebagai tempat pelaksanaan Munas. Kami berharap Munas ke-4 menghasilkan program kerja nyata dan terbaik untuk HIMKI,” ujar Hani.
Dalam Munas ke-4, HIMKI juga membahas laporan pertanggungjawaban kepengurusan periode 2023-2026, tata kelola dan kelembagaan, program kerja periode berikutnya, serta regenerasi kepemimpinan. Hasil Munas diharapkan menjadi pijakan HIMKI dalam memperkuat daya saing industri mebel dan kerajinan nasional, sekaligus mendorong Indonesia meningkatkan posisi dalam rantai pasok industri global.
Baca Juga: Bahlil Ungkap UC Rusal Bakal Bangun Pabrik Alumina di Kalimantan Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News