HIMKI Targetkan Ekspor Furnitur dan Kerajinan Indonesia Tumbuh di Atas 8% Tahun Ini



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Himpunan Industri Mebel Dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) optimistis ekspor furnitur dan kerajinan Indonesia akan kembali tumbuh positif pada tahun ini. HIMKI memperkirakan penjualan ekspor bisa meningkat di atas 8% menjadi US$ 3.67 miliar.

Ketua Presidium Abdul Sobur menjelaskan, meskipun prospek pasar ekspor hingga awal tahun ini belum terlihat stabil, HIMKI tetap optimistis kinerja penjualan furnitur dan kerajinan di pasar ekspor tetap bisa bertumbuh.

"Pertumbuhan tahun 2023 ini masih akan ditopang oleh permintaan dari Amerika Serikta (AS) yang diperkirakan akan naik di atas 9%," ujar Abdul, ketika dihubungi Kontan.co.id, hari ini.


Baca Juga: Pemerintah dan Pelaku Usaha Akan Genjot Ekspor Produk Kayu ke Amerika Serikat

Selain pasar Amerika Serikat yang menjadi tujuan utama ekspor furnitur dan kerajinan Tanah Air. Pasar Uni Eropa menjadi kontributor utama kedua bagi eksportir furnitur dan kerajinan Indonesia.

Abdul bilang, permintaan dari Uni Eropa dan negara Eropa lainnya diperkirakan akan meningkat sekitar 2% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut memang tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya, mengingat kondisi global seperti konflik Rusia-Ukraina yang masih terjadi hingga saat ini.

Selain menggaet pasar AS dan Uni Eropa sebagai kontributir utama, para pengusaha furnitur juga akan tetap melakukan ekspansi atau penetrasi pasar ke negara-negara emerging market dan negara Asia lainnya.

HIMKI mencatat, penjualan ke Amerika Serikat mencapai 54% dari total ekspor Indonesia ke dunia, diikuti oleh negara Uni Eropa 28%.

Optimisme HIMKI akan kembali naiknya ekspor pada tahun 2023 diperkuat oleh beberapa aspek, salah satunya gelaran pameran Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2023 yang akan berlangsung pada 9-12 Maret 2023.

Baca Juga: Dobrak Pasar Ekspor, IKM Pangan Wajib Penuhi Standar Mutu dan Keamanan

Menurutnya, lewat IFEX 2023 ini diperkirakan akan terjadi transaksi minimal US$ 700 juta, dengan nilai transaksi on the spot sebesar US$ 200 juta dan US$ 500 juta untuk transaksi follow up.

Aspek lainnya yakni, perubahan strategi orientasi pasar dan/atau perluasan pasar ke negara-negara emerging market yang dinilai kondisi perekonomiannya relatif stabil.

"Kedua memperbanyak dan memperluas saluran pemasaran salah-satunya adalah melalui digital marketing dan mengikuti berbagai pameran baik di negara-negara maju maupun negara emerging market," tuturnya.

Lalu terakhir, adalah upaya dan langkah Pemerintah untuk mengurangi hambatan-hambatan dan membantu para pelaku usaha dalam mewujudkan perubahan-perubahan strategi penjualan produknya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto