HIPMI Dorong Reformasi Pasar Modal Usai MSCI Kaji Ulang Status Indonesia



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) mendorong percepatan reformasi pasar modal nasional menyusul langkah Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membuka konsultasi mengenai kemungkinan reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Pembenahan transparansi kepemilikan saham, kualitas free float, serta penegakan aturan dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor global.

Sekretaris Jenderal Badan Pengurus Pusat HIPMI Anthony Leong mengatakan, rencana MSCI tersebut perlu disikapi secara serius, tetapi tetap tenang dan konstruktif. Menurut dia, momentum ini dapat dimanfaatkan untuk mempercepat pembenahan tata kelola dan integritas pasar modal Indonesia.

“HIPMI melihat persoalan MSCI ini bukan sebagai alasan untuk panik, tetapi sebagai momentum untuk mempercepat pembenahan. Yang perlu dijaga bukan hanya pergerakan indeks saham hari ini, tetapi kepercayaan investor terhadap kualitas pasar modal Indonesia dalam jangka panjang,” ujar Anthony dalam keterangan resmi, Jumat (16/10/2026).


MSCI pada 15 Oktober 2026 membuka konsultasi mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Dalam konsultasi tersebut, MSCI menyoroti sejumlah persoalan, termasuk transparansi struktur kepemilikan saham, konsentrasi kepemilikan, dugaan pola perdagangan terkoordinasi, serta penegakan aturan. Keputusan final dijadwalkan paling lambat pada akhir Juni 2027.

Baca Juga: Rupiah Ambles Kena Sentimen MSCI, Reformasi Pasar Modal Dinilai Belum Cukup

Anthony menilai pemerintah dan regulator telah mengambil sejumlah langkah perbaikan. Langkah tersebut antara lain peningkatan keterbukaan informasi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1%, klasifikasi investor yang lebih terperinci, penerapan pelaporan High Shareholding Concentration, serta penyusunan peta jalan menuju minimum free float sebesar 15%.

Namun, ia menekankan bahwa implementasi kebijakan tersebut perlu dipercepat agar dampaknya dapat terlihat secara konsisten oleh investor global.

“Pemerintah sudah bergerak ke arah yang benar. Sekarang yang perlu dilakukan adalah mempercepat eksekusi dan menunjukkan bukti konkret. Investor global perlu melihat bahwa kepemilikan saham semakin transparan, free float semakin berkualitas, dan praktik perdagangan yang tidak sehat ditindak secara tegas,” katanya.

Untuk memperkuat kepercayaan investor, HIPMI mendorong pemerintah dan regulator meningkatkan keterbukaan informasi mengenai pemilik manfaat akhir atau ultimate beneficial ownership serta hubungan afiliasi antar pemegang saham. Selain itu, kualitas free float perlu dipastikan mencerminkan saham yang benar-benar dimiliki investor independen.

HIPMI juga menilai pengawasan dan penegakan hukum terhadap transaksi yang berpotensi mengganggu pembentukan harga saham yang wajar perlu diperkuat. Komunikasi antara pemerintah, regulator, MSCI, dan investor institusi global juga perlu diintensifkan selama periode konsultasi.

“Indonesia tidak perlu meminta standar diturunkan. Justru Indonesia harus menunjukkan bahwa kita mampu menaikkan standar pasar kita sendiri,” ujar Anthony.

Ia menambahkan, pemerintah dapat membentuk tim lintas lembaga dengan target dan tenggat waktu yang jelas untuk menindaklanjuti berbagai persoalan yang menjadi perhatian investor global sebelum keputusan final MSCI pada Juni 2027.

Baca Juga: IHSG Anjlok 11,4%, Usulan Penurunan Status MSCI Picu Risiko Dana Asing Keluar

Menurut Anthony, pembenahan tersebut seharusnya menjadi bagian dari agenda reformasi pasar modal nasional, bukan sekadar respons terhadap evaluasi satu lembaga indeks.

“Isu ini sebaiknya diperlakukan sebagai bagian dari national capital market reform agenda. Bukan sekadar respons terhadap satu lembaga indeks, tetapi pembenahan yang memang dibutuhkan untuk memperkuat pasar modal Indonesia,” ujarnya.

Di tengah tekanan pasar pada Jumat (16/10/2026), HIPMI turut mengapresiasi kehadiran Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad bersama sejumlah pemangku kepentingan di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk memantau perkembangan situasi pasar dan koordinasi penanganannya.

Anthony menilai kehadiran pimpinan DPR tersebut menunjukkan bahwa persoalan kepercayaan dan stabilitas pasar modal mendapat perhatian serius dari berbagai unsur negara.

“Kami mengapresiasi Bapak Profesor Sufmi Dasco Ahmad dan Danantara yang langsung hadir ke Bursa dan ikut memastikan komunikasi serta koordinasi berjalan cepat. Dalam kondisi seperti ini, pasar membutuhkan ketenangan, kepastian, dan pesan yang jelas bahwa pemerintah, parlemen, regulator, serta seluruh pemangku kepentingan bergerak bersama,” katanya.

Meski demikian, Anthony mengingatkan bahwa respons cepat terhadap tekanan pasar perlu diikuti reformasi yang konkret dan terukur. Menurut dia, upaya menjaga stabilitas indeks saham saja tidak cukup untuk membangun kepercayaan investor dalam jangka panjang.

“Jangan hanya menjaga level IHSG. Yang harus kita jaga adalah kredibilitas pasar. Kalau transparansi, tata kelola, dan enforcement semakin kuat, kepercayaan investor juga akan semakin kuat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Anthony menilai kredibilitas pasar modal memiliki kaitan langsung dengan akses pembiayaan dunia usaha. Pasar modal yang semakin dipercaya dapat membuka peluang bagi perusahaan nasional untuk memperoleh pendanaan bagi ekspansi bisnis, investasi, hilirisasi, hingga penciptaan lapangan kerja.

“Bagi HIPMI, pasar modal bukan hanya urusan investor saham. Ini adalah bagian dari ekosistem pembiayaan dunia usaha. Semakin dipercaya pasar modal Indonesia, semakin besar kesempatan perusahaan nasional mendapatkan akses modal dengan biaya yang kompetitif,” jelasnya.

Karena itu, HIPMI mendorong pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan memanfaatkan evaluasi MSCI sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas pasar modal Indonesia. Tujuannya tidak hanya mempertahankan status Emerging Market, tetapi juga memperkuat transparansi, tata kelola, dan integritas pasar agar semakin memenuhi standar investasi global.

Baca Juga: IHSG Anjlok Usai Pengumuman MSCI, Mirae Proyeksi Dana Asing Bisa Keluar US$ 3 Miliar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News