KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran melancarkan gelombang serangan baru ke Arab Saudi. Di saat yang sama, pasukan Houthi memperkuat posisi mereka di sepanjang pesisir barat Yaman yang menghadap Laut Merah. Perkembangan tersebut memicu pembahasan darurat di Riyadh mengenai langkah yang akan diambil untuk menghadapi kemajuan cepat Houthi. Situasi semakin kompleks setelah negara-negara Arab Teluk menunda pembicaraan yang sebelumnya direncanakan dengan Iran, sehingga meningkatkan kekhawatiran konflik Timur Tengah dapat meluas dan mengancam pasokan minyak dunia.
Pada Senin, Houthi mengklaim telah meluncurkan puluhan rudal dan drone ke sebuah pangkalan udara militer di Khamis Mushait, wilayah selatan Arab Saudi. Serangan tersebut disebut menyasar hanggar pesawat, sistem radar, landasan pacu serta depot amunisi sebagai balasan atas serangan udara Arab Saudi terhadap wilayah Yaman.
Baca Juga: Harga Energi Melesat, Neraca Dagang Uni Eropa Berbalik Defisit €13,8 Miliar Otoritas Arab Saudi mengeluarkan peringatan darurat di Khamis Mushait dan tiga kota lainnya di wilayah selatan. Koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman mengatakan sebanyak 13 warga sipil terluka akibat serangan Houthi.
Houthi Kuasai Posisi Strategis di Laut Merah
Kemajuan Houthi dalam beberapa hari terakhir, termasuk pengambilalihan Pulau Perim di pintu masuk Laut Merah, menambah tekanan terhadap ekspor minyak Arab Saudi. Sebelumnya, serangan udara pada Kamis membuat jalur pipa minyak Arab Saudi yang menghubungkan wilayah timur dan barat negara tersebut berhenti beroperasi. Riyadh menuding serangan terhadap pipa tersebut dilakukan oleh kelompok milisi yang didukung Iran di Irak. Arab Saudi membangun pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer dari kawasan Teluk menuju Laut Merah pada dekade 1980-an. Infrastruktur tersebut dirancang untuk menjadi jalur alternatif pengiriman minyak guna menghindari Selat Hormuz ketika jalur strategis tersebut terancam akibat perang Iran-Irak. Para pedagang minyak memperkirakan penghentian operasi pipa dalam waktu lama dapat memangkas hingga sekitar 4% pasokan minyak global apabila Selat Hormuz juga sebagian besar mengalami blokade. Hingga kini, Riyadh belum menyampaikan kapan operasional pipa tersebut akan kembali normal. Sebagai respons terhadap serangan Houthi, angkatan udara Arab Saudi dan Yaman meningkatkan serangan udara terhadap sasaran Houthi, termasuk di sekitar pelabuhan bersejarah Mocha di pesisir Laut Merah. Namun, pejabat pemerintah Yaman yang diakui secara internasional mengatakan Houthi masih menguasai secara efektif hampir seluruh wilayah pesisir barat Yaman yang menghadap Laut Merah. “Houthis berada di bawah tekanan berat. Sebaliknya, mereka memberikan tekanan yang semakin besar kepada Saudi dengan meningkatkan kampanye serangan rudal dan drone,” kata salah satu pejabat Yaman tersebut. Harga minyak mentah sempat melonjak lebih dari 4% pada perdagangan Senin sebelum akhirnya ditutup sekitar 1% lebih tinggi.
Baca Juga: Korsel Disebut Siap Umumkan Investasi US$350 Miliar di AS AS Masih Enggan Terlibat Langsung
Kebangkitan konflik di Yaman menjadi tantangan baru bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Tiga sumber mengatakan kepada Reuters bahwa Washington sejauh ini menolak permintaan Arab Saudi untuk melakukan intervensi militer secara langsung dan hanya memberikan dukungan intelijen. Trump pada akhir pekan mengatakan dirinya telah berbicara dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. Menurut Trump, Houthi juga telah menghubungi Washington dan meminta Amerika Serikat tidak ikut campur dalam konflik tersebut. Media pemerintah Arab Saudi melaporkan Mohammed bin Salman bertemu Komandan Regional AS Laksamana Brad Cooper di Jeddah pada Senin. Arab Saudi telah memimpin koalisi untuk melawan Houthi sejak 2015. Namun, konflik tersebut relatif mereda dalam beberapa tahun terakhir setelah adanya gencatan senjata. Pertempuran kembali pecah bulan ini setelah Houthi mendorong mundur pasukan yang bersekutu dengan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Harapan Diplomasi dengan Iran Memudar
Harapan untuk menyelesaikan ketegangan melalui jalur diplomasi juga semakin menipis. Oman sebelumnya dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan pada Senin yang melibatkan Iran dan negara-negara Teluk untuk membahas negosiasi pembukaan kembali Selat Hormuz. Pertemuan tersebut kemudian ditunda. Iran mengatakan penundaan dilakukan atas permintaan Arab Saudi. Sebelum perang, Selat Hormuz menjadi jalur penting bagi sekitar 20% ekspor minyak dunia. Karena itu, setiap gangguan berkepanjangan di jalur tersebut berpotensi memberikan dampak besar terhadap pasar energi global. Trump pada Senin kembali menyampaikan klaimnya bahwa Iran ingin segera mencapai kesepakatan. Namun, Mohsen Rezaei, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, menyebut pesan Trump sebagai pengalihan perhatian. “Tidak ada pembicaraan sampai kondisi Iran terpenuhi,” ujar Rezaei melalui X.
Tanker Minyak Rusak, Informasi Saling Bertentangan
Ketidakpastian juga meningkat dalam aktivitas pelayaran di kawasan tersebut. Laporan yang saling bertentangan beredar mengenai bagaimana dan kapan sebuah kapal tanker minyak mengalami kerusakan. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), tanpa menyebutkan tanggal kejadian, mengatakan kapal tanker minyak berbendera Panama, El Gaia, terkena ranjau laut ketika melintas di zona terlarang di selatan Selat Hormuz. Kantor berita Fars melaporkan pernyataan tersebut pada Senin.
Baca Juga: Apple Diselidiki Regulator India Terkait Kerusakan iPhone Setelah Update iOS 18 Namun, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) langsung membantah laporan tersebut. Menurut militer AS, kapal tanker itu “terkena rudal Iran bulan lalu dan dibuat tidak dapat beroperasi.” Organisasi Maritim Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (IMO) melaporkan El Gaia mengalami kerusakan pada Sabtu. Namun, organisasi tersebut tidak menjelaskan penyebab kerusakan dan menyebut dua awak kapal masih hilang.
Reuters belum dapat segera menghubungi pemilik kapal yang berbasis di Dubai untuk memverifikasi berbagai laporan tersebut.
Selat Hormuz Masih Jadi Titik Risiko Pasar Minyak
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran minyak paling penting di dunia. Jalur tersebut sebagian besar telah berhenti beroperasi sejak perang dimulai pada 28 Februari, setelah Iran mengancam kapal-kapal yang melintasi perairan tersebut tanpa izin. Dalam pernyataannya, Garda Revolusi Iran menegaskan kontrol atas jalur strategis tersebut. “Angkatan Laut IRGC dengan tegas menyatakan bahwa Selat Hormuz ditutup dan masih berada di bawah kendali cerdas kami,” demikian pernyataan Garda Revolusi Iran.