KONTAN.CO.ID - TOKYO. Honda Motor mencatat kerugian tahunan pertama dalam hampir 70 tahun sejak melantai di bursa saham pada 1957. Kerugian tersebut dipicu beban restrukturisasi bisnis kendaraan listrik (
electric vehicle/EV) yang mencapai lebih dari US$ 9 miliar. Kondisi ini sekaligus mendorong produsen otomotif terbesar kedua di Jepang itu membatalkan sejumlah target ambisius kendaraan listrik jangka panjangnya.
Baca Juga: Mengejutkan! PDB Inggris Diramal Kontraksi, Jadinya Malah Tumbuh 0,3% CEO Honda Toshihiro Mibe mengatakan, perusahaan membatalkan target kontribusi EV sebesar 20% terhadap total penjualan mobil baru pada 2030. Honda juga menghapus target transisi penuh ke kendaraan listrik dan
fuel-cell pada 2040. “Kami harus menyesuaikan strategi dengan kondisi permintaan pasar yang berkembang,” ujar Mibe dikutip
Reuters, Kamis (14/5/2026). Honda juga memutuskan menunda tanpa batas proyek kendaraan listrik di Kanada senilai US$ 11 miliar yang sebelumnya dirancang menjadi investasi terbesar perusahaan di negara tersebut. Proyek itu mencakup pembangunan fasilitas produksi mobil listrik dan baterai EV. Untuk tahun buku yang berakhir Maret 2026, Honda membukukan rugi operasional sebesar 414,3 miliar yen atau sekitar US$ 2,63 miliar.
Baca Juga: Xi Jinping Klaim Negosiasi Dagang AS-China Mengalami Kemajuan, Taiwan Jadi Sorotan Angka tersebut lebih buruk dibanding perkiraan analis sebesar rugi 315,6 miliar yen berdasarkan survei LSEG. Sebagai perbandingan, pada tahun sebelumnya Honda masih membukukan laba sebesar 1,2 triliun yen. Secara total, Honda mencatat kerugian terkait bisnis EV sebesar 1,45 triliun yen sepanjang tahun buku lalu. Perseroan juga memperkirakan masih akan menghadapi tambahan biaya sekitar 500 miliar yen pada tahun fiskal yang baru berjalan. Meski demikian, Honda optimistis dapat kembali mencetak laba tahun ini dengan proyeksi keuntungan sebesar 500 miliar yen. Perseroan berharap efisiensi biaya dan kinerja kuat bisnis sepeda motor dapat menopang pemulihan keuangan. Honda menyebut bisnis sepeda motor akan terus diperkuat melalui ekspansi kapasitas produksi di India dan menargetkan penjualan rekor sebesar 22,8 juta unit.
Baca Juga: Xi Jinping Puji Posisi Baru Hubungan AS-China Usai Bertemu Donald Trump Penjualan motor yang kuat di India dan Brasil sebelumnya membantu Honda mencetak rekor volume penjualan dan laba operasional pada segmen roda dua. Kinerja tersebut menjadi penopang di tengah tekanan bisnis EV dan penurunan penjualan mobil di pasar utama seperti China. Selain itu, Honda memperkirakan kenaikan harga bahan baku, termasuk dampak konflik Timur Tengah, akan menekan laba operasional sekitar 313 miliar yen pada tahun fiskal berjalan.