Houthi Serang Kompleks Istana Presiden Yaman, 5 Orang Tewas dan 16 Terluka



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kelompok Houthi melancarkan serangan rudal ke kompleks istana kepresidenan di Kota Aden, Yaman selatan, pada Kamis (15/10/2026). Pemerintah Yaman melaporkan lima orang tewas dan 16 lainnya terluka dalam serangan tersebut, di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara kelompok Houthi dan pasukan yang didukung Arab Saudi.

Serangan itu menjadi yang pertama dalam konflik saat ini yang menyasar Istana Al-Maashiq di Aden. Istana tersebut merupakan pusat pemerintahan Yaman yang didukung Arab Saudi dan diakui secara internasional.

Konflik ini menjadi medan pertempuran baru dalam perang regional yang lebih luas, yang bermula setelah serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada Februari 2026.


Menteri Informasi Yaman Moammar al-Eryani mengatakan, Perdana Menteri Yaman dan sejumlah anggota kabinet selamat dari serangan tersebut. Sejumlah saksi mata mengatakan kepada Reuters bahwa mereka mendengar ledakan keras di sekitar kompleks istana.

Kabinet Yaman menyatakan serangan tersebut melibatkan rudal dan pesawat nirawak atau drone.

Baca Juga: FIFA Siapkan Aturan Baru Usai Donald Trump Intervensi Kartu Merah Balogun

Menteri Kesehatan Yaman Qasim Buhaibeh mengatakan, lima orang tewas dan 16 lainnya terluka dalam serangan Houthi yang menyasar kantor pusat resmi pemerintah di kompleks istana kepresidenan. Korban terdiri atas petugas keamanan dan pegawai sipil.

Juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengatakan, kelompoknya telah membombardir lokasi yang disebutnya sebagai markas operasi militer Arab Saudi di Aden. Serangan itu, menurut dia, merupakan bagian dari kebijakan kelompok tersebut untuk menargetkan "pasukan bantuan Saudi di mana pun mereka berada".

Kantor berita SABA yang dikelola Houthi menyebut markas tersebut dioperasikan oleh para perwira Arab Saudi dan memiliki gudang persenjataan. Reuters belum dapat memverifikasi klaim tersebut secara independen.

Pertempuran Yaman Kembali Memanas

Pertempuran antara kelompok Houthi dan pasukan yang didukung Arab Saudi kembali berlangsung bulan lalu. Sejumlah lembaga bantuan kemanusiaan telah memperingatkan bahwa kondisi di Yaman memburuk dengan cepat.

Pekan lalu, pasukan pemerintah Yaman melancarkan operasi untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi. Dalam operasi tersebut, pasukan pemerintah berhasil merebut sejumlah wilayah di dekat Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis dunia.

Perang di Yaman pecah pada 2014 ketika kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa dan memaksa pemerintah mundur ke wilayah selatan. Intervensi militer pimpinan Arab Saudi pada tahun berikutnya memicu pertempuran berdarah yang berujung pada kebuntuan.

Gencatan senjata yang disepakati pada 2022 bertahan hingga konflik kembali meningkat pada tahun ini.

Baca Juga: Malaysia Tak Akan Gugat Indonesia soal Kabut Asap, Pilih Jalur Diplomasi

Dalam fase konflik sebelumnya, para pejuang Houthi dan pasukan sekutunya sempat menguasai Istana Al-Maashiq selama pertempuran memperebutkan Aden sebelum akhirnya mundur.

Koalisi Sebut Houthi Memiliki Rudal dan Kapal Cepat

Di tengah dukungan Arab Saudi terhadap pasukan pemerintah Yaman, kelompok Houthi melancarkan serangan menggunakan rudal balistik dan drone terhadap sejumlah bandara, pelabuhan, serta fasilitas minyak di Arab Saudi.

Serangan tersebut meningkatkan tekanan terhadap Arab Saudi, sekutu Amerika Serikat, sekaligus menimbulkan risiko bagi infrastruktur sipil dan ambisi pembangunan ekonomi negara tersebut.

Pada Kamis, koalisi militer pimpinan Arab Saudi menyatakan bahwa Houthi telah berupaya menyerang puluhan fasilitas tersebut dalam beberapa pekan terakhir. Dewan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga mengecam serangan terbaru terhadap bandara sipil, pesawat, dan infrastruktur penerbangan di Arab Saudi.

Juru bicara koalisi Turki al-Maliki mengatakan kepada wartawan bahwa Houthi telah melancarkan 20 serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh sepanjang bulan ini. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan 17 orang dan melukai 333 orang lainnya.

Bandara King Khalid merupakan salah satu pusat penerbangan internasional utama Arab Saudi.

Koalisi juga menyebut serangan Houthi terhadap Bandara Abha di wilayah barat daya Arab Saudi, dekat perbatasan Yaman, telah menewaskan tiga orang dan melukai 28 orang.

Al-Maliki mengatakan, Houthi telah memperoleh teknologi militer canggih dengan bantuan "aktor regional". Teknologi tersebut mencakup rudal balistik, drone, serta kapal cepat yang dilengkapi bahan peledak.

Baca Juga: IEA Akan Percepat Pelepasan Stok Minyak, Termasuk 20 Juta Barel Solar

Iran disebut telah memberikan senjata, pendanaan, dan pelatihan kepada kelompok Houthi. Namun, pemerintah Teheran secara resmi membantah mempersenjatai kelompok tersebut dengan melanggar embargo senjata PBB.

Al-Maliki juga mengatakan koalisi telah menghancurkan 127 fasilitas penyimpanan senjata dan landasan peluncuran di wilayah pegunungan Yaman. Ia mendesak Houthi segera menghentikan operasi yang menargetkan warga sipil dan infrastruktur sipil.

Tak lama setelah pernyataan tersebut, juru bicara militer Houthi menyatakan wilayah udara dan bandara Arab Saudi tidak aman. Kelompok itu kembali memperingatkan maskapai penerbangan, tetapi mengecualikan wilayah udara di atas kota suci Mekkah dan Madinah.

Otoritas pertahanan sipil Arab Saudi mengeluarkan peringatan dini sepanjang Kamis terkait potensi ancaman di Kota Najran dan Jizan, serta wilayah Najran dan Jazan yang lebih luas. Otoritas tersebut kemudian menyatakan bahwa ancaman telah berlalu.

Koalisi pimpinan Arab Saudi juga mengatakan telah mencegat dan menghancurkan sebuah drone di Kota Khamis Mushait, Arab Saudi barat daya, serta satu drone lainnya yang diluncurkan menuju wilayah selatan negara tersebut.