KONTAN.CO.ID - KAIRO/WASHINGTON/DUBAI. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran memperluas pengaruhnya di sepanjang pesisir Laut Merah setelah merebut kendali atas kota pelabuhan Mocha, Yaman. Pergerakan ini meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran di Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur perdagangan dan energi paling strategis di dunia. Sumber militer pemerintah Yaman mengatakan Houthi berhasil menguasai Mocha pada Kamis dan kemudian bergerak menyusuri pesisir Laut Merah menuju sejumlah pulau strategis, termasuk Kepulauan Hanish.
Perkembangan tersebut terjadi beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan perang dengan Iran diperkirakan akan berakhir setelah pemilu sela AS atau midterm elections. Pemerintah Yaman menyebut kemajuan Houthi memberikan kelompok tersebut pengaruh yang semakin besar terhadap Selat Bab el-Mandeb. Selat yang berada di ujung selatan Laut Merah tersebut merupakan jalur penting bagi pelayaran internasional yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia. Jika Houthi berhasil menguasai jalur strategis tersebut, Iran berpotensi memperoleh keuntungan penting dalam konflik dengan Amerika Serikat. Gangguan di Bab el-Mandeb dapat mengurangi pasokan yang melewati koridor perdagangan utama kedua setelah Selat Hormuz sekaligus meningkatkan tekanan terhadap harga minyak dunia.
Baca Juga: Aksi Jual Melanda Pasar Obligasi Global Kondisi itu juga berpotensi menyulitkan upaya Trump untuk mengakhiri perang. Konflik dan kenaikan harga bahan bakar telah memberikan tekanan terhadap popularitas Partai Republik menjelang pemilu sela pada November.
Houthi Klaim Laut Merah Aman
Pusat koordinasi operasi kemanusiaan yang dikelola Houthi menyatakan navigasi di Laut Merah tetap aman bagi seluruh perusahaan pelayaran, kecuali kapal-kapal asal Arab Saudi. Arab Saudi sebagai salah satu eksportir minyak terbesar dunia semakin mengandalkan jalur Laut Merah setelah konflik Iran membuat Selat Hormuz praktis tertutup. Sebelum perang, sekitar seperlima pasokan minyak dunia yang digunakan mengalir melalui selat tersebut. Sumber militer pemerintah Yaman mengatakan pasukan pemerintah dan sekutunya kini bergerak ke arah selatan sepanjang pesisir Laut Merah menuju Dhubab, kawasan yang berada di dekat Selat Bab el-Mandeb dan berhadapan dengan Pulau Perim. Penguasaan atas Dhubab dan Pulau Perim dinilai menjadi faktor penting bagi siapa pun yang ingin mengendalikan Selat Bab el-Mandeb. Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Yaman Hans Grundberg memperingatkan bahwa situasi di Yaman telah memasuki kondisi yang semakin berbahaya. Dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB mengenai Yaman pada Kamis, Grundberg mengatakan komunitas internasional harus bertindak untuk menghadapi "fase baru yang lebih berbahaya" dalam perang di Yaman. Menurut dia, penguasaan Mocha oleh Houthi membuat kelompok tersebut memiliki "kehadiran langsung di jalur menuju salah satu selat paling vital di dunia", sehingga menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kebebasan navigasi. Perwakilan AS dalam pertemuan tersebut, Jenifer Neidhart de Ortiz, menuduh Houthi bertindak sebagai "agen dan alat Iran." "Eskalasi ini tidak dapat diterima, dan pihak-pihak yang memungkinkan terjadinya eskalasi ini bertanggung jawab atas konsekuensinya," ujar Neidhart de Ortiz. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan konflik di Yaman tidak dapat diselesaikan melalui blokade ataupun aksi militer terhadap Houthi. Teheran menyerukan penyelesaian melalui dialog, tanpa membahas perannya sendiri dalam konflik tersebut. Sumber pemerintah Yaman, Iran, dan sejumlah sumber regional mengatakan kepada Reuters bahwa pergerakan Houthi di sepanjang pesisir Laut Merah dalam sepekan terakhir mendapat arahan langsung dari Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC. Juru bicara Houthi Mohammed Abdulsalam mengatakan operasi kelompok tersebut bersifat defensif dan akan dihentikan apabila serangan terhadap Yaman juga dihentikan.
Baca Juga: Harga Minyak Tergelincir 1% di Tengah Hari Ini (11/9), WTI dan Brent Kokoh di US$ 100 Harga Minyak Dunia Melonjak
Ketegangan di kawasan tersebut langsung berdampak terhadap pasar energi global. Harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga lebih dari 4% pada Kamis dan menembus US$105 per barel akibat kekhawatiran terhadap potensi gangguan jalur pasokan. Di Amerika Serikat, harga rata-rata nasional diesel juga menembus US$6 per galon untuk pertama kalinya, berdasarkan data pelacak harga GasBuddy. Houthi sebelumnya memasuki konflik dengan melancarkan serangan terhadap Israel pada Maret. Pada Juli, kelompok tersebut menyatakan blokade laut terhadap Arab Saudi dan meningkatkan intensitas serangannya pada bulan ini. Ketegangan di kawasan Teluk juga masih tinggi. Otoritas pertahanan sipil Arab Saudi mengeluarkan peringatan darurat di Khamis Mushait, wilayah barat daya negara tersebut, untuk keempat kalinya dalam kurun waktu 24 jam ketika serangan Houthi berlangsung. Pakistan juga telah menyampaikan peringatan Arab Saudi kepada Iran agar menekan Houthi guna mencegah konflik berkembang semakin luas. Sumber Saudi, Pakistan, dan Iran mengatakan seorang pejabat senior Iran merespons tekanan tersebut dengan menyatakan, "Iran tidak mengendalikan Houthi." Pertempuran terbaru berlangsung ketika serangan balasan antara AS dan Iran terhadap pelayaran di kawasan Teluk memasuki gelombang terbesar sejak perang dimulai pada akhir Februari. Departemen Keuangan AS pada Kamis juga mengumumkan sanksi baru terhadap perusahaan dan individu yang membantu Hizbullah serta kelompok proksi Iran lainnya. Sanksi tersebut merupakan bagian dari "Operasi Economic Outcast", yang bertujuan memutus sumber pendanaan perang Iran.
Trump Prediksi Perang Berakhir Usai Pemilu Sela
Konflik dengan Iran dan kenaikan harga bahan bakar turut menekan tingkat popularitas Trump. Sejumlah jajak pendapat menunjukkan popularitas presiden AS tersebut berada di level terendah. Trump juga menuduh Iran berusaha memengaruhi pemilu sela AS yang akan menentukan apakah Partai Republik mampu mempertahankan kendali atas Kongres. Dalam wawancara dengan pembawa acara Fox News Laura Ingraham yang disiarkan pada Kamis, Trump ditanya apakah dirinya menyesal atas perang dengan Iran karena dampaknya terhadap pemilu.
Baca Juga: Inflasi Produsen Melebihi Proyeksi, Potensi Bank of Japan Naikkan Suku Bunga Menguat "Saya tidak percaya pada kata 'penyesalan'. Anda selalu bisa sedikit mempertanyakan diri sendiri," kata Trump. "Jika saya harus melakukannya lagi, saya akan melakukan persis seperti yang saya lakukan," lanjutnya. Trump juga kembali menyampaikan keyakinannya bahwa perang akan berakhir segera setelah pemilu sela. Pernyataan serupa sebelumnya disampaikan Trump pada Rabu. Dalam beberapa pekan terakhir, Washington menyebut terdapat peningkatan keberhasilan dalam mengarahkan kapal tanker melewati Selat Hormuz. Sebelum perang, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut.
Namun, kembali pecahnya pertempuran pada bulan ini tampaknya menghambat upaya pembukaan kembali jalur tersebut secara bertahap. Data awal pelacakan kapal menunjukkan hanya tujuh kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Rabu. Jumlah tersebut sekitar separuh dari rata-rata dalam 10 hari terakhir. Media pemerintah Iran pada Kamis juga melaporkan bahwa Angkatan Laut Garda Revolusi Iran menyerang sebuah kapal nirawak milik AS di pintu masuk Selat Hormuz. Dengan Houthi kini memperluas kendalinya hingga mendekati Bab el-Mandeb dan ketegangan di Hormuz masih tinggi, risiko gangguan terhadap dua jalur pelayaran strategis dunia semakin meningkat. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan baru terhadap perdagangan global sekaligus harga minyak dan biaya logistik internasional.