KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perubahan aturan harga patokan mineral (HPM) bijih nikel mulai menjadi perhatian investor karena berpotensi memengaruhi struktur biaya bahan baku dan kinerja sejumlah emiten tambang nikel di Indonesia. Sejumlah saham yang dinilai perlu dicermati antara lain PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali melakukan revisi terhadap formulasi penetapan HPM komoditas bijih nikel. Kali ini, perubahan menyasar bijih nikel berkadar rendah atau limonit.
Kementerian ESDM mengubah Corrective Factor (CF) bijih nikel dengan kadar Ni 1,2% atau lebih rendah menjadi sebesar 14%. Selanjutnya, CF akan turun 1% setiap terjadi penurunan kadar Ni sebesar 0,1%. Sementara itu, untuk bijih dengan kadar Ni di atas 1,2%, CF ditetapkan 30% pada kadar Ni 1,6% dan naik atau turun 1% setiap perubahan kadar Ni sebesar 0,1%.
Baca Juga: Telkom (TLKM) Kuasai 100% Saham Telkom Data Ekosistem Ketentuan baru tersebut ditetapkan pada 11 September 2026 dan berlaku efektif mulai 15 September 2026. Aturan ini tercantum dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 363.K/MB.01/MEM.B/2026 tentang Perubahan Kedua atas Kepmen ESDM Nomor 268.K/MB.01/MEM.B/2025 tentang Pedoman Penetapan Harga Patokan untuk Penjualan Komoditas Mineral Logam dan Batubara. Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, mengatakan perubahan CF untuk bijih nikel kadar rendah membuat harga patokan bijih limonit berpotensi ikut turun. Menurut dia, penurunan tersebut berpotensi merugikan perusahaan yang menjual bijih nikel kadar rendah kepada pihak ketiga. Sebaliknya, perusahaan yang memiliki fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) dan menggunakan limonit sebagai bahan baku dapat memperoleh manfaat dari penurunan biaya bahan baku. Wafi bilang, emiten seperti NCKL dan MBMA memiliki fasilitas HPAL sehingga dampak revisi HPM terhadap kedua emiten tersebut dapat lebih ternetralisir. Sementara itu, INCO disebut menjadi emiten yang paling minim terdampak. Pasalnya, INCO memiliki bisnis yang terintegrasi hingga produksi nickel matte. Adapun ANTM tetap berpotensi terdampak pada segmen bijih nikelnya. Namun, Wafi menilai dampaknya relatif terbatas. “ANTM terdampak di segmen bijih tapi porsi nikel kecil terhadap total revenue yang dominan emas, jadi (dampaknya) terbatas,” terang Wafi kepada Kontan, Jumat (18/9/2026). Secara keseluruhan, Wafi memperkirakan dampak revisi HPM terhadap keempat emiten tersebut masih moderat. Pasalnya, tidak ada satu pun dari INCO, NCKL, MBMA, dan ANTM yang merupakan penjual bijih nikel murni.
Baca Juga: Danantara Berpotensi Kuasai Saham BEI, Ini Tantangan Demutualisasi Katalis Emiten Tambang hingga Akhir 2026
Memasuki sisa tahun 2026, masih terdapat sejumlah katalis yang berpotensi menopang prospek emiten tambang tersebut. Wafi mencermati harga tembaga yang masih berada di level tinggi meski telah terkoreksi dari rekor tertingginya atau all time high (ATH) US$ 14.001 per ton. Selain itu, harga emas yang masih jauh di atas cash cost juga menjadi katalis positif bagi emiten dengan eksposur terhadap komoditas emas. Permintaan dari pembangunan infrastruktur artificial intelligence (AI) juga berpotensi menopang permintaan logam dasar. Analis UBS Sekuritas Indonesia, Igor Putra, menyebut harga nikel yang masih solid menjadi katalis positif, didukung oleh pengurangan kuota produksi tambang melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta pasokan dari fasilitas HPAL. “Ini akan menopang tingkat pengembalian ekuitas (return on equity/ROE) emiten nikel Indonesia. MBMA juga menjadi salah satu saham pilihan utama kami di sektor logam,” jelas Igor. Namun, Wafi mengingatkan masih terdapat sejumlah risiko yang perlu dicermati investor. Salah satunya adalah kondisi pasar nikel yang masih mengalami oversupply struktural. Selain itu, kebijakan RKAB juga masih menjadi variabel yang perlu diperhatikan. Menurut Wafi, kasus force majeure yang dialami PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menunjukkan bahwa risiko terkait perizinan perlu menjadi perhatian. Tak sampai situ saja, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie, mencermati sejumlah risiko yang membayangi kinerja emiten-emiten tersebut. Risiko tersebut antara lain perkembangan geopolitik yang berdampak terhadap pasar energi global, kenaikan biaya energi seperti HSFO, diesel, dan batubara, serta potensi pelemahan harga nikel.
Baca Juga: Cek Prospek dan Rekomendasi Saham Petrosea (PTRO) Setelah Raih Lonjakan Kinerja Prospek Saham ANTM, INCO, NCKL dan MBMA
Wafi melihat ANTM memiliki daya tarik karena memiliki diversifikasi bisnis pada emas dan nikel. Selain itu, ANTM juga memiliki free float yang bersih serta mencatatkan net foreign buy sebesar Rp 693,3 miliar pada pekan lalu. Sementara itu, INCO dinilai relatif lebih defensif karena memiliki bisnis yang terintegrasi penuh. Adapun NCKL dan MBMA memiliki eksposur yang lebih besar terhadap siklus nikel yang saat ini masih menghadapi tekanan.
Dari sisi rekomendasi saham, Igor menjagokan saham MBMA untuk buy dengan target harga Rp 860 per saham. Kemudian Adrian merekomendasikan untuk buy saham INCO dengan target harga Rp 6.300 per saham. Adapun Equity Analyst KB Valbury Sekuritas, Ashalia Fitri Yuliana, merekomendasikan buy untuk saham ANTM dengan target harga Rp 4.000 per saham. Tak ketinggalan, Equity Analyst OCBC Sekuritas, Devi Harjoto, merekomendasikan buy untuk saham NCKL dengan target harga Rp 1.220 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News