HRUM stop produksi dua tambang di Kaltim



JAKARTA. Tren negatif harga jual batubara kian parah. PT Harum Energy Tbk (HRUM) terpaksa menghentikan sementara kegiatan operasi dua dari empat konsesi pertambangan yang dimilikinya. Kedua konsesi tersebut adalah PT Santan Batubara (SB) dan PT Tambang Batubara Harum (TBH) di Kalimantan Timur (Kaltim).

Veronica Jordan, Kepala Hubungan Investor HRUM bilang, penghentian operasional pertambangan, khususnya pada konsesi SB,  telah dilakukan sejak akhir semester pertama lalu lantaran harga batubara yang terus turun.

"Struktur biaya SB lebih tinggi dibandingkan tambang MSJ (Mahakam Sumber Jaya), sehingga dengan harga pasar batubara saat ini kurang ekonomis (jika tetap) beroperasi," kata Veronica kepada KONTAN, Senin (3/11).


Konsesi Santan Batubara merupakan usaha patungan HRUM dengan anak usaha Grup Indika, yaitu PT Petrosea Tbk (PTRO). Santan Batubara adalah pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) generasi ketiga berlaku hingga 2038.

Jumlah sumberdaya konsesi Santan Batubara berdasarkan Joint Ore Reserve Commitee (JORC) tercatat 140 juta ton. Namun, cadangan batubara terbilang minim, yakni 8 juta ton berkalori 5.400-6.400 kcal/kg.  

Santan Batubara sudah memasuki tahap produksi sejak 2009. Pada tahun lalu, HRUM mendapatkan sokongan produksi batubara dari situ 1,3 juta ton. Namun, hingga paruh pertama tahun ini, kontribusi produksi batubara hanya 400.000 ton.

Status operasional tambang TBH, masih dalam tahap pra-produksi. HRUM sejatinya menargetkan tahun ini berproduksi.  

"TBH saat sini memang sudah siap produksi akan tetapi kurang mendukungnya harga batubara global, maka manajemen memutuskan menunda produksi di tambang TBH," ungkap Veronica tanpa menyebutkan penundaan itu dilakukan hingga kapan.

TBH merupakan pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Sangatta, Kaltim. Total sumberdaya berdasarkan JORC tercatat 39 juta ton, dengan jumlah cadangan 12 juta ton. Batubara TBH berkalori 5.400-5.800 kcal/kg. Penghentian sementara operasional penambangan terutama di Santan Batubara tentu bakal berimbas pada pencapaian target produksi batubara HRUM di tahun ini yang sebelumnya dipatok 8 juta-9,5 juta ton pada tahun ini.

Awalnya, manajemen HRUM mengharapkan 7 juta-8 juta ton dari target tersebut dipenuhi MSJ, sementara sisanya disokong SB. Sehingga dengan dihentikannya operasional Santan Batubara, HRUM praktis hanya mengandalkan sokongan produksi MSJ lantaran satu tambang lainnya, PT Karya Usaha Pertiwi (KUP), masih dalam pengembangan.

Efisiensi

Keputusan penghentian sementara operasional SB dan TBH merupakan klimaks dari strategi efisiensi produksi HRUM. Kuartal I 2014, HRUM  menyatakan telah memangkas produksi bulanan batubara di MSJ dan SB.

Jika semula HRUM menetapkan rencana produksi batubara bulanan MSJ 830.000 ton dan SB 160.000 ton. HRUM kemudian memangkas volume produksi bulanan batubara menjadi 650.000 ton untuk MSJ dan 80.000 ton untuk SB.

Hingga akhir kuartal III 2014, kinerja HRUM memburuk. Laba bersih HRUM anjlok 47,2% year-on-year (yoy) menjadi US$ 19,2  juta. Pendapatan HRUM turun 44,7% yoy jadi US$ 368,9 juta.

Shekhar Jaiswal, Analis RHB Research Institute, memangkas rekomendasi HRUM dari netral menjadi jual di Rp 1.370 dalam 12 bulan ke depan. Konsensus Bloomberg, 6 dari 19 analis merekomendasikan jual, 10 analis merekomendasikan hold. Senin (3/11), harga HRUM melemah 3,16% ke Rp 1.530 per saham.   

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Avanty Nurdiana