HIMKI Targetkan Ekspor Mebel Tembus US$ 3 Miliar pada 2026, Begini Strateginya



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Industri mebel dan kerajinan Indonesia menatap optimistis kinerja ekspor pada 2026. Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI)) menargetkan nilai ekspor mebel nasional dapat menembus lebih dari US$ 3 miliar atau sekitar Rp 51,45 triliun (asumsi kurs US$ 1 = Rp 17.150).

Target tersebut lebih tinggi dibandingkan target tahun 2025 yang sebesar US$ 2,9 miliar, dengan realisasi hingga akhir tahun mencapai US$ 2,6 miliar. Artinya, industri mebel nasional masih menghadapi tantangan untuk kembali ke jalur pertumbuhan yang lebih kuat.

Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur menegaskan bahwa target 2026 disusun secara realistis namun tetap optimistis.


“Untuk 2026, HIMKI menyampaikan secara realistis namun optimistis. Kami melihat target utama bukan sekadar mengejar lonjakan, tetapi mengembalikan ekspor ke lintasan naik dan menembus kembali level di atas US$ 3 miliar,” ungkap Abdul kepada Kontan, Rabu (15/04/2026).

Menurutnya, prospek industri mebel pada 2026 masih berada dalam zona positif, meski belum sepenuhnya bebas dari tekanan global.

Baca Juga: Strategi XLSmart Telecom (EXCL) Bidik Pelanggan Mobile hingga Korporasi pada 2026

“Ada dua arus yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, pasar global mulai menunjukkan ruang pemulihan dan buyer tetap mencari alternatif pasok di luar beberapa negara pesaing. Di sisi lain, industri masih menghadapi tekanan biaya, logistik, suku bunga, dan ketidakpastian geopolitik yang membuat pembelian belum sepenuhnya ekspansif,” jelasnya.

Target Jangka Menengah: Ekspor US$ 6 Miliar dalam 5 Tahun

Selain target jangka pendek, HIMKI juga menetapkan sasaran ambisius dalam jangka menengah, yakni mendorong ekspor furnitur nasional mencapai US$ 6 miliar dalam lima tahun ke depan. Tahun 2026 diposisikan sebagai fase konsolidasi untuk pemulihan (rebound), diversifikasi pasar, serta penguatan daya saing industri.

Di sisi lain, isu bahan baku kayu masih menjadi perhatian utama pelaku industri. HIMKI menilai persoalan tidak semata pada ketersediaan kayu secara nasional, melainkan lebih pada kelancaran rantai pasok, kecocokan jenis dan kualitas (grade), stabilitas harga, serta alokasi untuk industri hilir.

“Secara agregat, data BPS menunjukkan produksi kayu bulat dan kayu olahan nasional tetap ada, sehingga persoalan utamanya lebih banyak pada tata kelola rantai pasok daripada kelangkaan absolute,” ungkap dia.

HIMKI juga menyoroti risiko kebijakan yang berpotensi mendorong keluarnya bahan baku kayu mentah dari rantai nilai domestik. Organisasi ini secara tegas menolak relaksasi ekspor kayu bulat/log.

“Karena itu HIMKI menolak relaksasi ekspor kayu bulat/log, sebab bagi industri mebel dan kerajinan, bahan baku kayu bisa menyumbang sekitar 40%–60% dari total biaya produksi,” ungkapnya.

Baca Juga: Wijaya Karya (WIKA) Topping Off Pembangunan RSJPD Harapan Kita–Tokushukai

Sebagai informasi, ketentuan relaksasi ekspor kayu bulat/log diatur dalam Permendag No. 22 Tahun 2023 dan Permendag No. 23 Tahun 2023, yang memperpanjang relaksasi untuk kayu olahan tertentu dengan spesifikasi tertentu.

Abdul menambahkan, gangguan pada pasokan bahan baku akan berdampak langsung pada industri.

“Jika harga bahan baku melonjak atau pasokan ke hilir terganggu, dampaknya langsung ke utilisasi pabrik, daya saing, dan penyerapan tenaga kerja,” tambah Abdul.

Tiga Solusi untuk Perkuat Industri

Untuk menjaga keberlanjutan industri, HIMKI mengusulkan tiga langkah strategis. Pertama, penguatan pasokan kayu berkualitas untuk industri dalam negeri dengan menjaga orientasi hilirisasi.

Kedua, peningkatan integrasi hulu–hilir serta efisiensi logistik agar distribusi bahan baku lebih cepat dan pasti menuju sentra industri.

Ketiga, pengembangan bahan alternatif dan material berkelanjutan seperti bambu dan engineered materials untuk mengurangi ketergantungan pada kayu keras tertentu.

“Kemenperin sendiri juga mendorong diversifikasi material, sementara HIMKI menekankan bahwa kelancaran pasokan bahan baku adalah faktor kunci keberlanjutan produksi,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: