KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6% pada 2027 dinilai dapat menjadi momentum bagi dunia usaha untuk mempercepat ekspansi bisnis. Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) menilai pencapaian target tersebut sangat bergantung pada terjaganya stabilitas ekonomi dan meningkatnya kepercayaan pelaku usaha. Presiden Prabowo Subianto menetapkan target pertumbuhan ekonomi 2027 sebesar 6% dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Target tersebut lebih tinggi dibandingkan sasaran pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2026 yang sebesar 5,4%. Sekretaris Jenderal Badan Pengurus Pusat HIPMI Anthony Leong mengatakan, pemerintah telah menempatkan investasi, penguatan industri nasional, konsumsi rumah tangga, dan transformasi struktural sebagai bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi tahun depan.
Menurut dia, peluang akselerasi ekonomi pada 2027 akan semakin terbuka apabila stabilitas ekonomi tetap terjaga dan kepercayaan dunia usaha menguat.
Baca Juga: Anggaran Perlinsos 2027 Naik Jadi Rp 549,9 Triliun, Ini Programnya “Kami melihat 2027 bisa menjadi tahun akselerasi apabila stabilitas ekonomi tetap terjaga dan kepercayaan dunia usaha semakin kuat. Growth harus ditransmisikan menjadi business expansion dan job creation,” kata Anthony kepada KONTAN Sabtu (15/8/2026). Anthony menilai pertumbuhan ekonomi pada 2027 perlu semakin berkualitas. Pertumbuhan tersebut tidak cukup hanya tercermin dari peningkatan produk domestik bruto (PDB), tetapi juga harus diikuti kenaikan investasi produktif dan ekspansi dunia usaha. Selain itu, pertumbuhan ekonomi diharapkan mampu mendorong munculnya pengusaha baru, meningkatkan produktivitas, serta memperluas penciptaan lapangan kerja. Arah tersebut sejalan dengan kerangka RAPBN 2027 pemerintah yang menempatkan konsumsi rumah tangga, investasi, perbaikan iklim usaha, dan penguatan industri nasional sebagai bagian dari strategi pertumbuhan ekonomi.
HIPMI Soroti Iklim Usaha dan Investasi
Anthony mengatakan pemerintah telah melakukan sejumlah langkah sepanjang 2026 untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Langkah tersebut antara lain menjaga stabilitas ekonomi, mendorong investasi, melakukan debottlenecking, serta deregulasi untuk memperbaiki iklim usaha.
Baca Juga: Target Pertumbuhan Ekonomi 6% Tahun 2027, HIPMI Soroti 4 Tantangan Dunia Usaha Meski demikian, implementasi berbagai kebijakan tersebut masih perlu diperkuat agar dampaknya semakin terasa bagi pelaku usaha. Hal ini terutama berlaku bagi pengusaha muda, kelas menengah, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang ingin meningkatkan skala bisnis. “Bagi HIPMI, keberhasilan 2027 tidak cukup hanya dilihat dari satu angka pertumbuhan. Kami ingin melihat lebih banyak pengusaha melakukan ekspansi, UMKM naik kelas, investasi baru terealisasi, pengusaha daerah masuk rantai pasok industri, dan lapangan pekerjaan semakin banyak tercipta,” ujar Anthony.
Menurut dia, keputusan investasi pelaku usaha pada akhirnya dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti kondisi pasar, kepastian regulasi, ketersediaan pembiayaan, dan tingkat biaya usaha. HIPMI juga menilai investasi yang masuk ke Indonesia perlu memberikan keterkaitan yang lebih besar dengan pengusaha lokal. Dengan demikian, investasi tidak hanya meningkatkan kapasitas ekonomi, tetapi juga menciptakan multiplier effect yang lebih luas. Dengan kondisi tersebut, HIPMI melihat 2027 berpeluang menjadi tahun akselerasi ekonomi Indonesia. Namun, peningkatan pertumbuhan ekonomi perlu diikuti dengan ekspansi usaha dan penciptaan lapangan kerja agar manfaatnya lebih nyata dirasakan oleh sektor riil. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News