KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat kenaikan Harga Patokan Ekspor (HPE) emas dan konsentrat tembaga pada periode pertama Februari 2026. Kenaikan ini sejalan dengan penguatan harga komoditas global serta tingginya permintaan industri, khususnya dari sektor energi terbarukan dan kendaraan listrik. Berdasarkan data Kemendag, HPE emas periode 1–14 Februari 2026 ditetapkan sebesar US$ 148.818,84 per kilogram, naik dari periode kedua Januari 2026 yang sebesar US$ 141.972,92 per kilogram. Seiring itu, Harga Referensi (HR) emas turut meningkat dari US$ 4.415,85 per ons troi menjadi US$ 4.628,79 per ons troi. Sementara itu, HPE konsentrat tembaga ditetapkan sebesar US$ 6.422,91 per Wet Metric Ton (WMT), meningkat 4,73% dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar US$ 6.133,11 per WMT.
Baca Juga: Naik Hampir 10%, Gaikindo Sebut Ekspor Mobil 2025 Tembus Level Tertinggi Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Tommy Andana mengatakan, penetapan HPE dan HR tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Perdagangan (Kepmendag) Nomor 68 Tahun 2026 tentang Harga Patokan Ekspor dan Harga Referensi atas Produk Pertambangan yang Dikenakan Bea Keluar. “Nilai HPE konsentrat tembaga naik karena tingginya permintaan industri global terhadap tembaga, terutama dari sektor energi terbarukan, kendaraan listrik, dan manufaktur perangkat elektronik,” jelasnya dalam siaran pers, Jumat (30/1/2026). Kenaikan HPE emas dan konsentrat tembaga ini berpotensi menjadi sentimen positif bagi kinerja emiten tambang emas dan tembaga, salah satunya PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Meski demikian, perusahaan ini menegaskan tetap fokus menjaga margin melalui efisiensi biaya dan optimalisasi penambangan.
General Manager Corporate Communication PT Merdeka Copper Gold Tbk Tom Malik mengatakan, pemerintah secara berkala menyesuaikan HPE mengikuti pergerakan harga komoditas global. Pada periode pertama Februari 2026, HPE emas ditetapkan sebesar US$ 148.818,84 per kilogram atau setara US$ 4.628 per ons troi. “HPE ini menjadi dasar perhitungan bea ekspor untuk komoditas yang dikenakan pungutan ekspor seperti emas dan konsentrat tembaga. Penyesuaian dilakukan secara berkala oleh Kementerian Perdagangan,” ujar Tom kepada Kontan, Senin (2/2/2026). Tom menilai, tren harga emas yang masih bullish berpotensi berdampak positif terhadap kinerja perusahaan. Sejumlah analis global bahkan memperkirakan harga emas berpeluang mendekati US$ 5.000 per ons troi pada akhir 2026. Namun demikian, Tom menegaskan MDKA merupakan
price taker karena harga emas ditentukan oleh keseimbangan pasokan dan permintaan global. Oleh karena itu, langkah yang dapat dilakukan perseroan adalah menjaga efisiensi biaya agar margin tetap terjaga. “Yang bisa kami lakukan adalah mengontrol biaya melalui efisiensi agar margin tetap terjaga,” jelasnya. Di sisi lain, MDKA juga tidak dapat serta-merta meningkatkan produksi untuk merespons kenaikan harga. Target produksi telah ditetapkan berdasarkan rencana penambangan bijih, kadar mineral per ton bijih, serta Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang telah disetujui pemerintah. “Grup Merdeka secara berkelanjutan melakukan optimalisasi penambangan dan efisiensi biaya produksi untuk meningkatkan margin,” tambah Tom.
Baca Juga: Kadin dan Apindo Ungkap Persiapan Pengusaha Merespons Permintaan Ramadan - Idulfitri Pada 2026, produksi emas Grup Merdeka akan ditopang oleh Tambang Emas Tujuh Bukit di Banyuwangi. Selain itu, Tambang Emas Pani yang dikelola anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk, yakni PT Merdeka Battery Materials Tbk (EMAS), juga masih on track untuk memulai produksi perdana pada kuartal I 2026. Saat ini, mayoritas produksi emas MDKA ditujukan untuk pasar ekspor. Meski demikian, perseroan membuka peluang penyaluran ke pasar domestik seiring perkembangan kebutuhan dalam negeri. Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy menjelaskan, kenaikan HPE konsentrat tembaga periode 1–14 Februari 2026 telah sesuai dengan Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 68 Tahun 2026 tentang Harga Patokan Ekspor dan Harga Referensi atas Produk Pertambangan yang Dikenakan Bea Keluar. Menurut Sudirman, kenaikan HPE konsentrat tembaga dipengaruhi oleh lonjakan harga mineral penyusunnya. Sepanjang periode pengumpulan data, harga tembaga tercatat naik 4,01%, emas naik 4,82%, dan perak melonjak 17,99%. “Permintaan global terhadap tembaga dan emas meningkat signifikan, didorong perubahan ekspektasi suku bunga, kebijakan moneter negara maju, serta meningkatnya permintaan emas fisik dari sektor perhiasan dan industri,” ujarnya kepada Kontan, Senin (2/2/2026). Selain faktor permintaan, keterbatasan pasokan juga turut mendorong kenaikan HPE tembaga. Dari Indonesia, dua produsen tembaga besar yakni Freeport dan Amman Minerals masih mencatatkan produksi di bawah kapasitas normal. Produksi Freeport terganggu akibat terhentinya operasional tambang bawah tanah Grasberg Block Cave sejak September 2025 pasca kecelakaan kerja. Manajemen Freeport memperkirakan produksi tambang tersebut baru kembali normal pada 2027. Sementara itu, produksi Amman Minerals juga masih terdampak akibat berhentinya operasi smelter karena kondisi kahar, dengan perbaikan diperkirakan berlangsung hingga paruh pertama 2026.
Baca Juga: Insentif PPN DTP 100% Dorong Properti 2026, Tetap Waspadai Risiko Harga Sudirman menambahkan, penetapan HPE dilakukan melalui koordinasi lintas kementerian yang melibatkan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kemendag, Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Perindustrian. Dalam prosesnya, Kementerian ESDM memberikan masukan teknis yang mengacu pada data London Metal Exchange (LME) untuk tembaga serta London Bullion Market Association (LBMA) untuk emas dan perak. Dengan kenaikan HPE konsentrat tembaga, nilai jual konsentrat di pasar internasional meningkat dan berpotensi mendongkrak pendapatan ekspor. Kondisi ini dinilai menguntungkan bagi perusahaan tambang tembaga, termasuk yang masih memperoleh rekomendasi ekspor lanjutan. Sementara itu, Ketua Badan Kejuruan Pertambangan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) sekaligus Dewan Penasihat Perhapi Rizal Kasli menilai, kenaikan HPE mencerminkan lonjakan harga internasional emas dan tembaga yang sangat signifikan.
“Harga emas mengalami reli panjang sejak 2022, sementara harga tembaga juga sempat menyentuh level tertinggi di akhir Januari 2026. Kenaikan harga ini memberikan prospek kinerja yang sangat baik bagi emiten tambang emas dan tembaga,” ujarnya kepada Kontan, Senin (2/2/2026).
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News