KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengklaim telah menyerang stasiun pemompaan minyak mentah di jalur pipa East-West Arab Saudi dan Bandara Riyadh pada Senin (26/10/2026). Serangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya permusuhan yang menghambat pasokan minyak dan memicu kekhawatiran meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman sebelumnya menyatakan telah menghancurkan dua peluncur rudal balistik di ibu kota Sanaa. Salah satu peluncur tersebut disebut digunakan untuk menembakkan rudal ke arah Riyadh, yang menurut koalisi berhasil dicegat.
Hingga laporan ini disusun, belum ada konfirmasi langsung dari pihak Arab Saudi mengenai klaim serangan Houthi tersebut. Dalam beberapa waktu terakhir, Houthi terus melancarkan serangan menggunakan rudal balistik dan pesawat nirawak atau drone terhadap bandara, pelabuhan, serta fasilitas minyak Arab Saudi. Serangan itu menjadikan Arab Saudi, yang merupakan sekutu Amerika Serikat (AS), sebagai salah satu titik tekanan dalam konflik regional yang lebih luas.
Baca Juga: Arab Saudi, Pakistan, dan Turki Temui Iran, Upaya Redam Konflik Timur Tengah Houthi juga mengklaim telah menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Dua terminal bandara tersebut kembali beroperasi pada Minggu setelah sebelumnya terdampak serangan yang diklaim dilakukan kelompok itu pada awal Oktober. Serangan sebelumnya menewaskan 13 orang dan menjadi insiden paling mematikan di Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade.
Pejabat Arab Saudi, Turki, dan Pakistan Bertemu Iran
Di tengah meningkatnya ketegangan, sejumlah pejabat tinggi dari negara-negara anggota Pakta Mekah, yakni Arab Saudi, Turki, dan Pakistan, dijadwalkan bertemu dengan pejabat Iran di Teheran pada Senin. Dua sumber yang mengetahui persoalan tersebut menyebutkan, pertemuan itu akan membahas koordinasi regional di tengah konflik yang terus berkembang. Pertemuan tersebut direncanakan menjadi kontak tingkat tinggi pertama antara Iran dan seluruh anggota blok tiga negara itu sejak Arab Saudi menghadapi peningkatan serangan dari kelompok Houthi yang bersekutu dengan Teheran.
Jalur Pipa Minyak East-West Arab Saudi Jadi Sasaran
Arab Saudi sebelumnya menutup sementara jalur pipa minyak East-West sepanjang 1.200 kilometer pada September sebagai langkah antisipasi setelah serangan drone yang menurut Riyadh dan Baghdad berasal dari Irak. Jalur pipa tersebut memiliki peran strategis dalam menjaga kelancaran ekspor minyak Timur Tengah ketika Selat Hormuz sebagian besar tertutup akibat perang. Pada Sabtu, Houthi juga mengklaim telah menargetkan jalur pipa East-West, sejumlah stasiun pemompaan minyak mentah, fasilitas Saudi Aramco di Yanbu, serta kilang minyak Rabigh. Namun, Arab Saudi belum mengonfirmasi klaim serangan tersebut.
Baca Juga: Harga Emas Naik Seiring Pelemahan Harga Minyak, Pasar Cermati Keputusan The Fed Jalur pipa East-West menjadi salah satu infrastruktur penting bagi Arab Saudi karena menghubungkan wilayah penghasil minyak di bagian timur dengan fasilitas ekspor di pesisir Laut Merah. Infrastruktur ini membantu mempertahankan akses ekspor ketika jalur pelayaran di Selat Hormuz terganggu.
Koalisi Saudi Hancurkan Peluncur Rudal Houthi
Koalisi pimpinan Arab Saudi pada Senin juga mengumumkan operasi militer terhadap sasaran Houthi di Yaman. Dalam operasi tersebut, koalisi menyatakan telah menghancurkan lima terowongan yang digunakan untuk menyimpan rudal balistik, empat peluncur rudal balistik, serta satu fasilitas penyimpanan rudal. Juru bicara koalisi, Turki al-Maliki, mengatakan operasi tersebut turut menyasar jalur pasokan, personel bersenjata, dan peralatan militer Houthi di sepanjang garis depan pertempuran di Yaman. Ia juga menyatakan bahwa koalisi akan melanjutkan langkah-langkah operasional yang bersifat pencegahan untuk melindungi warga sipil. Arab Saudi meningkatkan serangan terhadap Houthi sejak kelompok tersebut merebut sejumlah wilayah strategis di pesisir Laut Merah Yaman pada bulan lalu. Pergerakan Houthi menuju Selat Bab el-Mandeb turut menambah kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran internasional.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Usai Reli Pekan Lalu, Brent ke US$ 114,51 & WTI ke US$ 101,04 Selat Bab el-Mandeb merupakan jalur penting bagi perdagangan global dan pengiriman minyak dari negara-negara produsen di kawasan Teluk. Letaknya berada di sisi lain Semenanjung Arab dari Selat Hormuz.
Gencatan Senjata Yaman Kembali Terancam
Eskalasi pertempuran terbaru secara efektif mengakhiri gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan sebagian besar bertahan sejak 2022. Arab Saudi memimpin koalisi militer yang terlibat dalam perang saudara Yaman pada 2015 untuk mendukung pemerintahan yang diakui secara internasional. Keterlibatan tersebut terjadi setahun setelah Houthi merebut ibu kota Sanaa. Meningkatnya serangan terhadap fasilitas minyak dan infrastruktur transportasi Arab Saudi kini menambah risiko terhadap pasokan energi serta jalur perdagangan internasional. Di tengah terganggunya pelayaran di Selat Hormuz dan meningkatnya ancaman di sekitar Laut Merah, perkembangan konflik Yaman menjadi perhatian bagi pasar energi global, terutama terkait keamanan infrastruktur minyak dan kelancaran ekspor dari Timur Tengah.