KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar modal Indonesia dinilai membutuhkan dorongan lebih besar untuk menghadirkan emiten-emiten baru. Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Research, Herald van der Linde, menilai jumlah dan variasi penawaran umum perdana (IPO) di Indonesia masih tertinggal dibanding pasar Asia lainnya. Kondisi ini berpotensi membuat kapitalisasi pasar Indonesia semakin mengecil dalam peta investasi regional. “Di tahun 2025 dan 2026, kita melihat gelombang IPO di Korea, China, Hong Kong, dan India. Itu membuat pasar mereka tumbuh lebih besar dan memberi ruang bagi tabungan domestik untuk masuk ke pasar modal,” ujar Herald dalam paparan HSBC Outlook 2026, Senin (12/1/2026).
HSBC: Minim IPO Baru Bikin Pasar Modal Indonesia Tertinggal di Asia
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar modal Indonesia dinilai membutuhkan dorongan lebih besar untuk menghadirkan emiten-emiten baru. Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Research, Herald van der Linde, menilai jumlah dan variasi penawaran umum perdana (IPO) di Indonesia masih tertinggal dibanding pasar Asia lainnya. Kondisi ini berpotensi membuat kapitalisasi pasar Indonesia semakin mengecil dalam peta investasi regional. “Di tahun 2025 dan 2026, kita melihat gelombang IPO di Korea, China, Hong Kong, dan India. Itu membuat pasar mereka tumbuh lebih besar dan memberi ruang bagi tabungan domestik untuk masuk ke pasar modal,” ujar Herald dalam paparan HSBC Outlook 2026, Senin (12/1/2026).