KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten manufaktur emas batangan dan perhiasan, PT Hartadinata Abadi Tbk (
HRTA) percaya diri dapat mengulangi kisah sukses kinerjanya pada 2026. Optimisme ini mencuat seiring masih tingginya level harga emas dunia, sekalipun dalam beberapa waktu terakhir mengalami perlambatan. Dalam catatan Kontan, HRTA meraih pertumbuhan pendapatan 144,39%
year on year (yoy) menjadi Rp 44,55 triliun pada 2025. Laba bersih HRTA juga melesat 121,29% yoy menjadi Rp 978,49 miliar pada akhir tahun lalu.
Direktur Investor Relations Hartadinata Abadi, Thendra Crisnanda, mengatakan kinerja positif yang dicapai pada 2025 tentu menjadi fondasi yang kuat bagi perusahaan untuk melanjutkan tren pertumbuhan pada 2026. “Namun demikian, kami melihat bahwa dinamika harga emas global yang mulai lebih stabil serta basis kinerja yang sudah tinggi pada tahun sebelumnya akan membuat pertumbuhan ke depan menjadi lebih moderat,” ungkap dia, Kamis (23/4/2026).
Baca Juga: IHSG Ambruk 6,61% Sepekan & Asing Keluar Rp 1,88 Triliun, Ini Sebabnya Untuk 2026, fokus HRTA tidak hanya semata pada pertumbuhan agresif, melainkan juga pertumbuhan yang berkelanjutan dan berkualitas. Emiten ini juga berupaya memperkuat posisi mereknya, yaitu HRTA Gold (dibaca Harta Gold), sebagai simbol kepercayaan dan standar emas yang terjamin di Indonesia. Alhasil, HRTA menargetkan tetap mencetak pertumbuhan yang solid dan berkelanjutan pada pendapatan dan laba bersih dengan basis kinerja yang sudah tinggi pada tahun sebelumnya. Keyakinan ini diperkuat oleh pandangan HRTA bahwa emas tetap relevan sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang masyarakat, bukan sekadar mengikuti fluktuasi jangka pendek. Untuk mempertahankan tren positif tersebut, HRTA akan terus memperkuat strategi yang berfokus pada penguatan ekosistem emas secara end to end, mulai dari pasokan bahan baku, produksi, hingga distribusi. Di samping itu, kerja sama dengan institusi keuangan seperti Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI) menjadi bagian penting bagi HRTA dalam memperluas akses masyarakat terhadap emas yang aman, terjamin, dan terpercaya. Kolaborasi dengan institusi keuangan lainnya juga telah terjalin dengan BCA Syariah, Bank Muamalat, dan BTN Syariah. “Ke depannya, kami akan terus membuka peluang kemitraan strategis dengan berbagai pihak untuk semakin memperkuat ekosistem emas nasional,” tutur Thendra. Sementara itu, dari sisi hulu, HRTA terus memastikan ketersediaan bahan baku melalui mitra terpercaya dengan mengedepankan prinsip kualitas dan transparansi. Secara terpisah, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, mengatakan prospek kinerja HRTA tetap solid pada 2026. Namun, ekspektasi untuk kembali mencapai pertumbuhan tiga digit tampak sulit direalisasikan karena basis kinerja tahun sebelumnya sudah cukup tinggi. Dengan begitu, dia memproyeksikan pertumbuhan kinerja HRTA akan kembali normal dua digit. “Permintaan emas batangan akan tetap kuat sebagai instrumen safe haven, sementara segmen perhiasan akan tumbuh moderat,” kata dia, Jumat (24/4/2026).
Wafi menambahkan, ekspansi kemitraan strategis menjadi kunci bagi kinerja HRTA. Dalam hal ini, upaya HRTA memperdalam kerja sama dengan bullion bank dan institusi keuangan syariah sangat penting untuk mendorong penetrasi pembiayaan emas ritel. Selain itu, mengamankan rantai pasok bahan baku dari produsen emas hulu juga diperlukan untuk mengunci stabilitas margin. Tak hanya itu, inovasi seperti perilisan produk emas batangan gramasi mikro dan eksklusif tetap relevan untuk menjangkau konsumen ritel.
Lebih lanjut, salah satu risiko yang perlu diperhatikan oleh HRTA adalah fluktuasi nilai tukar dan volatilitas harga emas global. Sebab, sekalipun harga emas melambung, namun rupiah terdepresiasi, hal ini akan berdampak pada kenaikan biaya pokok pengadaan bahan baku. Risiko lainnya adalah sensitivitas daya beli masyarakat. Ada kekhawatiran jika harga emas domestik tertahan di level yang terlalu tinggi, maka permintaan dari segmen menengah ke bawah rawan tergerus. Lantas, Wafi merekomendasikan beli saham HRTA dengan target harga di level Rp 3.300 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News