KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produsen otomotif asal Jepang, Honda Motor, mencatatkan lonjakan kinerja keuangan pada kuartal pertama tahun fiskal 2026/2027 yang berakhir Juni 2026. Perusahaan membukukan kenaikan laba operasional pertama dalam enam kuartal terakhir sekaligus menaikkan proyeksi kinerja sepanjang tahun. Peningkatan tersebut ditopang oleh pelemahan nilai tukar yen terhadap dolar Amerika Serikat (AS) serta tidak adanya beban terkait tarif impor AS yang sempat membebani kinerja perusahaan pada periode yang sama tahun lalu. Mengutip Reuters, Rabu (5/8), Honda menaikkan proyeksi laba operasional sepanjang tahun fiskal sebesar 30% menjadi 650 miliar yen atau sekitar US$ 4,1 miliar, dari sebelumnya 500 miliar yen.
Selain itu, perusahaan juga merevisi naik proyeksi laba bersih dan pendapatan seiring perubahan asumsi nilai tukar mata uang.
Baca Juga: Yen Melemah, Honda Kerek Proyeksi Laba Operasional Tahunan Pada kuartal April–Juni 2026, laba operasional Honda melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi 530,8 miliar yen dibandingkan 244,2 miliar yen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian tersebut jauh melampaui ekspektasi analis yang disurvei LSEG, dengan median proyeksi sebesar 302,1 miliar yen. Honda kini memperkirakan rata-rata kurs yen berada di level 155 yen per dolar AS sepanjang tahun fiskal ini, lebih lemah dibandingkan asumsi sebelumnya sebesar 145 yen per dolar AS.
Bangkit Setelah Mencatat Rugi Tahunan Pertama dalam Hampir 70 Tahun
Perbaikan kinerja ini terjadi setelah Honda pada Mei lalu membukukan rugi tahunan pertama dalam hampir tujuh dekade. Saat itu, perusahaan menanggung beban lebih dari US$ 9 miliar akibat restrukturisasi besar-besaran bisnis kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Honda menyatakan tidak membukukan biaya restrukturisasi pada kuartal pertama tahun fiskal ini. Perusahaan menjelaskan bahwa negosiasi dengan para pemasok yang terdampak restrukturisasi, sebagian besar berada di Amerika Utara, masih berlangsung. Meski demikian, Honda memperkirakan biaya tambahan restrukturisasi sepanjang tahun bisnis ini mencapai 520 miliar yen, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 500 miliar yen.
Baca Juga: Misteri Bulan Neptunus Terkuak, Tabrakan Dahsyat Diduga Pernah Guncang Tata Surya Penjualan China Anjlok, Permintaan Hybrid di Amerika Utara Menguat
Sebelumnya, Chief Executive Officer (CEO) Honda Toshihiro Mibe menyampaikan permohonan maaf atas kinerja perusahaan dalam rapat umum pemegang saham tahunan pada Juni lalu. Meski demikian, ia tetap memperoleh dukungan untuk kembali menjabat sebagai anggota dewan direksi. Honda juga telah melaporkan bahwa penjualan kendaraan global pada kuartal pertama turun 4% menjadi 838.000 unit.
Penurunan tersebut terutama dipicu oleh anjloknya penjualan di China yang mencapai hampir 50%, serta pelemahan permintaan di sejumlah negara Asia. Semakin banyak konsumen beralih ke kendaraan listrik karena tingginya harga bahan bakar, sehingga mengimbangi peningkatan penjualan di Amerika Serikat dan Jepang. Pasar Amerika Serikat sendiri menyumbang sekitar separuh dari total penjualan kendaraan Honda selama kuartal tersebut. Chief Financial Officer (CFO) Honda, Masao Kawaguchi, mengatakan kenaikan harga bahan bakar di Amerika Utara justru mendorong permintaan terhadap kendaraan hemat bahan bakar milik Honda. "Kenaikan harga bahan bakar di Amerika Utara meningkatkan permintaan terhadap model hybrid dan kendaraan berbahan bakar bensin yang hemat bahan bakar," ujar Masao Kawaguchi kepada wartawan.