KONTAN.CO.ID - Konflik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim telah melancarkan serangan terhadap dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi di Laut Merah, sehingga meningkatkan risiko terganggunya jalur distribusi minyak dunia selain Selat Hormuz.
Baca Juga: Harga Minyak Sentuh Level Tertinggi Enam Pekan Kamis (23/7), Brent Sentuh US$ 96 Mengutip
Reuters, Kamis (23/7/2026), Houthi menyatakan serangan terhadap dua kapal tanker tersebut merupakan bagian dari blokade laut terhadap Arab Saudi. Langkah ini dinilai memperbesar ancaman terhadap salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia, menyusul upaya Iran menguasai lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Di saat yang sama, militer Amerika Serikat (AS) mengumumkan telah melancarkan serangan baru ke Iran atas perintah Presiden Donald Trump. Serangan tersebut menjadi hari ke-12 berturut-turut operasi militer AS terhadap Iran. Kelompok Houthi yang menguasai wilayah di sekitar Selat Bab el-Mandeb, pintu masuk Laut Merah di sisi selatan Semenanjung Arab, sebelumnya mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi pada Senin (20/7). Sejumlah analis menilai langkah tersebut merupakan strategi Iran untuk memperkuat posisi tawarnya dalam upaya diplomatik mengakhiri konflik.
Baca Juga: Konflik AS-Iran Topang Dolar AS, Yen Bertahan Dekat Level Terendah 40 Tahun Sebelum ancaman terbaru di Laut Merah, gangguan pelayaran di Selat Hormuz telah memicu kenaikan harga minyak dunia dan memperburuk tekanan inflasi global. Kondisi tersebut juga meningkatkan harga bahan bakar di Amerika Serikat di tengah tekanan politik yang dihadapi pemerintahan Trump menjelang pemilu kongres pada November mendatang. Reuters melaporkan, lima kapal tanker mengubah rute pelayaran mereka di Laut Merah pada Rabu (22/7) untuk menghindari Selat Bab el-Mandeb. Sehari sebelumnya, tiga kapal tanker yang membawa minyak mentah Arab Saudi menuju China dan India juga memutar balik. Houthi mengklaim pasukannya meluncurkan serangan rudal dan drone terhadap dua kapal tanker minyak Saudi, yakni Encelia dan Layla. Sumber keamanan maritim menyebutkan kapal tanker Encelia mengirimkan sinyal darurat setelah dilaporkan terkena rudal di dekat pelabuhan Jizan, Arab Saudi, pada Rabu malam.
Baca Juga: Rumor Transfer Man United: Setan Merah Coba Bajak 2 Wonderkid Man City Sementara itu, perusahaan manajemen risiko maritim asal Inggris, Vanguard, menyatakan kapal berbendera Arab Saudi tersebut terkena proyektil tak dikenal di sisi kanan kapal sekitar 70 mil laut di barat daya Al Shuqaiq. Hingga kini, klaim serangan terhadap kapal Layla belum dapat diverifikasi secara independen. Selama ini jutaan barel minyak Arab Saudi per hari dialihkan menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah untuk menghindari gangguan di Selat Hormuz. Namun jika jalur melalui Bab el-Mandeb ikut terganggu, pengiriman minyak hanya dapat dilakukan melalui Terusan Suez di sisi utara, yang membutuhkan waktu lebih lama dan biaya logistik lebih tinggi. Sejumlah pejabat AS saat ini maupun mantan pejabat menilai ancaman blokade Houthi terhadap Arab Saudi berpotensi memperluas konflik sekaligus meningkatkan beban operasi militer Amerika Serikat di kawasan.
Baca Juga: AS Mengklaim Telah Mencapai Kesepakatan Nuklir dengan Arab Saudi Di sisi lain, Presiden Donald Trump memperingatkan akan menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik di Iran setiap kali Teheran menyerang kapal di Selat Hormuz. Iran merespons ancaman tersebut dengan menyatakan akan menyerang infrastruktur minyak, gas, listrik, dan ekonomi di kawasan apabila AS merealisasikan ancamannya. Iran juga memperingatkan akan menghentikan seluruh ekspor minyak dari kawasan tersebut. Beberapa jam kemudian, Garda Revolusi Iran melaporkan terjadi ledakan di jalur pelayaran yang diklaim telah dipasangi ranjau di selatan Selat Hormuz. Satu dari tiga kapal tanker dilaporkan terbakar, sementara dua kapal lainnya memutar balik. Garda Revolusi Iran menegaskan Selat Hormuz berada di bawah kendali mereka dan "sepenuhnya ditutup" selama operasi militer AS masih berlangsung. Mereka juga memperingatkan tidak ada kapal tanker yang diizinkan melintas tanpa koordinasi dengan Iran. Dalam operasi militernya selama 12 hari berturut-turut, AS memperluas serangan dari wilayah selatan hingga ke Iran bagian barat dan tengah. Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran mengancam jalur pelayaran internasional. Media pemerintah Iran melaporkan serangan terbaru AS menghantam wilayah Bushehr, lokasi satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir komersial Iran, untuk kedua kalinya dalam dua hari. Dua orang juga dilaporkan tewas akibat serangan rudal AS di dekat perbatasan Shalamcheh yang berbatasan dengan Irak.
Baca Juga: Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Iran Pasca Houthi Blokir Jalur Utama Laut Merah Meski demikian, Iran disebut masih memiliki kemampuan melancarkan serangan rudal dan drone. Pekan ini, Iran mengklaim telah menyerang fasilitas desalinasi air dan energi di Kuwait serta aset militer AS di Kuwait, Bahrain, dan Yordania.
Korban jiwa akibat konflik juga terus bertambah. Seorang pejabat Kementerian Kesehatan Iran menyebut sedikitnya 53 warga sipil tewas dan 592 lainnya luka-luka sejak akhir bulan lalu. Secara keseluruhan, perang yang dimulai sejak 28 Februari telah menewaskan ribuan orang dan memaksa jutaan warga mengungsi. Di pihak AS, sebanyak 18 personel militer dilaporkan tewas dan lebih dari 450 lainnya mengalami luka-luka. Trump pada Rabu menghadiri upacara penghormatan bagi empat prajurit AS yang gugur dalam serangan Iran terhadap pangkalan militer di Yordania dan Irak. Meski demikian, dalam pidatonya di Georgia, Trump menyebut konflik tersebut hanya sebagai sebuah "pertempuran kecil" (skirmish).