Houthi Makin Dekati Selat Bab el-Mandeb, Ancaman Pelayaran Global Meningkat



KONTAN.CO.ID - ADEN/DUBAI. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran dilaporkan mengambil alih kota pelabuhan bersejarah Mocha di Yaman. Pergerakan ini berpotensi meningkatkan ancaman terhadap Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.

Empat sumber militer pemerintah Yaman mengatakan kepada Reuters bahwa penguasaan Mocha menjadi bagian dari perubahan strategi Houthi yang kini tidak hanya berfokus menguasai wilayah utara Yaman, tetapi juga memperluas kendali di sepanjang garis pantai negara tersebut.

Pertempuran antara Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi semakin intensif dalam beberapa hari terakhir. Perubahan fokus tersebut berpotensi menempatkan Houthi pada posisi yang lebih kuat untuk mengganggu aktivitas perdagangan maritim melalui Laut Merah.


Menurut sumber-sumber Yaman kepada Reuters pada Kamis (10/9/2026), Houthi juga melancarkan serangan terhadap Kepulauan Hanish yang strategis di Laut Merah. Serangan tersebut mendorong pasukan pemerintah dan sekutunya bergerak ke selatan menuju Dhubab.

Baca Juga: Harga Diesel Melonjak 24,1%, Inflasi Produsen Amerika Serikat Naik 0,4% di Agustus

Dhubab memiliki posisi strategis karena berada tepat di kawasan selat, berseberangan dengan Pulau Perim. Penguasaan Dhubab dan Pulau Perim dinilai menjadi kunci bagi Houthi untuk memperoleh kendali lebih besar atas Selat Bab el-Mandeb.

Ancaman terhadap perdagangan dan energi global

Eskalasi konflik antara pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi dengan Houthi menciptakan medan perang baru dalam konflik Iran. Kondisi tersebut berpotensi mengancam pasokan energi dan komoditas global.

Harga minyak mentah Brent berada di atas US$100 per barel pada Kamis, ketika jalur pasokan melalui Selat Hormuz dan Laut Merah masih mengalami gangguan serius.

Untuk menghindari Selat Hormuz, Arab Saudi telah memuat jutaan barel minyak per hari dari pelabuhan Yanbu yang berada di pesisir Laut Merah bagian utara.

Namun, apabila Houthi menguasai atau mampu mengganggu Selat Bab el-Mandeb, risiko terhadap kelancaran pengiriman minyak Arab Saudi ke pasar Asia akan semakin besar. Houthi sebelumnya telah menyatakan pemberlakuan blokade laut terhadap Arab Saudi yang merupakan eksportir minyak terbesar dunia.

Gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2022 memang secara signifikan menghentikan perang selama bertahun-tahun di Yaman. Namun, kesepakatan tersebut belum menghasilkan penyelesaian konflik yang permanen.

Pertempuran terbaru meningkatkan kekhawatiran bahwa Yaman kembali terjerumus ke dalam perang berskala penuh.

Selat Bab el-Mandeb, yang berarti "Gerbang Air Mata", dinamai demikian karena kondisi navigasinya yang berbahaya. Selat tersebut merupakan pintu keluar bagian selatan Laut Merah dan terletak di antara Yaman di Semenanjung Arab dengan Djibouti serta Eritrea di pesisir Afrika.

Posisi tersebut membuat Bab el-Mandeb menjadi kawasan strategis yang diperebutkan. Houthi saat ini menguasai wilayah Yaman yang memiliki populasi terbesar serta sebagian besar wilayah utara negara tersebut.

Baca Juga: Bank Sentral Eropa (ECB) Mengerek Suku Bunga Jadi 2,5%

Bab el-Mandeb juga merupakan salah satu jalur penting bagi pengiriman minyak mentah dan bahan bakar dari kawasan Teluk menuju Laut Mediterania melalui Terusan Suez maupun jaringan pipa Suez-Mediterania di pesisir Laut Merah Mesir.

Selain energi, jalur tersebut digunakan untuk mengangkut berbagai komoditas menuju Asia, termasuk minyak Rusia.

Peringatan untuk Iran

Seorang pemimpin militer yang bersekutu dengan pemerintah Yaman mengatakan pada Kamis bahwa dirinya telah mengarahkan kelompoknya di wilayah pantai barat untuk membangun pusat komando alternatif di lokasi yang aman.

Instruksi tersebut disampaikan Tarek Saleh, keponakan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh yang tewas dibunuh. Laporan televisi Al-Jumhuriya yang terkait dengannya menyebut langkah tersebut sebagai indikasi lain bahwa Houthi terus mendorong pasukan Perlawanan Nasional menjauh dari wilayah pantai barat.

Dalam sebuah video yang diverifikasi Reuters, sekelompok pejuang Houthi yang membawa senapan dan mengunyah qat, daun hijau yang mengandung zat narkotika dan sangat umum dikonsumsi di Yaman, merayakan kemajuan mereka di sebuah gedung direktorat keamanan di Distrik Hays, sebelah selatan Hodeidah.

Para pejuang tersebut meneriakkan slogan, "Kematian bagi Amerika, kematian bagi Israel."

Di tengah meningkatnya serangan terhadap Arab Saudi, Pakistan juga telah menyampaikan peringatan kepada Iran agar membatasi aktivitas sekutunya di Yaman, yakni Houthi. Langkah tersebut dilakukan dengan harapan konflik tidak berkembang menjadi eskalasi yang lebih luas.

Sumber dari Arab Saudi, Pakistan, dan Iran mengatakan Pakistan menyampaikan pesan tersebut kepada Teheran.

Seorang pejabat senior Iran mengonfirmasi bahwa Pakistan telah menyampaikan pesan tersebut pada Selasa. Namun, Iran merespons dengan menyatakan bahwa "Iran tidak mengendalikan Houthi."

Di sisi lain, dua sumber Iran mengatakan Teheran justru telah meminta Houthi pada pekan sebelumnya untuk melancarkan serangan terhadap Arab Saudi. Menurut sumber tersebut, Iran juga menjanjikan tambahan pendanaan dan persenjataan.

Baca Juga: Bank Sentral Eropa Menaikkan Suku Bunga 25 Basis Poin, Proyeksi Inflasi Ikut Naik

Sejumlah komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan disebut telah melakukan perjalanan ke Yaman untuk membantu mengoordinasikan serangan.

Houthi kembali ganggu pelayaran Laut Merah

Houthi sebelumnya mengganggu pelayaran komersial di Laut Merah pada 2023. Kelompok tersebut menyatakan serangan dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap warga Palestina di tengah perang Israel di Gaza.

Serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah dan Arab Saudi kembali terjadi tahun ini sebagai respons terhadap perang Amerika Serikat terhadap Iran yang merupakan sekutu dekat Houthi.

Dengan semakin dekatnya pertempuran ke kawasan Bab el-Mandeb, risiko terhadap jalur perdagangan internasional kembali meningkat. Gangguan di jalur tersebut dapat berdampak langsung terhadap biaya pengiriman, pasokan energi, serta harga berbagai komoditas global.

Serangan Houthi menyasar kota-kota Arab Saudi

Houthi pada Rabu mengatakan serangan Arab Saudi menghantam sejumlah provinsi di Yaman, yakni Al Jawf, Marib, dan Saada yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi.

Serangan juga dilaporkan terjadi di Taiz di wilayah selatan serta Kota Hodeidah di sepanjang pesisir Laut Merah. Hodeidah merupakan salah satu basis utama Houthi dan menjadi titik penting bagi kampanye serangan kelompok tersebut terhadap pelayaran di Laut Merah.

Arab Saudi tidak mengonfirmasi serangan tersebut.

Sementara itu, Arab Saudi mengatakan serangan Houthi terhadap wilayahnya dalam beberapa hari terakhir telah melukai 73 orang, termasuk perempuan dan anak-anak. Serangan tersebut disebut menyasar fasilitas sipil dan ekonomi di wilayah selatan Arab Saudi.

Baca Juga: AS Masih Ragu Terapkan Tarif Tembaga, Khawatir Picu Kenaikan Biaya Industri

Konflik antara Houthi dan Arab Saudi telah berlangsung selama lebih dari satu dekade. Pada 2014, Houthi merebut ibu kota Yaman, Sanaa, dan mendorong pemerintah yang diakui secara internasional ke wilayah selatan menuju Aden.

Khawatir terhadap meningkatnya pengaruh Iran di Yaman serta ketidakstabilan di wilayah perbatasannya, Arab Saudi memimpin intervensi militer terhadap Houthi pada 2015.

Perang saudara yang terjadi setelahnya memicu salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia. Konflik tersebut juga menyebabkan pertempuran berkepanjangan serta serangkaian serangan udara yang menghancurkan berbagai wilayah Yaman.

Dengan dukungan Iran, pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, mengubah kelompok pejuang dari wilayah pegunungan menjadi kekuatan yang beranggotakan puluhan ribu orang.

Houthi juga telah menunjukkan kemampuan rudal dan drone yang signifikan. Kelompok tersebut sebelumnya menyerang fasilitas minyak dan infrastruktur vital di Arab Saudi serta Uni Emirat Arab dalam konflik yang berlangsung di kawasan tersebut.