HSBC Jual Portofolio Pinjaman Australia US$ 25,3 Miliar ke Blackstone



KONTAN.CO.ID - HSBC Holdings Plc akan menjual portofolio pinjaman rumah dan pinjaman pribadi di Australia senilai A$ 36 miliar atau sekitar US$ 25,3 miliar kepada perusahaan investasi Blackstone.

Langkah ini menjadi bagian dari proses bertahap HSBC untuk keluar dari bisnis perbankan ritel di Australia.

Baca Juga: PSSI Dukung Rencana FIFA Jual Hak Komersial Piala Dunia, Ini Kata Erick Thohir


Mengutip Reuters, Jumat (31/7), transaksi tersebut merupakan bagian dari program restrukturisasi yang dijalankan Chief Executive Officer (CEO) HSBC, Georges Elhedery, guna menyederhanakan operasional, meningkatkan imbal hasil, dan mengalihkan modal ke bisnis dengan prospek pertumbuhan lebih tinggi.

Sejak menjabat sebagai CEO pada September 2024, Elhedery telah memangkas lapisan manajemen, menekan biaya operasional, serta melepas sejumlah bisnis yang dinilai bukan merupakan inti usaha sebagai bagian dari penataan ulang jejak bisnis global HSBC.

Pekan lalu, HSBC juga menyepakati penjualan unit asuransinya di Singapura kepada Allianz SE.

Sebelumnya, pada Mei lalu, HSBC mencapai kesepakatan untuk melepas bisnis perbankan ritel dan pengelolaan kekayaannya di Indonesia kepada Oversea-Chinese Banking Corporation.

Baca Juga: Bursa Asia Melonjak Jumat (31/7), Saham AI Bangkit dan Yen Jadi Sorotan

Sejak krisis keuangan global 2008, HSBC secara bertahap mengurangi ekspansi bisnis konsumennya di berbagai negara dengan tingkat keuntungan rendah, termasuk Prancis, Yunani, dan Kanada.

Dalam transaksi terbaru ini, portofolio pinjaman Australia akan diakuisisi oleh Virgo BidCo, perusahaan yang sepenuhnya dimiliki dana kelolaan afiliasi Blackstone.

Penyelesaian transaksi ditargetkan berlangsung pada semester pertama 2027, setelah memperoleh persetujuan regulator dan otoritas persaingan usaha.

Blackstone menyatakan telah berinvestasi di Australia selama hampir dua dekade dan berencana terus menanamkan modal dalam jumlah besar untuk mendukung pasar perumahan di negara tersebut.

Sementara itu, HSBC menegaskan akan tetap memperkuat bisnis perbankan korporasi dan institusional di Australia dan Selandia Baru, sejalan dengan strategi perusahaan yang berfokus pada segmen tersebut dan meninggalkan bisnis pinjaman konsumen.

Baca Juga: Emas Bertahan Dekati US$ 4.100, Investor Pantau The Fed dan Konflik AS-Iran

Transaksi ini terjadi ketika pasar perumahan Australia menghadapi perlambatan permintaan akibat tingginya biaya pinjaman dan perubahan kebijakan pajak yang menekan aktivitas investor.

Pada Juni lalu, pemberi pinjaman Australia, Westpac, melaporkan pengajuan kredit pemilikan rumah (KPR) turun 10% sejak anggaran pemerintah diumumkan pada Mei.

Sementara itu, National Australia Bank mencatat penurunan aplikasi KPR sebesar 15% pada kuartal II-2026.

HSBC memperkirakan pelepasan portofolio tersebut akan menimbulkan kerugian kurang dari US$ 100 juta hingga semester pertama 2027.

Baca Juga: Trump Klaim Ada Kesepakatan Bersejarah Pelucutan Senjata Hamas, Israel Belum Setuju

Bank juga memperkirakan akan menanggung biaya restrukturisasi sekitar US$ 300 juta terkait penghentian bisnis ritel, serta membukukan kerugian translasi mata uang asing sekitar US$ 300 juta.

Meski demikian, HSBC menegaskan transaksi tersebut tidak akan berdampak terhadap rasio modal inti atau Common Equity Tier 1 (CET1) perusahaan.

TAG: