Houthi Kuasai Pelabuhan Mocha, Iran Diduga Buka Front Baru Lawan AS



KONTAN.CO.ID - DUBAI/ADEN/RIYADH. Kelompok Houthi di Yaman mempercepat serangan di sepanjang pesisir Laut Merah dengan merebut kota pelabuhan Mocha. Pergerakan tersebut disebut mendapat arahan langsung dari Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC untuk membuka front baru dalam konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS).

Informasi tersebut disampaikan sejumlah sumber dari pemerintah Yaman, Iran, dan kawasan yang mengetahui perkembangan konflik tersebut, seperti dilaporkan Reuters, Kamis (10/9/2026).

Penguasaan Mocha di wilayah barat daya Yaman memperkuat posisi Houthi di sekitar Selat Bab el-Mandeb. Selat strategis tersebut merupakan salah satu jalur pelayaran utama dunia dan memiliki peran penting dalam distribusi energi global.


Gangguan di Bab el-Mandeb berpotensi semakin memperketat pasokan energi dunia setelah Iran melakukan blokade di Selat Hormuz.

Enam bulan setelah konflik regional yang lebih luas antara Houthi yang didukung Iran dan Amerika Serikat berlangsung, Houthi kini disebut lebih berfokus memperkuat kendali atas Selat Bab el-Mandeb.

Baca Juga: Yield Obligasi AS Mendekati 5%, Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi

Sementara itu, pasukan pemerintah Yaman yang mendapat dukungan Arab Saudi justru memusatkan operasi militer di wilayah utara.

Iran Disebut Minta Houthi Tingkatkan Serangan

Dua sumber Iran mengatakan Teheran telah meminta Houthi meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi pada pekan lalu. Arab Saudi merupakan salah satu sekutu dekat Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Sebagai imbalannya, Iran disebut menjanjikan tambahan pendanaan, persenjataan, serta pengiriman sejumlah perwira senior untuk membantu Houthi menjalankan operasi tersebut.

Iran memang menyebut Houthi sebagai sekutu. Namun, pemerintah Iran secara terbuka membantah memberikan arahan militer kepada kelompok tersebut dan menyatakan bahwa Houthi "bukan proksi" Iran.

Seorang diplomat regional yang mendapat informasi dari Teheran mengatakan sejumlah komandan senior Garda Revolusi Iran sebelumnya telah melakukan perjalanan ke Yaman. Mereka disebut bertugas mengawasi sekaligus mengarahkan serangan Houthi terhadap Arab Saudi setelah berlangsung pembahasan selama beberapa pekan mengenai strategi militer.

Sementara itu, seorang pejabat Iran mengatakan Teheran telah menggelar sejumlah pertemuan dengan para sekutunya, termasuk Houthi. Namun, menurutnya, keputusan untuk bergerak menuju Mocha merupakan keputusan Houthi, bukan perintah langsung dari Iran.

Meski demikian, langkah tersebut dinilai memberikan keuntungan bagi Iran karena turut mendorong kenaikan harga minyak serta memberikan tekanan terhadap Amerika Serikat dan Arab Saudi.

Garda Revolusi Iran Diduga Berada di Balik Operasi

Di Yaman, lima sumber militer dari pemerintahan yang didukung Arab Saudi dan diakui secara internasional mengatakan Garda Revolusi Iran telah mengarahkan kampanye militer terbaru Houthi di sepanjang pesisir Laut Merah.

Serangan tersebut disebut dimulai dengan rentetan tembakan roket dalam jumlah besar di kawasan Tihama, dataran sempit dan relatif datar yang membentang di sepanjang pesisir Laut Merah.

Baca Juga: Dolar AS Menguat, Risiko Gangguan Energi Timur Tengah Dorong Yield Obligasi

Berdasarkan penyadapan komunikasi dan keterangan dari sejumlah anggota Houthi yang ditangkap, sumber-sumber militer Yaman menduga operasi Iran tersebut diarahkan oleh Abdolreza Shahlaei, salah satu komandan senior Garda Revolusi Iran.

Sumber-sumber Iran belum dapat segera mengonfirmasi keterlibatan Shahlaei. Namun, sebelumnya mereka menyebut Shahlaei, yang merupakan bagian dari unit Pasukan Quds Garda Revolusi, pernah berada di Yaman dalam beberapa tahun terakhir.

Sumber Iran juga mengatakan Garda Revolusi masih mampu mengirimkan senjata dan personel keluar-masuk wilayah yang dikuasai Houthi meskipun kawasan tersebut menghadapi blokade udara dan laut.

Cara pengiriman senjata dan personel tersebut berlangsung tidak dijelaskan secara rinci.

Analis Yaman dari International Crisis Group, Ahmed Nagi, menilai keberhasilan Houthi merebut Mocha bukan hasil persiapan dalam waktu singkat.

"Jika kita melihat serangan mereka di pantai barat, ini bukan sesuatu yang dipersiapkan hanya dalam satu minggu atau satu bulan," kata Nagi.

Menurut dia, perkembangan kemampuan militer Houthi tidak terlepas dari tambahan persenjataan yang diperoleh kelompok tersebut, baik secara langsung dari Iran maupun melalui berbagai jaringan penyelundupan.

"Perkembangan Houthi pada dasarnya terjadi karena senjata-senjata baru yang mereka dapatkan, baik secara langsung melalui Iran maupun melalui berbagai jaringan penyelundupan yang mereka andalkan," ujar Nagi.

Ia secara khusus menyoroti penggunaan drone dalam operasi terbaru Houthi.

Situasi Militer Yaman Masih Belum Pasti

Ketika Houthi mulai bergerak menuju Mocha pada pekan lalu, pemerintah Yaman meminta tambahan dukungan udara dan bantuan lainnya dari Arab Saudi, menurut dua pejabat Yaman.

Pemerintah Yaman disebut meminta Arab Saudi melancarkan serangan udara terhadap target-target Houthi di wilayah basis utama kelompok tersebut, termasuk Sanaa.

Selain itu, pemerintah juga meminta serangan terhadap sejumlah aset strategis, seperti depot minyak.

Namun, Arab Saudi memilih memberikan dukungan berupa logistik, persenjataan, dan intelijen. Serangan udara yang dilakukan Riyadh juga masih terbatas dan lebih banyak diarahkan ke front utara di Provinsi Jawf dan Marib.

Baca Juga: Facebook, TikTok hingga YouTube Digugat di Portugal karena Fitur Adiktif

Pejabat Yaman menilai Riyadh berhati-hati untuk menghindari eskalasi besar dengan Houthi. Kekhawatiran utamanya adalah serangan besar terhadap Houthi dapat memicu serangan drone yang lebih intensif terhadap wilayah Arab Saudi.

Reuters belum memperoleh tanggapan langsung dari pejabat Arab Saudi mengenai alasan Riyadh lebih memprioritaskan front utara dibandingkan pesisir Laut Merah dan sejumlah target strategis Houthi lainnya.

Konflik Yaman Kembali Memanas

Situasi militer secara keseluruhan di Yaman masih sulit dipetakan secara pasti. Konflik berskala besar di negara tersebut telah mengalami jeda selama beberapa tahun setelah kesepakatan gencatan senjata pada 2022.

Baik Iran maupun Arab Saudi telah menanamkan dukungan terhadap kelompok-kelompok yang menjadi sekutu mereka di Yaman. Namun, koalisi yang mendukung pemerintah Yaman juga menghadapi perpecahan internal.

Menurut Nagi, sejumlah pertempuran sebelumnya di wilayah Tihama memang pernah menghasilkan perubahan posisi yang berlangsung cepat. Namun, masih belum jelas apakah pasukan yang didukung Arab Saudi kali ini mampu dengan mudah mengusir Houthi dari wilayah yang telah dikuasainya.

"Mungkin kita dapat melihat sejumlah kemajuan dari pihak pemerintah jika mereka mendapatkan dukungan yang diperlukan dari Arab Saudi. Namun, kali ini hal tersebut mungkin akan sedikit lebih sulit," kata Nagi.