Hippindo Prediksi Penjualan Ritel Tumbuh 5% pada 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) memperkirakan kinerja industri ritel sepanjang 2026 masih mampu tumbuh stabil sekitar 5%,

Namun, Hippindo juga tak menampik tekanan diperkirakan meningkat pada semester II-2026 seiring berakhirnya musim belanja atau peak season pada paruh pertama tahun ini.

Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah mengatakan, kinerja penjualan ritel pada semester I-2026 ditopang momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta Ramadan dan Idulfitri yang berlangsung pada periode Januari hingga April.


“Kinerja penjualan semester I kita kebantu sama Januari-April itu Nataru dan Lebaran jadi masih cukup baik. Tapi di semester kedua ini jadi masalah, setelah habis semester I," ujarnya kepada Kontan.co.id, Rabu (15/7/2026) lalu. 

Menurutnya, setelah momentum Lebaran berakhir, aktivitas belanja masyarakat cenderung melambat. 

Baca Juga: Aturan Baru PKB EV Berpotensi Ubah Strategi Pabrikan Mobil Listrik

Periode Juni hingga Agustus yang bertepatan dengan musim libur sekolah dan kebutuhan back to school memang menjadi pola musiman yang relatif lebih lemah setiap tahunnya.

Untuk itu, pelaku usaha berharap pemerintah dapat kembali mengeluarkan stimulus konsumsi pada bulan Agustus yang  bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia agar mampu mendorong daya beli masyarakat.

“Kami harapkan pemerintah bisa mengeluarkan stimulus di bulan Agustus untuk menggerakkan ekonomi nasional untuk ulang tahun Indonesia, sehingga bisa mengangkat daya beli," jelas Budihardjo.

Di sisi lain, Hippindo menyebut, minat ekspansi pelaku ritel ke pusat perbelanjaan masih tinggi, terutama pada mal-mal dengan tingkat kunjungan yang baik. 

Adapun, faktor lokasi tetap menjadi pertimbangan utama bagi peritel dalam membuka gerai baru.

Dari sisi kategori, ekspansi masih didominasi merek-merek internasional, terutama di segmen supermarket, kesehatan dan kecantikan, elektronik, serta F&B. Sementara itu, sektor fesyen masih cenderung menahan ekspansi.

Baca Juga: Kapasitas Data Center Indonesia Berpotensi Tembus 2,4 GW pada 2030

Meski demikian, Hippindo mengingatkan sejumlah tantangan yang masih membayangi industri ritel, mulai dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS) hingga berbagai regulasi pemerintah yang dinilai dapat menghambat investasi maupun daya beli masyarakat.

"Tantangan sektor ritel selain tadi dolar AS naik namun lebih utamanya peraturan pemerintah baik pemda, perda, pusat yang akan mengganggu investasi maupun daya beli, seperti untuk produk impor sulit masuk, padahal sangat dibutuhkan dan merknya sangat dicari,"imbu Budihardjo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News