Hitungan dan Rekomendasi Saham Link Net (LINK) Pasca Dibeli XL Axiata (EXCL)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT XL Axiata Tbk (EXCL) kini menjadi pemilik baru PT Link Net Tbk (LINK). Sejak 27 Januari 2022, perusahaan yang berbasis di Malaysia, Axiata dan PT XL Axiata Tbk sepakat untuk membeli 1,8 miliar saham di Link Net dari pemilik sebelumnya yakni Asia Link Dewa Pte Ltd dan PT First Media Tbk (KBLV). 

Nilai pembelian EXCL mewakili 66,03% saham LINK tidak termasuk 3,9% saham treasuri. Dalam transaksi tersebut Axiata akan memiliki 1,3 miliar saham setara dengan 46,03% dan EXCL memiliki 550 juta saham setara dengan 20%. EXCL membeli saham LINK di harga Rp 4.800 per saham setara dengan 5,5 kali PER di tahun 2022. 

Sementara kepemilikan saham LINK yang lain adalah PT First Media Tbk (KBLV) memiliki 799 juta saham setara dengan 29,04% di LINK. Lainnya dimiliki Asia Link Dewa Pte yang mempunyai 1 miliar setara dengan 36,99% saham LINK. 


Baca Juga: Mencermati Dampak Akuisisi LINK Terhadap Kinerja XL Axiata (EXCL)

Efek dari pembelian saham EXCL tersebut melakukan tender offer pada pemilik saham LINK yang lain. Ini sesuai peraturan OJK no 9/POJK.04/2018. Dimana harga penawaran tender (tender offer) harus lebih tinggi dari harga rata-rata 90 hari dari harga perdagangan harian tertinggi dan harga tender tertinggi yang diusulkan selama 180 hari terakhir sebelum pengumuman. "Ini artinya harga penawaran tender alias tender offer kemungkinan minimal Rp 4.800 per saham," terang Willy Suwanto dan Michele A Nugroho Analis CGS CIMB Sekuritas Indonesia dalam riset 27 Januari 2022. 

Jika dibandingkan harga penutupan saham LINK pada 28 Januari 2022 yang ada di Rp 4.430 per saham maka harga saham LINK masih berpotensi naik 8,35% menuju ke harga tender offer. 

Willy mengatakan, penggabungan tersebut akan menguntungkan EXCL dibanding LINK. Sebab setelah dimiliki EXCL maka layanan fixed broadband LINK akan menjadi terbesar kedua di Indonesia setelah Indihome Telkom. Nah jika digabungkan dengan EXCL secara konvergen akan meningkatkan penawaran XL Satu Fiber. Dimana kini XL juga tengah menawarkan kuota telekomunikasi keluarga serta layanan home fiber. 

Baca Juga: Axiata Group dan XL Axiata Akuisisi 66% Saham Link Net (LINK) Senilai Rp 8,72 Triliun

Sinergi lainnya termasuk peluncuran jaringan berbasis LINK dan analitik data seluler XL untuk biaya dari memanfaatkan serat satu sama lain dan menjadi tulang punggung. "Setelah menyelesaikan migrasi jaringan LINK, kami mengharapkan biaya yang lebih sehat untuk LINK dan meningkatkan kualitas layanan yang akan menarik pelanggan potensial tertarik untuk berlangganan paket bundling telko," ujar Willy. 

Willy juga yakin transaksi ini akan meningkatkan pendapatan untuk EXCL dengan asumsi kepemilikan sebesar 20% di LINK. "Namun, kami yakin EXCL akan memperluas operasi broadband," ujar dia. 

Hitungan CGS CIMB berdasarkan DCF target harga LINK sebesar Rp 5.200 per saham. "Ini menyiratkan EV/EBITDA pada tahun 2022 di 6 kali pada operasi yang kokoh terutama pasca migrasi," jelas Willy. Karena itu, Willy memberi rekomendasi ADD saham LINK. 

Katalis penilaian ulang adalah ARPU berkelanjutan dan penambahan pelanggan baru selama migrasi jaringan. "Risiko penurunan adalah kenaikan biaya dan hambatan lain yang lebih tinggi selama migrasi," kata Willy. 

Hingga akhir tahun 2021, CGS CIMB Sekuritas memperkirakan pendapatan LINK akan mencapai Rp 4,27 triliun dengan laba bersih Rp 914 miliar. Sementara pada tahun 2022 dia memperkirakan, pendapatan dan laba bersih LINK masing-masing akan mencapai Rp 4,53 triliun dan Rp 916 miliar. 

Baca Juga: Akuisisi LINK, Simak Proyeksi Analis untuk XL Axiata (EXCL)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Avanty Nurdiana