KONTAN.CO.ID-JAKARTA. PT Bank Sahabat Sampoerna tetap mempertahankan fokus pembiayaan pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hingga Juni 2026, pembiayaan UMKM Bank Sampoerna mencapai sekitar Rp6,2 triliun, atau hampir 60% dari total kredit perseroan. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp5,5 triliun disalurkan secara langsung kepada pelaku UMKM. Sementara itu, pembiayaan UMKM secara tidak langsung melalui jaringan mitra, seperti perusahaan fintech, multifinance, koperasi, dan modal ventura, mencapai Rp628,8 miliar. Secara keseluruhan, total penyaluran pembiayaan Bank Sampoerna hingga akhir Juni 2026 mencapai Rp10,6 triliun, yang sebagian besar berasal dari segmen
wholesale business. Baca Juga: Laba Bank Sampoerna Melesat 41% pada Semester I-2026 Direktur Finance & Business Planning Bank Sampoerna Henky Suryaputra mengatakan, perlambatan pertumbuhan kredit UMKM terjadi seiring dinamika ekonomi dan daya beli masyarakat yang masih berproses menuju pemulihan penuh. "Meskipun menghadapi tantangan dari dinamika ekonomi dan daya beli masyarakat yang masih berproses menuju pemulihan penuh, sehingga penyaluran kredit UMKM kami mengalami perlambatan, komitmen Bank Sampoerna terhadap segmen kerakyatan tetap solid," ujar Henky kepada kontan.co.id, Senin (24/8). Menurut dia, hingga kuartal II-2026, porsi penyaluran kredit UMKM masih mendominasi dan mencapai hampir 60% dari total portofolio kredit perseroan. Di sisi lain, pertumbuhan kredit pada segmen lain seperti
financial institution dan
wholesale masih menunjukkan kinerja yang cukup baik. Bank Sampoerna melihat prospek penyaluran kredit pada 2026 masih positif. Namun, perseroan memperkirakan pertumbuhan kredit UMKM belum akan setinggi segmen lainnya. Henky mengatakan, segmen wholesale berpotensi tumbuh lebih tinggi sejalan dengan berbagai program pemerintah yang mendorong distribusi makanan secara masif. "Segmen UMKM mungkin belum dapat tumbuh tinggi, tetapi segmen lain seperti kredit
wholesale dapat tumbuh lebih tinggi, sejalan dengan program pemerintah yang mengedepankan distribusi makanan secara masif," katanya. Meski demikian, perseroan tetap optimistis terhadap prospek penyaluran kredit pada tahun ini. Optimisme tersebut dengan catatan berbagai insentif kebijakan moneter, fiskal, serta stimulus pemerintah dan regulator dapat menciptakan ekosistem bisnis yang lebih kondusif. Dalam menggenjot penyaluran kredit, Bank Sampoerna menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya dinamika kondisi makroekonomi global dan domestik yang dapat memengaruhi daya beli masyarakat. Selain itu, tingkat suku bunga acuan juga menjadi perhatian karena membutuhkan pengelolaan likuiditas yang cermat agar suku bunga kredit tetap kompetitif bagi debitur. Perseroan juga perlu memperkuat mitigasi risiko kredit untuk menjaga kualitas aset di tengah ketidakpastian yang dapat dihadapi sebagian pelaku usaha. Untuk menghadapi tantangan tersebut, Bank Sampoerna menyiapkan sejumlah strategi. Salah satunya memanfaatkan teknologi untuk mempercepat proses asesmen, pengajuan, hingga persetujuan kredit agar lebih efisien dan mudah diakses. Perseroan juga memperluas kemitraan dengan berbagai institusi keuangan, ekosistem fintech, serta rantai pasok (
supply chain) untuk menjangkau basis debitur yang lebih luas.
Selain pembiayaan, Bank Sampoerna memberikan nilai tambah melalui edukasi bisnis dan pengelolaan keuangan bagi nasabah UMKM agar usaha mereka semakin tangguh dan mampu naik kelas. "Untuk memperkuat penyaluran kredit secara optimal dan berkualitas, Bank Sampoerna memastikan pertumbuhan kredit tetap diiringi oleh kualitas aset yang sehat melalui pemantauan portofolio secara berkala," pungkas Henky.
Baca Juga: Survei Igloo: 92% Pembeli Asuransi Perjalanan Mendahulukan Perlindungan Medis Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News