HKI Sambut Pembentukan Satgas De Bottlenecking untuk Atasi Hambatan Investasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) mengapresiasi dan mendukung penuh langkah strategis Presiden Prabowo Subianto dalam membentuk Satuan Tugas (Satgas) untuk menghilangkan berbagai hambatan investasi di Indonesia atau De-Bottlenecking.

Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia, Akhmad Maruf Maulana, menilai bahwa langkah ini merupakan terobosan penting dalam mempercepat realisasi investasi nasional. Khususnya dalam menjawab berbagai kendala yang selama ini dihadapi para pelaku usaha, mulai dari keterlambatan administratif hingga praktik-praktik yang merugikan investor.

HKI memandang kehadiran Satgas ini akan menjadi katalis dalam menciptakan ekosistem investasi yang lebih efisien, transparan, dan kompetitif, sehingga mampu meningkatkan daya tarik Indonesia di mata investor global. 


"Di tengah dinamika geopolitik global, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia, HKI menilai kondisi ini harus dimanfaatkan secara strategis sebagai peluang untuk menarik relokasi industri global sekaligus momentum untuk berbenah diri secara menyeluruh," ungkap Maruf dalam rilis yang disiarkan pada Kamis (2/4/2026).

Baca Juga: HKI: Tumpang Tindih Aturan & Perizinan Berlapis Hambat Investasi di Kawasan Industri

Dalam situasi global seperti saat ini, HKI menyoroti banyak perusahaan internasional tengah melakukan diversifikasi rantai pasok (supply chain diversification). Indonesia harus mampu menangkap peluang tersebut dengan memastikan kesiapan kawasan industri yang kompetitif, didukung oleh infrastruktur yang memadai, kepastian regulasi, serta proses perizinan yang cepat dan efisien.

Momentum ini juga harus dimanfaatkan untuk melakukan reformasi struktural, khususnya dalam mengatasi berbagai hambatan investasi di tingkat daerah. Dalam praktiknya, masih ditemukan sejumlah kendala seperti perizinan yang berbelit dan tidak sinkron antar instansi, keterlambatan pelayanan administratif, ketidakpastian tata ruang, hingga munculnya praktik-praktik yang merugikan investor.

HKI menilai bahwa permasalahan-permasalahan tersebut cenderung berulang dari tahun ke tahun, sehingga perlu diselesaikan secara sistematis dan konsisten. Maruf menekankan pentingnya menjaga integritas dalam implementasi kebijakan investasi. 

Dia menekankan, seluruh pihak perlu memastikan tidak ada praktik-praktik yang menghambat proses investasi, termasuk penyalahgunaan nama pemerintah atau Presiden. Dus, iklim investasi yang kondusif harus dijaga bersama.

Baca Juga: HKI Usul Bentuk Tim Percepatan Kawasan Industri untuk Mengurai Hambatan Investasi

"Masih terdapat berbagai hal dalam proses investasi yang perlu menjadi perhatian dan penyempurnaan bersama, guna menjaga persepsi dan kepercayaan investor. Hal tersebut diharapkan dapat terus dibenahi melalui upaya bersama seluruh pemangku kepentingan,” ujar Maruf.

Menurut Maruf, Indonesia harus mengubah cara pandang dalam menghadapi ketidakpastian global, lebih proaktif dan agile. Maruf menegaskan komitmen HKI untuk terus bersinergi dengan pemerintah pusat maupun daerah dalam mendukung implementasi kebijakan tersebut, serta memastikan kawasan industri di Indonesia siap menjadi garda terdepan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

“Di tengah berbagai hambatan, selalu ada peluang. Kondisi geopolitik saat ini harus menjadi momentum untuk berbenah diri sekaligus mempercepat langkah dalam menarik investasi global. Kuncinya adalah kecepatan eksekusi, kepastian regulasi, dan keberanian membereskan hambatan di lapangan, khususnya di daerah. Jika ini dapat dilakukan secara konsisten, Indonesia berpotensi besar menjadi tujuan utama relokasi industri dunia," tandas Maruf.

Baca Juga: Outlook Fitch Negatif, HKI Desak Percepatan Realisasi Investasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News