Houthi Kembali Serang Saudi, Harga Minyak Dunia Bisa Makin Meledak



KONTAN.CO.ID - Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran kembali melancarkan serangan ke Arab Saudi pada Senin (14/9/2026).

Eskalasi konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global, sementara upaya diplomasi untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz masih menemui jalan buntu.

Pejabat Yaman mengatakan, kelompok Houthi juga memperkuat posisi mereka di pesisir barat Yaman yang menghadap Laut Merah.


Baca Juga: Trump Blak-blakan soal AI: Cuma Butuh Presiden "IQ Tinggi" untuk Mengawasinya

Perkembangan tersebut terjadi ketika Arab Saudi menggelar pembahasan darurat mengenai langkah yang akan diambil untuk merespons pergerakan cepat kelompok Houthi.

Houthi mengklaim telah menembakkan puluhan rudal dan drone ke pangkalan udara militer Khamis Mushait di wilayah selatan Arab Saudi.

Serangan tersebut menyasar hanggar pesawat, sistem radar, landasan pacu dan depot amunisi.

Serangan dilakukan sebagai balasan atas serangan udara Arab Saudi terhadap posisi Houthi di Yaman.

Otoritas Arab Saudi kemudian mengeluarkan peringatan darurat di Khamis Mushait dan tiga kota lainnya di wilayah selatan. Koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman menyebut 13 warga sipil terluka akibat serangan Houthi.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Lagi Selasa (15/9), Gangguan Pipa Saudi Bikin Pasar Cemas

Pipa minyak Saudi jadi sorotan

Kemajuan pasukan Houthi dalam beberapa hari terakhir semakin menekan ekspor minyak Arab Saudi.

Houthi sebelumnya merebut Pulau Perim di mulut Laut Merah, sementara serangan udara pada Kamis (10/9) membuat pipa minyak East-West Arab Saudi tidak beroperasi.

Riyadh menuding serangan terhadap pipa tersebut dilakukan kelompok milisi yang didukung Iran di Irak.

Pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer itu dibangun Arab Saudi pada 1980-an untuk mengalihkan pengiriman minyak dari Teluk menuju Laut Merah dan menghindari Selat Hormuz.

Jalur tersebut kini menjadi semakin penting karena Selat Hormuz sebagian besar masih mengalami blokade akibat konflik dengan Iran.

Para pedagang memperkirakan, penghentian operasi pipa Saudi dalam waktu lama dapat mengurangi hingga 4% pasokan minyak global dari pasar.

Arab Saudi menggunakan, pipa East-West untuk mengalihkan sekitar 4 juta barel minyak per hari menuju Pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Hingga kini, Riyadh belum memberikan kepastian kapan operasional pipa tersebut dapat kembali normal.

"Semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar risiko pasokan yang hilang dan harga dapat dengan mudah bergerak ke level yang lebih tinggi," demikian gambaran yang disampaikan pelaku pasar.

Konflik yang kembali memanas juga telah mendorong harga minyak. Harga minyak mentah sempat melonjak lebih dari 4% pada Senin sebelum akhirnya ditutup sekitar 1% lebih tinggi.

Baca Juga: Harga Emas Meredup Selasa (15/9), Minyak Naik dan The Fed Jadi Biang Keroknya

AS masih enggan turun tangan

Eskalasi konflik Yaman menjadi tantangan baru bagi Presiden AS Donald Trump.

Tiga sumber mengatakan kepada Reuters bahwa Washington sejauh ini menolak permintaan Arab Saudi untuk melakukan intervensi militer langsung dan hanya memberikan dukungan intelijen.

Trump pada akhir pekan mengatakan telah berbicara dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman.

Menurut Trump, kelompok Houthi juga telah menghubungi Washington dan meminta AS tidak ikut campur dalam konflik tersebut.

Media pemerintah Arab Saudi melaporkan Mohammed bin Salman bertemu Komandan AS untuk kawasan tersebut, Laksamana Brad Cooper, di Jeddah pada Senin.

Arab Saudi telah memimpin koalisi untuk memerangi Houthi sejak 2015. Konflik tersebut sempat mereda dalam beberapa tahun terakhir setelah adanya gencatan senjata, tetapi kembali pecah pada bulan ini ketika Houthi mulai mendorong mundur pasukan yang bersekutu dengan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Diplomasi Selat Hormuz menemui jalan buntu

Harapan untuk meredakan ketegangan di kawasan juga semakin menipis. Oman sebelumnya dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan antara Iran dan negara-negara Teluk untuk membahas negosiasi pembukaan kembali Selat Hormuz.

Namun, Oman mengumumkan pertemuan tersebut ditunda. Iran menyebut penundaan dilakukan atas permintaan Arab Saudi.

Sebelum perang, Selat Hormuz menjadi salah satu jalur perdagangan minyak terpenting dunia dengan sekitar 20% ekspor minyak global melewati jalur tersebut.

Trump kembali mengatakan Iran ingin segera mencapai kesepakatan. Namun, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei menolak pernyataan tersebut.

"Tidak ada pembicaraan sampai persyaratan Iran dipenuhi," tulis Rezaei melalui X.

Ketidakpastian juga terjadi terkait keselamatan kapal tanker di kawasan tersebut. Korps Garda Revolusi Iran menyebut kapal tanker berbendera Panama, El Gaia, terkena ranjau laut saat melintasi zona terlarang di selatan Selat Hormuz.

Baca Juga: Asian Games 2026, Korea Selatan Protes Ke Jepang Karena Masalah Kasur

Namun, Komando Pusat AS membantah laporan tersebut dan mengatakan kapal tanker itu terkena rudal Iran pada bulan lalu hingga tidak dapat beroperasi.

Organisasi Maritim Internasional (IMO) menyatakan, El Gaia mengalami kerusakan pada Sabtu, tetapi belum memastikan penyebabnya. Dua awak kapal juga dilaporkan hilang.

Garda Revolusi Iran kembali menegaskan bahwa Selat Hormuz masih berada di bawah kendali mereka.

"Selat Hormuz ditutup dan masih berada di bawah kendali cerdas kami," demikian pernyataan Garda Revolusi Iran.